Lampung Timur (ANTARA) - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi berkomitmen untuk melindungi satwa dari kepunahan dengan menjadikan daerahnya sebagai benteng terakhir melestarikan, melindungi, dan mengembangbiakkan badak sumatera.

"Lampung adalah benteng terakhir dalam melestarikan dan mengembangbiakkan satwa liar, termasuk badak sumatera, dan kita sudah membuktikannya dengan mampu mengembangbiakkannya," ujar Arinal, pada peringatan Hari Badak Sedunia dan peresmian Suaka Rhino Sumatera (SRS) II, di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Rabu.

Karena itu, lanjut dia, sudah menjadi kewajiban agar Lampung dapat mengembangbiakkan dan melindungi badak sumatera.

"Saya berkomitmen untuk menjadikan Lampung sebagai benteng terakhir dalam melestarikan, melindungi, dan mengembangbiakkan badak sumatera," ujarnya.

Dalam peresmian Suaka Rhino, Gubernur Arinal melakukan perluasan SRS II menjadi 150 ha yang ditandai dengan penandatanganan prasasti.

Gubernur juga meninjau dan melihat langsung badak bernama "Harapan" di kandang karantina di pintu koridor penghubung antara SRS I dan SRS II.

Gubernur menjelaskan populasi badak dalam kurun waktu tertentu terus mengalami penurunan. Namun, hal itu dapat ditingkatkan dengan memfungsikan hutan dengan baik.


 


Tinggal 80 ekor

Saat ini, badak sumatera hanya berkisar 80 ekor. Salah satu langkah mengembangbiakkannya dengan menjaga dan mengembalikan fungsi hutan dengan baik.

"Kalau hutan kita fungsikan dengan baik, maka kita akan mampu mengembangbiakkan satwa-satwa yang ada, termasuk mengembangbiakkan badak sumatera," katanya.

Dalam menjaga dan melestarikan hutan serta melindungi para satwa yang terancam punah, seperti badak sumatera, Gubernur Arinal, mengajak seluruh Forkopimda Provinsi Lampung dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk membuat nota kesepahaman (MoU) terkait menjaga dan melestarikan hutan dan perlindungan satwa.

"Kita harus menjaga dan melestarikan hutan dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Oknum itu harus kita habisi, lakukan penegakan dan tindakan hukum bagi yang melanggarnya," ujar Gubernur.

Gubernur juga mengajak Forkopimda Provinsi Lampung dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan kerjasama terkait pelestarian hutan guna melindungi satwa liar, mengingat itu adalah harta karun bangsa Indonesia.

"Pada saat melakukan kunjungan di kandang badak Harapan tadi, badak tersebut langsung mendatangi saya dan menundukkan kepala-nya. Itu bukan sebagai bentuk hormat, melainkan tanda agar kita menyelamatkan populasi badak yang terancam punah. Untuk itu, nota kesepahaman ini akan segera dilakukan pada Desember mendatang guna melindungi satwa, termasuk badak sumatera," kata Arinal.


 

Wisata alam

Gubernur juga menuturkan Lampung akan menjadi destinasi pariwisata nasional. Untuk itu, harus dibangun ekoturisme atau pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam. Hal ini mengingat Lampung memiliki badak dan tak semua provinsi dan dunia memilikinya.

Sementara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman hayati (KKH) Indra Exploitasia yang mewakili Dirjen Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menuturkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mempunyai tugas dalam menyelamatkan populasi badak sumatera, serta seluruh satwa lainnya, terutama yang terancam punah.

"SRS merupakan benteng terakhir habitat satwa di kawasan dataran rendah. Untuk itu, mohon dukungan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi agar satwa ini mampu hidup berdampingan dengan masyarakat," katanya.

Indra mengapresiasi komitmen Gubernur Arinal menjaga dan melestarikan hutan, serta melindungi satwa, terutama yang terancam punah, salah satunya melalui sota kesepahaman yang akan segera dilakukan.

"Kami siap melakukan MoU terkait menjaga dan melestarikan hutan, serta melindungi satwa. Dan terimakasih kepada Gubernur yang sangat peduli dan berkomitmen kepada perlindungan Badak Sumatera," katanya.




Lindungi dari kepunahan

Pada kesempatan yang sama, Chairman International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) The Asian Rhino Specialist Group Bibhab Tumar Talukdar menjelaskan bahwa IUCN merupakan perhimpunan untuk konservasi alam bersama dengan beberapa lembaga konservasi dunia untuk membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam menyelamatkan badak sumatera dari kepunahan.

"Populasi badak sumatera saat ini dalam keadaan kritis, yaitu tak lebih dari 80 ekor. Dan Indonesia sebagai Negara harus melakukan upaya dalam melindungi spesies ini dari kepunahan, khususnya Lampung untuk mempimpin dalam penyelamatan Badak Sumatera ini," katanya.

Bibhab mengapresiasi dan menilai positif kehadiran Gubernur Arinal, yang menunjukkan kepedulian terhadap badak sumatera.

Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Ramono menjelaskan bahwa kondisi badak sumatera saat ini terancam punah. Kepunahan ini dikarenakan habitat yang sudah habis karena digunakan manusia, serta adanya perburuan liar.

"Lampung merupakan benteng terakhir dalam melestarikan badak sumatera. SRS ini merupakan konservasi pembiakan (breeding), bukan hanya penangkaran biasa. Maka dari itu, peresmian SRS II diharapkan mampu melestarikan dan mengembangbiakkan badak sumatera," ujarnya.

Gubernur Arinal pada kesempatana itu juga menyerahkan bibit pakan badak sumatera kepada masyarakat sekitar. Dengan bibit ini hasilnya nanti akan dibeli pengelola SRS guna menambah perekonomian bagi masyarakat.

Adapun jenis bibit yang diberikan merupakan makanan kesukaan badak sumatera, antara lain jenis pulai, gaharu, dan cengkih.

Badak sumatra, juga dikenal sebagai badak berambut atau badak Asia bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis), merupakan genus Dicerorhinus. Spesies ini merupakan jenis badak terkecil, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar.*
 

Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024