PANDI berencana dirikan Museum Aksara Nusantara
Rabu, 28 April 2021 13:03 WIB
Ilustrasi: Digitalisasi aksara Jawa. (ANTARA/HO)
Jakarta (ANTARA) - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) berencana mendirikan Museum Aksara Nusantara sebagai sumber informasi mengenai perkembangan aksara-aksara kuno Indonesia, termasuk artefak-artefak.
Untuk memperkenalkan makna yang terkandung dalam sebuah aksara, maka PANDI dan seluruh teman-teman pegiat aksara Nusantara sedang merancang Museum Aksara Nusantara, kata Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerja sama, dan Marketing PANDI, Heru Nugroho.
"Karena itu, kami mengundang Prof. Manu J Widyaseputra dan pakar-pakar teknologi informasi supaya memberi wejangan apa yang sebaiknya kami lakukan," jelas Heru dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu.
Heru juga mengatakan bahwa PANDI, melalui kegiatan bertajuk Merajut Indonesia, tengah mengembangkan digitalisasi aksara Nusantara. Namun, kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan aksara Nusantara secara instan, sebab digitalisasi hanya mengenal algoritma dan tidak mengenal kharisma apalagi filosofi.
“Kami berharap, kegiatan Merajut Indonesia akan memberi ruang bagi masyarakat untuk mendalami makna dari setiap aksara, menelusuri ragam keadaban yang menjadi jati diri bangsa kita,” kata Heru menambahkan.
Sementara Filolog Romo Manu mengatakan bahwa banyak orang Indonesia tidak tahu peradabannya sendiri. Dalam politik bahasa di Indonesia, bahasa daerah hanya untuk memperkaya bahasa Indonesia.
Sementara itu, bahasa Indonesia yang digunakan saat ini bukan berasal dari bahasa Melayu tingkat tinggi yang dicontohkan oleh para pujangga, melainkan bahasa pasaran.
Romo Manu mencontohkan, naskah-naskah yang ditulis menggunakan Jawa Kuno mengandung banyak sekali informasi, termasuk bidang-bidang teknologi.
"Kalau kita tidak paham bahasa Sanskerta, tidak paham bahasa Jawa Kuno, jangan harap menemukan makna. Data (tentang naskah) banyak sekali, tapi perhatiannya yang kurang," katanya.
Pakar teknologi informasi Prof. Eko Indrajit mengatakan bahwa aksara atau bahasa kuno, seperti Sansekerta, bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis, karena Bahasa ini kaya akan gramatikal sehingga bisa menjadi jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer).
Untuk memperkenalkan makna yang terkandung dalam sebuah aksara, maka PANDI dan seluruh teman-teman pegiat aksara Nusantara sedang merancang Museum Aksara Nusantara, kata Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerja sama, dan Marketing PANDI, Heru Nugroho.
"Karena itu, kami mengundang Prof. Manu J Widyaseputra dan pakar-pakar teknologi informasi supaya memberi wejangan apa yang sebaiknya kami lakukan," jelas Heru dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu.
Heru juga mengatakan bahwa PANDI, melalui kegiatan bertajuk Merajut Indonesia, tengah mengembangkan digitalisasi aksara Nusantara. Namun, kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan aksara Nusantara secara instan, sebab digitalisasi hanya mengenal algoritma dan tidak mengenal kharisma apalagi filosofi.
“Kami berharap, kegiatan Merajut Indonesia akan memberi ruang bagi masyarakat untuk mendalami makna dari setiap aksara, menelusuri ragam keadaban yang menjadi jati diri bangsa kita,” kata Heru menambahkan.
Sementara Filolog Romo Manu mengatakan bahwa banyak orang Indonesia tidak tahu peradabannya sendiri. Dalam politik bahasa di Indonesia, bahasa daerah hanya untuk memperkaya bahasa Indonesia.
Sementara itu, bahasa Indonesia yang digunakan saat ini bukan berasal dari bahasa Melayu tingkat tinggi yang dicontohkan oleh para pujangga, melainkan bahasa pasaran.
Romo Manu mencontohkan, naskah-naskah yang ditulis menggunakan Jawa Kuno mengandung banyak sekali informasi, termasuk bidang-bidang teknologi.
"Kalau kita tidak paham bahasa Sanskerta, tidak paham bahasa Jawa Kuno, jangan harap menemukan makna. Data (tentang naskah) banyak sekali, tapi perhatiannya yang kurang," katanya.
Pakar teknologi informasi Prof. Eko Indrajit mengatakan bahwa aksara atau bahasa kuno, seperti Sansekerta, bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis, karena Bahasa ini kaya akan gramatikal sehingga bisa menjadi jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer).
Pewarta : Suryanto
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Manager Communication, Relations Regional Jawa sebut pers mitra strategis Pertamina
24 September 2025 19:37 WIB
Mahasiswa Unila bangun semangat membaca lewat "Jembatan Aksara" di Desa Salenrang
16 September 2025 16:03 WIB
Aksara jawa hingga batik inspirasi desain helm pebalap MotoGP di Mandalika
17 March 2022 19:57 WIB, 2022
Dompet Dhuafa Sulsel menjaga warisan leluhur lewat Program Aksara Lontara
31 January 2022 6:40 WIB, 2022
Setya Amrih Prasaja, pelopor digitalisasi aksara Jawa di Yogyakarta
30 December 2020 12:56 WIB, 2020
Wagub Lampung minta ASN donasikan buku bekas ke berbagai perpustakaan desa
09 September 2019 21:34 WIB, 2019
Terpopuler - Sekolah/Perguruan Tinggi
Lihat Juga
Disdik Lampung tingkatkan kemampuan akademik lalui pembiasaan soal berbasis HOTS
14 January 2026 20:21 WIB
Sekolah desa sebagai pusat peradaban, Dosen UM Kalianda lakukan pengabdian di Lampung Selatan
12 January 2026 14:50 WIB
Program FKUI kampus pertama peraih akreditasi internasional dari IAAHEH-INT
21 December 2025 10:11 WIB