Logo Header Antaranews Lampung

MERS merebak, WNI di Korsel diminta waspada

Sabtu, 6 Juni 2015 20:16 WIB
Image Print
...Namun, hingga kini belum ada "travel warning" (peringatan untuk melakukan perjalanan) dari Pemerintah Korsel untuk warga asing...

Jakarta (ANTARA Lampung) - Virus gangguan pernafasan atau MERS kini sedang menyebar di Korea Selatan, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, ibukota Kosrsel mengimbau warga negara Indonesia di sana untuk mewaspada agar tidak tertular virus tersebut.

"KBRI Seoul mengimbau WNI untuk lebih berhati-hati dan menaati himbauan yang telah disampaikan Kementerian Kesehatan Korsel," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal di Jakarta, Sabtu.

Menurut keterangan KBRI di Seoul, Kementerian Kesehatan Korea Selatan sudah menyampaikan secara resmi kepada media bahwa saat ini Korsel sedang menghadapi kasus virus MERS.

Kementerian Kesehatan Korea Selatan telah menyampaikan beberapa himbauan kepada masyarakat untuk mencegah penularan MERS, antara lain dengan cara menghindari keramaian, menggunakan masker di tempat umum, rajin mencuci tangan, dan segera berobat ke rumah sakit terdekat jika mengalami gejala.

Namun, hingga kini belum ada "travel warning" (peringatan untuk melakukan perjalanan) dari Pemerintah Korsel untuk warga asing. Kedutaan asing lain juga belum mengeluarkan peringatan tersebut.

Satu tim penyelidikan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengunjungi Korea Selatan paling cepat pekan depan untuk secara bersama meneliti penyebaran cepat Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) di negeri tersebut.

Berdasarkan peraturan kesehatan internasional, WHO bisa melakukan penyelidikan di lokasi di satu negara yang menghadapi penyakit menular dan memerlukan kerja sama internasional.

Hingga Jumat (5/6), penularan MERS di Korea Selatan menjadi 41 kasus. Empat kematian telah dilaporkan, sehingga angka kematian menjadi 9,8 persen.

MERS adalah penyakit pernafasan yang disebabkan oleh satu jenis baru virus-korona yang serupa dengan virus yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS).

Sejauh ini belum ada vaksin atau obat untuk penyakit tersebut, dan angka kematian akibat MERS mencapai 40,7 persen.

Penyakit gangguan pernafasan itu pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada 2012. WHO telah melaporkan lebih dari 1.000 kasus MERS di dunia dan lebih dari 400 kematian.(Ant)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026