Tanaman kayu manis di Ternate terancam
Minggu, 25 Agustus 2019 15:54 WIB
Kayu manis
Ternate (ANTARA) - Tanaman kayu manis di Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), yang sejak zaman dulu sudah terkenal kekhasan aromanya, terancam tinggal kenangan karena petani setempat tidak berminat lagi membudidayakannya.
Salah seorang petani di Kota Ternate Hamdal di Ternate, Minggu, mengatakan para petani di daerah ini tidak berminat lagi membudidayakan kayu manis karena nilai ekonominya tidak seberapa jika dibandingkan dengan menanam cengkih atau pala.
Tanaman kayu manis baru bisa diproduksi berusia sekitar 10 tahun dan itu pun yang bisa menghasilkan uang hanya kulitnya, sedangkan kayunya tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.
Menurut dia, satu pohon kayu manis hanya menghasilkan Rp1 juta-an jauh lebih kecil jika dibandingkan hasil cengkih atau pala yang dalam satu pohon bisa menghasilkan Rp5 juta-an dan produksinya berkesinambungan.
Petani sekarang hanya menanam kayu manis sebagai batas kebun. Itu pun jika keberadaannya menghalangi pertumbuhan cengkih dan pala biasanya ditebang karena bisa memengaruhi produktivitas kedua jenis tanaman rempah itu.
Salah seorang pelaku usaha kuliner tradisional di Ternate, yang bahan baku usahanya memanfaatkan kayu manis, Idrus mengakui belakangan ini semakin sulit untuk mendapatkan kayu manis produksi dari Ternate, sehingga mereka terpaksa mendatangkan dari wilayah Halmahera.
Para pelaku usaha kuliner tradisional yang bahan bakunya menggunakan kayu manis, seperti kopi rempah dan aneka jenis kue lebih suka memanfaatkan kayu manis dari Ternate karena aromanya lebih harum jika dibandingkan kayu manis dari daerah lainnya di Malut.
Ia menyarankan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate untuk memberikan insentif kepada petani di daerah ini agar mau kembali membudidayakan kayu manis secara besar-besaran atau menjadikannya sebagai tanaman penghijauan di kawasan hutan kritis yang dibiayai pemerintah.
Kayu manis selain dimanfaatkan untuk bahan baku makanan, juga dipakai untuk bahan pengobatan herbal seperti untuk penyakit diabetes, gangguan pencernaan, dan menurunkan darah tinggi.
Salah seorang petani di Kota Ternate Hamdal di Ternate, Minggu, mengatakan para petani di daerah ini tidak berminat lagi membudidayakan kayu manis karena nilai ekonominya tidak seberapa jika dibandingkan dengan menanam cengkih atau pala.
Tanaman kayu manis baru bisa diproduksi berusia sekitar 10 tahun dan itu pun yang bisa menghasilkan uang hanya kulitnya, sedangkan kayunya tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.
Menurut dia, satu pohon kayu manis hanya menghasilkan Rp1 juta-an jauh lebih kecil jika dibandingkan hasil cengkih atau pala yang dalam satu pohon bisa menghasilkan Rp5 juta-an dan produksinya berkesinambungan.
Petani sekarang hanya menanam kayu manis sebagai batas kebun. Itu pun jika keberadaannya menghalangi pertumbuhan cengkih dan pala biasanya ditebang karena bisa memengaruhi produktivitas kedua jenis tanaman rempah itu.
Salah seorang pelaku usaha kuliner tradisional di Ternate, yang bahan baku usahanya memanfaatkan kayu manis, Idrus mengakui belakangan ini semakin sulit untuk mendapatkan kayu manis produksi dari Ternate, sehingga mereka terpaksa mendatangkan dari wilayah Halmahera.
Para pelaku usaha kuliner tradisional yang bahan bakunya menggunakan kayu manis, seperti kopi rempah dan aneka jenis kue lebih suka memanfaatkan kayu manis dari Ternate karena aromanya lebih harum jika dibandingkan kayu manis dari daerah lainnya di Malut.
Ia menyarankan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate untuk memberikan insentif kepada petani di daerah ini agar mau kembali membudidayakan kayu manis secara besar-besaran atau menjadikannya sebagai tanaman penghijauan di kawasan hutan kritis yang dibiayai pemerintah.
Kayu manis selain dimanfaatkan untuk bahan baku makanan, juga dipakai untuk bahan pengobatan herbal seperti untuk penyakit diabetes, gangguan pencernaan, dan menurunkan darah tinggi.
Pewarta : La Ode Aminuddin
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Lampung Selatan janji tindak lanjuti laporan warga Desa Hara Banjar Manis
24 September 2025 8:39 WIB
Ini kisah Hendy ajarkan Bahasa Indonesia di Beijing yang berbuah manis
15 September 2024 10:17 WIB, 2024
Ikut ajang hijabfluencer di Jakarta, Dara manis asal Natar minta dukungan bupati
16 July 2024 16:42 WIB, 2024
Benih jagung manis berkualitas Cap Panah Merah mampu menjawab kekhawatiran petani
27 November 2023 16:28 WIB, 2023
Marquez ingin selesaikan musim terakhirmya bersama Honda dengan manis
24 November 2023 8:54 WIB, 2023
Terpopuler - Komoditas
Lihat Juga
Promo bulan Ramadhan, PLN beri diskon tambah daya hingga 5.500 VA hanya Rp200 ribu
23 March 2023 10:04 WIB, 2023
Kementan gulirkan PSR untuk tingkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit
16 March 2023 20:22 WIB, 2023
Pertamina gandeng Grab hadirkan layanan pesan antar BrightGas melalui GrabMart
16 March 2023 15:37 WIB, 2023
Pupuk Indonesia salurkan 1,42 juta ton pupuk bersubsidi dari Januari hingga Maret
09 March 2023 22:32 WIB, 2023
Pertamina apresiasi masyarakat Lampung dukung penyaluran BBM tepat sasaran
09 March 2023 17:20 WIB, 2023