Iklan Dorong Seks Bebas Pada Valentine
Jumat, 13 Februari 2015 17:15 WIB
Penjualan pernak-pernik perayaan Valentine, termasuk makanan cokelat, marak di pusat perbelanjaan. (FOTO ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)
Jakarta, (ANTARA Lampung) - Sejumlah iklan seperti hotel dan cokelat mendorong generasi muda untuk melakukan seks bebas pada peringatan hari kasih sayang atau "Valentine" yang jatuh setiap 14 Februari, demikian kata pemerhati perempuan dan anak Giwo Rubianto Wiyogo.
"Iklan-iklan hotel yang memberi diskon hingga 50 persen pada malam Valentine turut mendorong generasi muda melakukan seks bebas," ujar Giwo di Jakarta, Jumat.
Iklan cokelat, juga turut mempengaruhi perilaku yang melanggar norma sosial tersebut.
Menjelang "Valentine" marak ditemukan iklan dan penjualan cokelat yang berhadiah alat kontrasepsi.
"Itu seakan-akan mendorong remaja melakukan seks bebas."
Giwo yang juga Ketua Umum Kowani ini berharap orang tua turut melakukan pengawasan pada anak-anaknya.
"Orang tua juga perlu mengawasi. Jangan sampai anak-anak mereka melakukan hal yang dilarang norma agama dan sosial," imbuh dia.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan budaya "Valentine" yang jatuh setiap 14 Februari tidak ada dalam ajaran Islam.
"Budaya 'Valentine' juga bukan budaya kita sebagai Bangsa Indonesia. Budaya 'Valentine' adalah budaya yang menjunjung tinggi pergaulan bebas dan tidak sesuai dengan budaya bangsa dan ajaran agama Islam," ujar Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas.
Oleh karena itu, sambung Anwar, hendaknya generasi muda yang beragama dan berbudaya, menjauhi dan menolak budaya tersebut.
"Budaya hari kasih sayang ini akan merusak akhlak dan moral generasi muda," jelas Anwar.
Peringatan "Valentine" identik dengan pemberian cokelat. Namun, "Valentine" juga identik dengan kencan dan seks bebas.
"MUI mengkhawatirkan tujuan paket cokelat dengan kondom, khawatir generasi muda terjerumus dalam zina," tukas Anwar.
"Iklan-iklan hotel yang memberi diskon hingga 50 persen pada malam Valentine turut mendorong generasi muda melakukan seks bebas," ujar Giwo di Jakarta, Jumat.
Iklan cokelat, juga turut mempengaruhi perilaku yang melanggar norma sosial tersebut.
Menjelang "Valentine" marak ditemukan iklan dan penjualan cokelat yang berhadiah alat kontrasepsi.
"Itu seakan-akan mendorong remaja melakukan seks bebas."
Giwo yang juga Ketua Umum Kowani ini berharap orang tua turut melakukan pengawasan pada anak-anaknya.
"Orang tua juga perlu mengawasi. Jangan sampai anak-anak mereka melakukan hal yang dilarang norma agama dan sosial," imbuh dia.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan budaya "Valentine" yang jatuh setiap 14 Februari tidak ada dalam ajaran Islam.
"Budaya 'Valentine' juga bukan budaya kita sebagai Bangsa Indonesia. Budaya 'Valentine' adalah budaya yang menjunjung tinggi pergaulan bebas dan tidak sesuai dengan budaya bangsa dan ajaran agama Islam," ujar Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas.
Oleh karena itu, sambung Anwar, hendaknya generasi muda yang beragama dan berbudaya, menjauhi dan menolak budaya tersebut.
"Budaya hari kasih sayang ini akan merusak akhlak dan moral generasi muda," jelas Anwar.
Peringatan "Valentine" identik dengan pemberian cokelat. Namun, "Valentine" juga identik dengan kencan dan seks bebas.
"MUI mengkhawatirkan tujuan paket cokelat dengan kondom, khawatir generasi muda terjerumus dalam zina," tukas Anwar.
Pewarta : Indriani
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi sebut pelaku pesta seks sesama jenis di Jaksel memakai kode 'arisan'
05 February 2025 19:16 WIB
Polisi dalami kasus pesta seks sesama jenis di kamar hotel di Jakarta Selatan
04 February 2025 9:49 WIB
Kepala BKKBN sebut pendidikan seks usia dini dapat cegah kanker serviks
24 February 2024 19:34 WIB, 2024
Dua bulan terakhir Dinkes Lampung Selatan tangani 20 kasus HIV/AIDS
22 February 2024 15:44 WIB, 2024