
Wawan Berharap Diputus Secara Adil

Jakarta (ANTARA LAMPUNG) - Pengusaha Tubagus Chaeri Wardhana Chasan alias Wawan yang juga adik Gubernur Banten nonaktif Ratu Atut Chosiyah, berharap agar putusan majelis hakim terhadapnya akan adil dalam sidang pembacaan putusan yang dijadwalkan berlangsung pada hari ini.
"Harapannya putusannya seadil-adilnya dari majelis hakim. Bisa dilihat sendiri dari fakta persidangan antara keterangan Pak Cornelis (Nalau), Pak Hambit (Bintih) dan Pak Akil (Mochtar) tidak berkaitan," kata Wawan saat tiba di gedung KPK Jakarta, Senin (23/6).
Wawan dituntut 10 tahun penjara ditambah denda Rp250 juta subsider 3 bulan kurungan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi pemberian suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, terkait pengurusan sengketa pemilihan kepada daerah (pilkada) di kabupaten Lebak dan provinsi Banten.
Jaksa Penuntut Umum KPK menyatakan hal-hal yang memberatkan Wawan menurut jaksa adalah perbuatan Wawan tersebut mencederai lembaga MK, menodai demokrasi dan hak-hak rakyat serta dapat menyebabkan terpilihnya kepada daerah yang korup.
Tuntutan pidana itu berasal dari dua dakwaan pasal yaitu dakwaan pertama terkait suap kepada Akil sebesar Rp3 miliar dalam sengketa Pilkada Lebak dari pasal 6 ayat 1 huruf a UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP mengenai memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara.
Sedangkan dakwaan kedua adalah pemberian gratifikasi sebesar Rp7,5 miliar dalam pengurusan sengketa Pilkada Banten dari 13 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 64 ayat 1 KUHP tentang orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya.
Dalam pengurusan sengketa Pilkada Banten yang dimenangkan oleh kakak Wawan, Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno, jaksa menilai bahwa Wawan terbukti memberikan uang Rp7,5 miliar kepada Akil melalui rekening perusahaan milik istri Akil, Ratu Rita Akil yang bernama CV Ratu Samagat.
Meskipun dalam sidang Wawan mengatakan uang Rp7,5 miliar diberikan karena mengikuti saran Akil Mochtar untuk berinvestasi di kebun kelapa sawit dan tambang batu bara di Kalimantan, hal itu menurut jaksa tidak masuk akal karena berlawanan dengan kesaksian Akil Mochtar yang menyatakan tidak pernah ikut serta dalam bisnis investasi CV Ratu Samagat.
Menurut jaksa, dalam sidang Wawan pun mengaku tidak mengetahui hasil perkembangan investasinya di perusahaan tersebut.
Apalagi hubungan usaha dengan CV Ratu Samagat juga terbantahkan dengan berita acara pemeriksaan Ratu Rita Akil yang dibacakan di persidangan yang menyatakan bahwa aktivitas perusahan tersebut hanya berlangsung pada 2010 hingga awal 2011, karena rumah Ratu Rita yang juga menjadi kantor CV Ratu Samagat direnovasi, padahal terdakwa mengirimkan uang dari Oktober-November 2011.
Artinya, jaksa menilai bahwa Wawan selaku ketua jaringan relawan Banten memang berupaya untuk tetap menjadikan pasangan Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno sebagai pasangan terpilih gubernur dan wakil gubernur.
Wawan dianggap khawatir terhadap pasangan Ratu Atut dan Rano Karno, sehingga mengirimkan uang secara bertahap ke CV Ratu Samagat hingga seluruhnya Rp7,5 miliar agar mengamankan pasangan tersebut karena ada tiga pasangan calon lain yang mengajukan keberatan ke MK.
Selain itu, Wawan juga dinilai terbukti memberikan uang Rp3 miliar dalam sengketa Pilkada Lebak kepada Akil.
Uang Rp3 miliar itu diberikan melalui advokat Susi Tur Andayani agar Akil Mochtar bersedia membantu memenangkan Amir Hamzah dan Kasmin dalam perkara terkait Pilkada Lebak.
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
