Asa pegiat literasi Lampung Timur di Hari Aksara

id Hari aksara, literasi, antaralampung

Asa pegiat literasi Lampung Timur di Hari Aksara

Peringatan Hari Aksara Internasional di Lampung Timur, Minggu (8/9) foto Antaralampung/Muklasin

Kami bergerak dengan apa, dan kami punya apa, seharusnya pemerintah melakukan lebih dari apa yang kami lakukan karena pemerintah punya anggaran, dan punya efek yang lebih besar, harapnya
Lampung Timur (ANTARA) - Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) menyatakan angka bebas buta aksara di Tanah Air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga masih belum mengenal huruf dan mampu membaca.

Jumlah buta aksara di Tanah Air terjadi pada usia 15-59 tahun yang tersebar di 11 provinsi. Jumlah terbanyak berada Provinsi Papua.

Hari Aksara tahun ini jatuh pada Minggu, 8 September. Hari aksara  menjadi momentum untuk saling mengingatkan semua pihak bahwa setiap orang harus bisa membaca sehingga perlu dilakukan upaya bersama oleh semua pihak agar jumlah orang yang buta aksara terus berkurang hingga 0 persen.

Di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung, Hari Aksara Internasional  dirayakan oleh sejumlah pegiat literasi. Pegiat itu di antaranya "mbah buyut"/Mufrodi, pegiat Es Krim Pustaka, Muhamad Rohman, pegiat Cendol Lele Pustaka, Cicih Jayanti pegiat Pendopo Pustaka.

Lainnya yang ikut memperingati, seperti suporter Arema FC, Aremania, BEM UNU Lampung, WCS IP (NGO lingkungan yang aktif terhadap perlindungan satwa di Taman Nasional Way Kambas) serta mengikutkan siswa TK berikut gurunya.

Peringatan Hari Aksara Internasional di Lampung Timur mengusung tema "Gerakan membaca untuk menghapus buta aksara".

Peringatan hari aksara itu dengan membuat kegiatan untuk siswa TK dari membaca buku bersama, lomba mewarnai, bercerita dan bermain tebak-tebakan.

Melalui peringatan tersebut diharapkan akan banyak masyarakat dan anak-anak yang  gemar membaca buku.

Apa asa dan makna hari aksara buat pegiat literasi?

Pada acara, pegiat Es Krim Pustaka Mbah Buyut berharap  Indonesia cepat bebas dari orang yang buta aksara.

Mbah Buyut menyatakan apa yang dilakukannya selama ini berkeliling berjualan es krim sambil membawakan anak-anak buku bacaan bertujuan memotivasi generasi muda agar giat belajar.

Muhamad Rohman, pegiat Cendol Pustaka mengatakan, Hari Aksara buatnya adalah momen yang tepat mengingatkan masyarakat bahwasanya pendidikan hal yang penting dan kebiasaan membaca buku musti digelorakan.

"Manfaat membaca sangat penting, kita bisa tahu banyak hal, kalau masyarakat tidak bisa membaca akan berpengaruh pada ekonomi mereka, ekonomi mereka akan kesulitan," ujar Muhamad Rohman.

Menurut Rohman, hari aksara harus menjadi perhatian pemerintah.

Pemerintah, menurut dia, semestinya melakukan tindakan lebih dari apa yang dilakukan oleh para pegiat literasi dalam menumbuhkan minat baca di tengah masyarakat.

"Kami bergerak dengan apa, dan kami punya apa, seharusnya pemerintah melakukan lebih dari apa yang kami lakukan karena pemerintah punya anggaran, dan punya efek yang lebih besar," harapnya.

Pegiat Pendoko Pustaka, Cicih Jayanti menambahkan, pemerintah diharapkan memberi perhatian kepada para penggiat literasi, misalnya dengan memberikan dukungan tambahan buku, mengingat koleksi buku yang dimiliki terbatas, sementara minat baca masyarakat meningkat.

Pemerintah pun disarankan membuat program literasi bukan hanya untuk anak-anak saja namun buat orang tua pula agar mereka gemar membaca dan yang buta huruf bisa membaca.

"Kalau bisa pemerintah buat program untuk para lansia, dan orang tua yang tidak bisa membaca, karena mereka juga butuh bisa membaca," ujarnya.

Ahmad Fauzi, dari BEM UNU Lampung berharap pemerintah, masyarakat dan mahasiswa mendukung setiap kegiatan pegiat literasi dalam rangka menghapus buta aksara.
Pewarta :
Editor : Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar