
Ras Melanesia yang Beragam di Dunia

Kupang (ANTARA Lampung) - Apa pun alasannya, Indonesia perlu berbangga karena negara yang berlambang Garuda Indonesia ini menjadi tuan rumah pergelaran Festival Budaya Melanesia 2015 yang dilaksanakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Enam negara yang tergabung dalam ras Melensia dikumpulkan menjadi satu di Kota Kupang, kota yang dikenal dengan Kota Kasih terkhusus di NTT yang dikenal dengan provinsi penuh dengan toleransi umat beragamanya.
Keenam negara tersebut adalah Papua Nugini, Timor Leste, Fanuatu, New Kaledonia, Salomon Islands, Fiji ditambah satu lagi tuan rumah Indonesia sendiri.
Berbagai kegiatan dilakukan menyonsong acara puncak dan pembukaan festival tersebut.
Mulai dari pemutaran sejumlah film Indonesia yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat-masyarakat ras Melanesia di Indonesia, seperti, Cahaya Dari Timur : Beta Maluku, Atambua 30 derajat celecius, dan Tanah Mama.
Tidak hanya dari Indonesia, film dari negara-negara ras Melanesia juga diputar di Aula El Tari yang menghadirkan kurang lebih ratusan pelajar di Kupang.
Dilaksanakan pergelaran Festival Budaya Melanesia di Indonesia ini mengingat Indonesia sendiri merupakan kumpulan ras Melanesia terbanyak dibandingkan negara-negara ras Melanesia di Pasific Selatan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Nono Adya Supriyatno dalam sebuah diskusi dan bedah buku berjudul Diaspora Melanesia di Nusantara mengatakan bahwa jumlah masyarakat ras Melanesia di Indonesia bisa mencapai 13 juta jiwa yang tersebar lima provinsi Melanesia di Indonesia.
Provinsi-provinsi tersebut adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur, dibandingkan enam negara ras Melanesia lainnya yakni Papua Nugini, Timor Leste, Fanuatu, New Kaledonia, Salomon Islands, Fiji yang jika digabungkan hanya mencapai sembilan juta jiwa.
"Kalau ditotalkan maka jumlahnya bisa mencapai 22 juta jiwa ras Melanesia yang ada di negara-negara yang berbudaya Melanesia ini," kata Nono.
Di samping terbanyak untuk seluruh negara-negara ras Melanesia, NTT sendiri sebagai tuan rumah festival budaya tersebut memiliki jumlah ras terbanyak untuk lima provinsi yang ada di Indonesia.
Bayangkan saja, dari 22 Kabupaten/kota di NTT terdapat 12 kabupaten di NTT yang hampir dihuni oleh masyarakat yang memiliki ras Melanesia yakni Kabupaten Malaka, Belu, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, Flores Timur, Lembata, Sikka, Alor, Ngada, dan Kabupaten Ende.
"Berbagai ragam budaya Melanesia di NTT ini merupakan hal yang sangat potensial untuk dikembangkan, khususnya dalam bidang pariwisata," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Peter Manuk.
Apalagi kegiatan kebudayaan seperti yang telah terjadi merupakan bidang yang sangat membantu meningkatkan potensi pariwisata suatu daerah.
Festival Budaya Melanesia yang pertama digelar di Indonesia ini, menariknya tidak hanya dilakukan dengan pemutaran film-film yang menunjukkan betapa beragamnya budaya Melanesia di dunia tetapi juga dipentaskannya sejumlah tarian-tarian kebudayaan dari berbagai ras Melanesia.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat membuka festival tersebut melihat Festival Budaya Melanesia yang diadakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur sebagai perayaan keberagaman dari negara-negara yang memiliki penduduk Melanesia.
Berbicara keberagaman dalam konteks budaya berarti tidak terbatas pada garis administrasi wilayah namun aspek historis maupun genetis.
"Pertemuan ini menyadarkan berkumpul bukan semata karena masa lalu atau garis darah, tapi impian yang sama tentang dunia yang damai adil dan sejahtera," kata Anies Baswedan.
