Logo Header Antaranews Lampung

Elpiji Makin Sulit Didapatkan

Senin, 13 Mei 2013 13:15 WIB
Image Print
WARGA ANTRE ELPIJI (Dokumen ANTARA/Rezza Estily)

Bandarlampung, (Antara Lampung) - Sejumlah pedagang gorengan menyatakan mereka kesulitan mendapatkan elpiji dalam tabung isi 3 kg dan 12 kilogram.

"Sejak tiga minggu terakhir terasa sulitnya mencari isi ulang tabung gas, beberapa kali saya sempat libur karena tidak dapat gas," kata Surya (45) pedagang gorengan di Bandarlampung, Senin.

Menurutnya, selain sulit, harga elpiji juga lebih mahal dari sebelumnya.

"Sekarang elpiji yang ukuran tiga kilogram aja saya dapatkan dari agen harganya mencapai Rp21 ribu sampai Rp22 ribu, sedangkan ukuran 12 kilogram sekarang mencapai Rp94 ribu sampai Rp95 ribu," kata dia.

Surya menyayangkan, pihak agen seperti menyembunyikan elpiji dari pasaran.

"Kalau memang kosong kenapa itu tabung elpiji di pajang, semestinya jangan begitulah," katanya.

Hal sama disampaikan ibu rumah tangga Siti (56) Warga Kecamatan Enggal, Bandarlampung.

Menurutnya, harga elpiji ukuran tiga kilogram selain sulit didapat, harganya pun melonjak tinggi mencapai Rp28 ribu sampai Rp32 ribu.

"Bingung kenapa sampai semahal itu harganya dan pasokan juga tidak ada," katanya.

Menurutnya, jika pemerintah hendak menaikan harga gas, sebaiknya tetap menjaga pasokan tetap lancar.

"Kalau BBM mau naik, elpiji mau naik, naik sajalah, tidak perlu dibatasi seperti ini, berapapun harganya rakyat ini pasti akan bayar karena itu adalah kebutuhan," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan pantauan disejumlah SPBU di Bandarlampung, seperti SPBU di Pahoman, Jl Kartini dan di Kedaton sejak tiga minggu terakhir tidak lagi menjual elpiji.

Petugas mengaku sulit mendapatkan elpiji dan mereka sendiri tidak mengetahui penyebab kesulitan pasokan elpiji itu.

Terkait kelangkaan pasokan elpiji di Lampung, Sales Regional Lampung Valino tidak dapat dihubungi.

Namun PT Pertamina di wilayah Sumatera Bagian Selatan telah menegaskan, akan menindak secara tegas agen atau lembaga penyalur yang terbukti menjadi bagian dan terlibat dalam penyelewengan distribusi dan penjualan gas khususnya dalam tabung ukuran 3 kg.

Menurut Asisten Manager External Relation PT Pertamina Fuel Retail Marketing (FRM) Regional II Sumbagsel Roberth MV Dumatubun saat dihubungi dari Bandarlampung, Minggu (12/5), berkaitan kelangkaan LPG dalam tabung 3 kg di Lampung sehingga harganya melonjak menjadi hingga Rp35.000 per tabung, diduga telah terjadi penyalahgunaan penyaluran maupun penggunaannya.

"Kami mengajak masyarakat untuk turut mengawasi pendistribusian LPG itu agar tepat sasaran dan tidak mencarinya di pengecer atau menjadi pengecer serta melaporkan apabila menemukan adanya penyelewengan kepada pihak kepolisian," ujar Roberth pula.

Dia menjelaskan, kuota gas untuk Provinsi Lampung memang berkurang 1,2 persen dari kuota tahun 2012, sehingga dirasakan tidak mencukupi dengan permintaan di Lampung yang tentunya akan semakin naik dari tahun ke tahun.

"Saat ini Pertamina sudah menyalurkan lebih dari rata-rata normal untuk LPG 3 kg di Lampung," kata dia lagi.

Roberth menyebutkan, penyaluran LPG 3 kg di wilayah Provinsi Lampung telah melebihi dari penyaluran normal berdasarkan kuota LPG 3 kg dari pemerintah.

Penyaluran LPG 3 kg di Lampung dalam metrik ton (MT) realisasinya sampai dengan April 2013 adalah 31.991 MT dari kuota seharusnya sampai dengan April itu adalah 29.310 MT.

Kuota LPG 3 kg untuk Lampung tahun 2013 adalah 87.931 MT, dan secara persentase sampai dengan April ini telah disalurkan sebesar 109,1 persen.

Roberth menjelaskan bahwa untuk evaluasi di lapangan, menunjukkan masih terdapat LPG yang salah sasaran dan digunakan pihak hotel, restoran, dan kafe serta pengecer LPG yang menentukan harga seenaknya.



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026