Siapa Capres Paling Berkompeten?.
Minggu, 19 Januari 2014 13:40 WIB
Jakarta (Antara) - Hasil survei terbaru dari Survey and Polling Indonesia (SPIN) menyebutkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden yang memiliki kompetensi yang paling tinggi, yaitu sebesar 26,5 persen.
Setelah Prabowo, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie sebesar 17,7 persen, kata Direktur Eksekutif SPIN Danny Indrianto saat merilis hasil surveinya di Jakarta, Minggu.
"Prabowo mendapat apresiasi yang paling baik karena dipandang lebih punya ketegasan, keberanian, serta visi dan misi yang unggul," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berada di urutan ketiga, yakni sebesar 14,6 persen, kemudian urutan keempat Ketua Umum Hanura Wiranto sebesar 11,8 persen.
Survei SPIN, kata dia, bertujuan untuk melihat dan mengetahui parpol mana yang memiliki program terbaik di mata publik dan siapa capres yang paling punya kompetensi, kualitas, dan kapabilitas dalam Pemilu 2014.
Dari temuan survei SPIN, terlihat bahwa ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki capres yang diinginkan publik, yaitu soal pemberantasan korupsi (57,9 persen), pengentasan masyarakat dari kemiskinan (55,2 persen), pengurangan pengangguran (54,5 persen), kedaulatan pangan (47,4 persen), energi (33,3 persen), kesehatan (32,7 persen), dan pendidikan (30,4 persen).
Faktor yang paling dipertimbangkan publik untuk memilih capres 2014, menurut dia, adalah programnya yang prorakyat, kompetensinya sebagai pemecah masalah atau 'problem solver' bangsa, dan ketegasannya dalam pengambilan keputusan, itulah yang menjadi harapan publik.
Hasil temuan survei SPIN ternyata juga tidak mempermasalahkan kandidat capres dari segi usianya. Dengan kata lain, faktor tua atau muda tidaklah terlalu penting. Namun, program, visi, misi, dan kompetensinya jauh lebih dipertimbangkan masyarakat dalam melihat tokoh yang bersangkutan.
Menurut dia, pilihan publik terhadap parpol pun tak jauh beda. Masyarakat mendambakan program kerja partai yang prorakyat, antikorupsi, diikuti oleh fakta bahwa tokoh utama dari parpol yang bersangkutan menjadi referensi perilaku pemilih.
Dari aspek program atau platform parpol, Gerindra berada pada posisi pertama (17,9 persen), diikuti oleh Golkar (15,2 persen), dan PDI Perjuangan (14 persen).
Partai Gerindra dipersepsikan publik sebagai parpol yang memiliki program prorakyat, relatif bersih dari korupsi, dana kampanye yang kuat, loyalitas kader (89,1 persen), serta figur sentralnya dianggap sebagai kelebihan dari Partai Gerindra untuk melakukan sosialisasi yang masif.
Menurut Danny, survei SPIN dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2013 hingga 10 Januari 2014 di 33 Provinsi. Yang disurvei SPIN adalah 12 parpol peserta Pemilu 2014 dan tokoh sentral dari partai politik sebagai kandidat calon presiden 2014.
Jumlah sampel sebanyak 1070 responden, diperoleh melalui teknik pencuplikan secara rambang berjenjang (multistage random sampling). Margin of error sekitar 3 persen, dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dengan responden dengan pedoman kuesioner. Responden terdistribusi 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan.
Ia menjelaskan bahwa penentuan responden dalam setiap KK dilakukan dengan bantuan kish grid. Uji kualitas dilakukan melalui "telephone-check" dan "spot-check" sebesar 20 persen dari total sampel.
Setelah Prabowo, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie sebesar 17,7 persen, kata Direktur Eksekutif SPIN Danny Indrianto saat merilis hasil surveinya di Jakarta, Minggu.
"Prabowo mendapat apresiasi yang paling baik karena dipandang lebih punya ketegasan, keberanian, serta visi dan misi yang unggul," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berada di urutan ketiga, yakni sebesar 14,6 persen, kemudian urutan keempat Ketua Umum Hanura Wiranto sebesar 11,8 persen.