Anies menambahkan jalur kebudayaan merupakan cara untuk mengusahakan masa depan yang baik pada generasi penerus karena dapat memicu kerja sama di bidang lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial. Sebab generasi muda akan memiliki kesadaran bahwa latar belakang dan garis darah mungkin berbeda namun memiliki kesamaan cita-cita yang dapat membuat mereka bersatu.
Festival yang bertujuan menunjukkan bahwa Melanesia juga merupakan bagian dari budaya dunia ini merupakan cara untuk memperlihatkan tradisi masyarakat lokal demi meningkatkan pemahaman tentang ras tersebut.
Budaya Melanesia, lanjut Anies, hendaknya tidak hanya dirawat dan dilestarikan karena akan menimbulkan kesan hanya membicarakan masa lalu, ia juga perlu dikembangkan.
"Kupang Message"
Festival Budaya Melanesia yang dilaksanakan di NTT kali ini, tidak hanya berupa festival-festival biasa yang pada akhir dari pergelaran tersebut akan berakhir. Namun fastival tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan di antara negara-negara delegasi ras Melanesia yang dinamakan dengan "Kupang Message".
"Kupang Message" merupakan kesepakatan mengenai kemitraan Melanesia, yang isinya menekankan pada pelestarian budaya yang kesepakatannya disetujui oleh negara-negara yang hadir dalam festival tersebut.
"Negara peserta festival ini sepakat untuk terus menjaga, melestarikan kebudayaan Melanesia," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan.
Melestarikan dalam hal ini berarti merawat, mengembangkan dan mempromosikan kebudayaan Melanesia agar tetap terjaga.
Kupang Message juga menyoroti pentingnya merayakan persatuan dan perbedaan di kebudayaan Melanesia. Pesan penting lainnya dari Festival Budaya Melanesia 2015 adalah bahwa keberagaman tidak akan pernah menghalangi kolaborasi budaya, ia harus dipupuk dan dikembangkan dengan menguatkan komitmen dan gagasan melalui komunikasi dan kolaborasi kultural.
Lebih lanjut, peserta sepakat untuk menggunakan kebudayaan sebagai landasan kerja sama negara berbudaya Melanesia.
Pusat Kerja Sama Antarnegara
Lalu apa manfaat dari festival tersebut dilaksanakan di NTT sebagai tuan rumah?.
Menurut antropolog Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Pater Gregor Neonbasu, SvD Festival Budaya Melanesia yang diselenggarakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dapat menjadikan NTT sebagai pusat kerja sama kebudayaan antarnegara-negara di dunia.
Negara-negara yang dimaksud tentunya adalah negara-negara di Pasific Selatan yang tergabung dalam sebuah ras yang dinamakan dengan ras Melanesia.
"Kita di NTT khususnya di Kupang disadarkan akan seperasaan sebagai saudara dan saudari dalam tatanan Melanesia yang memiliki akar budaya yang sama pada Ocenia dan akar bahasa tunggang Asustronesia," ujarnya.
Dengan adanya hubungan itu, katanya, relasi yang terjalin dan kerja sama yang lebih luas akan terjadi dalam lintas sektoral dengan semua negara Pasifik yang di dalamnya ada Melanesia, Mikronesia, dan Polynesia.Ia mengemukakan festival tersebut juga dapat menjadi momentum untuk kembali mencari akar yang ternyata masih satu dan sama, antara NTT (selain Maluku dan Papua) dan negara-negara yang bermukim di Pasifik.
"Saya kira pemerintah NTT memiliki target tersendiri, namun yang saya tahu adalah bahwa dengan adanya festival ini pemerintah pusat juga telah membuka mata bahwa ternyata NTT memiliki nilai sentral dan amat penting secara kultural untuk menjaring kerja sama internasional," katanya.
Ia menilai peran dan fungsi dari negara-negara di wilayah Pasific juga penting di dunia internasional, termasuk secara khusus di Indonesia sendiri.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
