
Mendag Petakan Hambatan Ekspor

Ada hambatan misalnya di pelabuhan, saya bersama dengan para asosiasi sedang melakukan pemetaan apa saya yang mengakibatkan biaya produksi itu meningkat."
Jakarta, (ANTARA Lampung) - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, bersama dengan para asosiasi terkait tengah melakukan pemetaan hambatan ekspor khususnya terkait produksi yang menyebabkan tingginya biaya produksi untuk produk buatan dalam negeri.
"Ada hambatan misalnya di pelabuhan, saya bersama dengan para asosiasi sedang melakukan pemetaan apa saya yang mengakibatkan biaya produksi itu meningkat," kata Rachmat, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.
Rachmat mengatakan hal tersebut terkait adanya rencana pemerintah untuk memberikan insentif sehubungan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp13.185 per dolar AS.
"Karena di satu sisi ada kenaikan harga, tapi ada hal (biaya produksi) yang harus kita turunkan. Upaya-upaya itulah yang harus kita bahas. Kita duduk bersama-sama untuk membahas, apa solusinya. Bukan sekedar insentif itu saja," kata Rachmat.
Menurut Rachmat, terkait insentif itu pasti akan ada dari pemerintah, namun masih ada hal lain yang menjadi hambatan dan harus diselesaikan.
"Sekarang sudah mulai terlihat hambatan apa saja bagi para pengusaha ekspor itu sendiri. Yang jelas kita membuat kemudahan-kemudahan untuk bisa menekan biaya dari produksi itu sendiri," kata Rachmat.
Ia mengatakan, apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini bukan hanya terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saja, akan tetapi lebih kepada strategi jangka panjang untuk membangun ekspor Indonesia.
"Jadi ini kita lakukan bukan hanya karena rupiah melemah, meski memang kita harus manfaatkan. Namun secara jangka panjang, ekspor yang harus kita bangun adalah kita mempelajari dari awal, bagaimana produksi dari bahan baku sampai siap ekspor. Itu yang sedang kita bahas bersama asosiasi untuk melakukan pemetaan dimana yang menjadi biaya tinggi," kata Rachmat.
Kinerja ekspor pada awal tahun 2015 sendiri, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2015 mencapai 25,64 miliar dolar AS atau menurun 11,89 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor non-migas mencapai 21,67 miliar dolar AS atau turun 9,22 persen.
Salah satu hambatan yang menyebabkan tingginya biaya produksi adalah mahalnya logistik di Indonesia. Saat ini, biaya logistik Indonesia sudah sangat tinggi, dimana mencapai 25 - 30 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Biaya logistik Indonesia merupakan salah satu yang termahal di kawasan ASEAN. Berdasarkan Logistics Performance Index 2014 yang dikeluarkan Bank Dunia, kinerja logistik Indonesia berada di peringkat 53 dunia.
Peringkat Indonesia tersebut jauh di bawah Singapura yang berada di rangking lima dunia. Kemudian Malaysia di peringkat 25, Thailand di 35, dan Vietnam di peringkat 48.
Pewarta : Vicki Febrianto
Editor:
Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