Survei SPIN, kata dia, bertujuan untuk melihat dan mengetahui parpol mana yang memiliki program terbaik di mata publik dan siapa capres yang paling punya kompetensi, kualitas, dan kapabilitas dalam Pemilu 2014.
Dari temuan survei SPIN, terlihat bahwa ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki capres yang diinginkan publik, yaitu soal pemberantasan korupsi (57,9 persen), pengentasan masyarakat dari kemiskinan (55,2 persen), pengurangan pengangguran (54,5 persen), kedaulatan pangan (47,4 persen), energi (33,3 persen), kesehatan (32,7 persen), dan pendidikan (30,4 persen).
Faktor yang paling dipertimbangkan publik untuk memilih capres 2014, menurut dia, adalah programnya yang prorakyat, kompetensinya sebagai pemecah masalah atau 'problem solver' bangsa, dan ketegasannya dalam pengambilan keputusan, itulah yang menjadi harapan publik.
Hasil temuan survei SPIN ternyata juga tidak mempermasalahkan kandidat capres dari segi usianya. Dengan kata lain, faktor tua atau muda tidaklah terlalu penting. Namun, program, visi, misi, dan kompetensinya jauh lebih dipertimbangkan masyarakat dalam melihat tokoh yang bersangkutan.
Menurut dia, pilihan publik terhadap parpol pun tak jauh beda. Masyarakat mendambakan program kerja partai yang prorakyat, antikorupsi, diikuti oleh fakta bahwa tokoh utama dari parpol yang bersangkutan menjadi referensi perilaku pemilih.
Dari aspek program atau platform parpol, Gerindra berada pada posisi pertama (17,9 persen), diikuti oleh Golkar (15,2 persen), dan PDI Perjuangan (14 persen).
Partai Gerindra dipersepsikan publik sebagai parpol yang memiliki program prorakyat, relatif bersih dari korupsi, dana kampanye yang kuat, loyalitas kader (89,1 persen), serta figur sentralnya dianggap sebagai kelebihan dari Partai Gerindra untuk melakukan sosialisasi yang masif.
Menurut Danny, survei SPIN dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2013 hingga 10 Januari 2014 di 33 Provinsi. Yang disurvei SPIN adalah 12 parpol peserta Pemilu 2014 dan tokoh sentral dari partai politik sebagai kandidat calon presiden 2014.
Jumlah sampel sebanyak 1070 responden, diperoleh melalui teknik pencuplikan secara rambang berjenjang (multistage random sampling). Margin of error sekitar 3 persen, dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dengan responden dengan pedoman kuesioner. Responden terdistribusi 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan.
Ia menjelaskan bahwa penentuan responden dalam setiap KK dilakukan dengan bantuan kish grid. Uji kualitas dilakukan melalui "telephone-check" dan "spot-check" sebesar 20 persen dari total sampel.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ingin jadi capres di Pemilu 2029 ? Analis: Lakukan investasi elektoral
03 January 2025 13:06 WIB, 2025
Capres terpilih Prabowo yakinkan OIKN besarnya ruang anggaran untuk selesaikan IKN
13 August 2024 5:33 WIB, 2024
Hari ke-73 kampanye, kelompok relawan masih deklarasi dukung Prabowo -Gibran
09 February 2024 6:36 WIB, 2024
Ganjar temui WALHI bahas kebijakan soal lingkungan termasuk hilirisasi rempah
09 February 2024 6:11 WIB, 2024
Tiga pasangan Capres-Cawapres siap hadir di Deklarasi Kemerdekaan Pers
07 February 2024 5:47 WIB, 2024
Survei Poltracking: Pemilih dekat dengan NU di Jatim condong Prabowo-Gibran
07 February 2024 5:29 WIB, 2024
Anies sebut dapat aspirasi paling banyak soal pendidikan dan kesehatan
06 February 2024 5:40 WIB, 2024