Epidemiolog sebut Indonesia belum lampaui masa kritis
Rabu, 9 Maret 2022 20:48 WIB
Ilustrasi - Virus Corona. (ANTARA/HO-Sutterstock).
Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan pandemi COVID-19 di Indonesia belum melampaui situasi kritis di tengah ancaman sejumlah subvarian Omicron yang mengintai di dalam negeri.
"Pesan pentingnya adalah setiap mutasi itu melahirkan satu bukti bahwa kita memberi peluang pada virus itu untuk berkembang. Indonesia belum melampaui masa kritis," kata Dicky Budiman yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu malam.
Ia mengatakan Omicron bukanlah varian terakhir di muka bumi dan setiap Varian of Concern (VoI) harus diwaspadai sebab terus bermutasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengidentifikasi subvarian Omicron di antaranya BA.1, BA.2, BA.3 dan BA.11.
Menurut Dicky Omicron berpeluang melahirkan subvarian sebab memiliki karakteristik yang mampu mengelabui vaksin serta dengan mudah bermutasi pada manusia yang belum memiliki imunitas tinggi.
"Kelebihan dari Omicron ini adalah dia bisa menginfeksi orang yang belum divaksinasi dan sudah divaksinasi," katanya.
Sehingga tanpa kombinasi yang kuat antara vaksinasi, 3T, dan 5M serta PPKM, kata Dicky, bisa membuat varian Omicron terus bermutasi di Indonesia.
Menurut Dicky dari subvarian Omicron yang terdeteksi, subvarian BA.2 adalah yang perlu diwaspadai karena memiliki kemampuan 27 kali lebih berpeluang menghindar dari vaksin bila dibandingkan subvarian lain. "BA.2, kemampuan menularnya 30 persen lebih kuat dibandingkan BA.1," katanya.
Selain itu subvarian BA.2 memiliki kemampuan empat kali lipat menular lebih cepat dibandingkan varian Delta dan bila dibandingkan yang varian original asal Wuhan mencapai 20 kali lipat lebih menginfeksi.
"Selain itu BA.2 juga punya kelebihan dalam memiliki jumlah viral load dibandingkan BA.1. Jumlah virusnya lebih banyak daripada BA.1 itu bisa 10 kali lebih banyak," katanya.
Dicky mengatakan varian BA.3 hingga saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena kemampuan menginfeksi lebih rendah dari BA.1 dan BA.2.
Dikonfirmasi secara terpisah Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi melaporkan subvarian Omicron di Indonesia masih didominasi BA.1 yang berjumlah sekitar 5.300 kasus.
"Hingga Selasa (8/3), terdapat 478 mutasi Omicron di Indonesia jenis BA.2, BA.1 sebanyak 5.300 kasus dan B.11 sebanyak 1.883 kasus," katanya.
Nadia mengatakan hingga saat ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) belum mendeteksi subvarian Omicron BA.3 di Indonesia.
"Pesan pentingnya adalah setiap mutasi itu melahirkan satu bukti bahwa kita memberi peluang pada virus itu untuk berkembang. Indonesia belum melampaui masa kritis," kata Dicky Budiman yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu malam.
Ia mengatakan Omicron bukanlah varian terakhir di muka bumi dan setiap Varian of Concern (VoI) harus diwaspadai sebab terus bermutasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengidentifikasi subvarian Omicron di antaranya BA.1, BA.2, BA.3 dan BA.11.
Menurut Dicky Omicron berpeluang melahirkan subvarian sebab memiliki karakteristik yang mampu mengelabui vaksin serta dengan mudah bermutasi pada manusia yang belum memiliki imunitas tinggi.
"Kelebihan dari Omicron ini adalah dia bisa menginfeksi orang yang belum divaksinasi dan sudah divaksinasi," katanya.
Sehingga tanpa kombinasi yang kuat antara vaksinasi, 3T, dan 5M serta PPKM, kata Dicky, bisa membuat varian Omicron terus bermutasi di Indonesia.
Menurut Dicky dari subvarian Omicron yang terdeteksi, subvarian BA.2 adalah yang perlu diwaspadai karena memiliki kemampuan 27 kali lebih berpeluang menghindar dari vaksin bila dibandingkan subvarian lain. "BA.2, kemampuan menularnya 30 persen lebih kuat dibandingkan BA.1," katanya.
Selain itu subvarian BA.2 memiliki kemampuan empat kali lipat menular lebih cepat dibandingkan varian Delta dan bila dibandingkan yang varian original asal Wuhan mencapai 20 kali lipat lebih menginfeksi.
"Selain itu BA.2 juga punya kelebihan dalam memiliki jumlah viral load dibandingkan BA.1. Jumlah virusnya lebih banyak daripada BA.1 itu bisa 10 kali lebih banyak," katanya.
Dicky mengatakan varian BA.3 hingga saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena kemampuan menginfeksi lebih rendah dari BA.1 dan BA.2.
Dikonfirmasi secara terpisah Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi melaporkan subvarian Omicron di Indonesia masih didominasi BA.1 yang berjumlah sekitar 5.300 kasus.
"Hingga Selasa (8/3), terdapat 478 mutasi Omicron di Indonesia jenis BA.2, BA.1 sebanyak 5.300 kasus dan B.11 sebanyak 1.883 kasus," katanya.
Nadia mengatakan hingga saat ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) belum mendeteksi subvarian Omicron BA.3 di Indonesia.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkes: Kasus COVID-19 meningkat di 21 provinsi, termasuk Lampung
14 December 2023 22:29 WIB, 2023
Kemenkes belum buka opsi wajib bermasker sikapi kemunculan virus Pirola
12 September 2023 11:06 WIB, 2023
Menkes: Peningkatan kasus COVID-19 Indonesia belum capai puncak, Jakarta level 3 PPKM
08 November 2022 17:45 WIB, 2022
Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet catat 19 pasien Omicron subvarian BA4 dan BA5
12 July 2022 13:50 WIB, 2022
Puncak gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia diprediksi pada Juli 2022
26 June 2022 17:34 WIB, 2022