Inilah alasan di balik candu narkoba
Sabtu, 27 Juni 2020 6:22 WIB
Ilustrasi - Seorang pecandu narkoba terkapar karena kecanduan. ANTARA/Shutterstock/am.
Jakarta (ANTARA) - Pemakaian dan perdagangan narkotika serta risiko bagi pengguna bisa meningkat selama pandemi virus corona, kata Kantor Perserikatan BangsaBangsa Urusan Narkoba dan Kejahatan ( United Nations Office on Drugs and Crime/UNODC), Kamis (25/6).
Dikutip dari AFP, UNODC mengatakan dalam World Drug Report 2020 bahwa virus ini bisa menyebabkan peningkatan pemakaian narkoba, di mana ada pergeseran ke arah suntikan dan produk yang lebih murah, keduanya bisa berakibat lebih besar bagi pengguna.
Psikiater Elisa Tandiono dari RS Pantai Indah Kapuk menuturkan, narkotika dan obat-obat terlarang bisa jadi jalan pintas bagi individu yang merasa stres selama pandemi COVID-19.
Bukan cuma pengguna yang lebih rentan terjerat kembali, pandemi pun bisa membuat pengguna baru terjebak dalam candu narkoba.
Mengapa narkoba bisa menyebabkan kecanduan?
Efek yang dirasakan ketika mengonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang adalah sensasi rasa senang dalam waktu singkat. Saat pandemi, efek ini menghilangkan rasa cemas dan stres meski cuma sesaat.
Psikolog anak dan keluarga Samanta Ananta beberapa waktu lalu menjelaskan, rasa senang dari mengonsumsi narkoba berhubungan dengan hormon dopamin yang mengatur rasa bahagia dan memberi efek menyenangkan serta santai di otak.
Narkoba dapat merangsang otak mengeluarkan hormon dopamin dalam jumlah banyak. Rasa senang itu muncul secara instan, bisa dalam hitungan menit.
Dopamin bisa ditingkatkan secara alami, namun butuh upaya yang lebih keras dan memakan waktu, misalnya olahraga teratur, mendengarkan musik juga tidur cukup.
Psikolog klinis Hersa Aranti menambahkan, narkoba bersifat candu karena pengguna memang merasa ingin terus-menerus mengonsumsinya. Sebab, muncul efek withdrawal yang membuat pengguna merasa sangat sakit ketika tidak mengonsumsinya.
Narkoba punya banyak dampak buruk, di antaranya gangguan mental, depresi, kecemasan terus menerus hingga kematian.
Elisa menuturkan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa cemas dan stres tanpa tergoda menggunakan jalan pintas yang berbahaya bagi tubuh.
Ia menyarankan untuk selalu berpikir positif dan fokus melakukan hal yang bisa dikontrol serta menjaga tubuh tetap fit agar kesehatan mental terjaga.
Jika gangguan kecemasan terasa berlebihan, sebaiknya segerakan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan.
Dikutip dari AFP, UNODC mengatakan dalam World Drug Report 2020 bahwa virus ini bisa menyebabkan peningkatan pemakaian narkoba, di mana ada pergeseran ke arah suntikan dan produk yang lebih murah, keduanya bisa berakibat lebih besar bagi pengguna.
Psikiater Elisa Tandiono dari RS Pantai Indah Kapuk menuturkan, narkotika dan obat-obat terlarang bisa jadi jalan pintas bagi individu yang merasa stres selama pandemi COVID-19.
Bukan cuma pengguna yang lebih rentan terjerat kembali, pandemi pun bisa membuat pengguna baru terjebak dalam candu narkoba.
Mengapa narkoba bisa menyebabkan kecanduan?
Efek yang dirasakan ketika mengonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang adalah sensasi rasa senang dalam waktu singkat. Saat pandemi, efek ini menghilangkan rasa cemas dan stres meski cuma sesaat.
Psikolog anak dan keluarga Samanta Ananta beberapa waktu lalu menjelaskan, rasa senang dari mengonsumsi narkoba berhubungan dengan hormon dopamin yang mengatur rasa bahagia dan memberi efek menyenangkan serta santai di otak.
Narkoba dapat merangsang otak mengeluarkan hormon dopamin dalam jumlah banyak. Rasa senang itu muncul secara instan, bisa dalam hitungan menit.
Dopamin bisa ditingkatkan secara alami, namun butuh upaya yang lebih keras dan memakan waktu, misalnya olahraga teratur, mendengarkan musik juga tidur cukup.
Psikolog klinis Hersa Aranti menambahkan, narkoba bersifat candu karena pengguna memang merasa ingin terus-menerus mengonsumsinya. Sebab, muncul efek withdrawal yang membuat pengguna merasa sangat sakit ketika tidak mengonsumsinya.
Narkoba punya banyak dampak buruk, di antaranya gangguan mental, depresi, kecemasan terus menerus hingga kematian.
Elisa menuturkan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa cemas dan stres tanpa tergoda menggunakan jalan pintas yang berbahaya bagi tubuh.
Ia menyarankan untuk selalu berpikir positif dan fokus melakukan hal yang bisa dikontrol serta menjaga tubuh tetap fit agar kesehatan mental terjaga.
Jika gangguan kecemasan terasa berlebihan, sebaiknya segerakan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan.
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sering nonton porno saat kecil, akibatkan mimpi buruk Billie Eilish
15 December 2021 13:38 WIB, 2021
Begini tanda dan gejala kecanduan internet secara fisik maupun emosional
24 October 2021 16:06 WIB, 2021
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Pelukis Lampung pun diundang Taman Budaya Kalsel pameran lukis bertaraf nasional
05 August 2022 9:32 WIB, 2022
Badan Pengelola Keuangan Haji dan Dompet Dhuafa salurkan ratusan ekor hewan kurban
17 July 2022 21:29 WIB, 2022