Penurunan Perambah TNBBS Tidak Serius
Selasa, 10 Juli 2012 8:56 WIB
Gubuk perambah dibakar (FOTO ANTARA/Eny Muslihah)
Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Penurunan perambah dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) wilayah Lampung dan Bengkulu masih kurang serius dilaksanakan hingga sekarang oleh tim terpadu.
Terkait itu, menurut Kepala Bidang TNBBS Wilayah II Lampung dan Bengkulu, Edi Susanto, saat dihubungi dari Bandarlampung, Selasa, perambah yang sebelumnya telah diturunkan oleh tim terpadu, kini kembali menggarap kawasan hutan lindung tersebut.
"Selama ini kucing-kucingan, kalau dilakukan operasi warga turun, tapi setelah tidak ada yang melakukan pemantauan maka warga justru 'naik' (menggarap hutan lindung) kembali," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Balai TNBBS Jhon Kenedy mengatakan, biaya operasi penurunan perambah itu membutuhkan biaya miliaran rupiah sebagai bentuk upaya pemerintah untuk menyelamatkan hutan.
"Solusi-solusi yang ditawarkan oleh pemerintah seperti tidak mendapat sambutan yang positif oleh warga kawasan hutan lindung itu," katanya.
Padahal, solusi tersebut cukup menjanjikan bagi warga yang serius ingin mengubah nasibnya.
Pemerintah menawarkan solusi berupa transmigrasi ke Kalimantan Barat, yang mana warga nantinya mengelola perkebunan sawit dengan penghasilan yang dijanjikan dalam waktu enam bulan dapat membeli sebidang tanah dan rumah.
Solusi lainnya, pemerintah menawarkan adanya program HTR seluas 16 ribu hektare bagi warga eks perambah dan warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Sementara itu, tim gabungan penurunan perambah yang dilakukan kali ini melibatkan sekitar 300 personel dari unsur Polri, TNI, Polhut dan TNBBS.
Operasi tersebut dilakukan di empat titik di Kabupaten Kaur, Bengkulu dan satu titik di Simpang Kandis, Lemong, Lampung Barat.
Tim operasi memutus jembatan penghubung satu desa ke desa lain, untuk mengantisipasi agar perambah tidak lagi naik ke atas kawasan
Terkait itu, menurut Kepala Bidang TNBBS Wilayah II Lampung dan Bengkulu, Edi Susanto, saat dihubungi dari Bandarlampung, Selasa, perambah yang sebelumnya telah diturunkan oleh tim terpadu, kini kembali menggarap kawasan hutan lindung tersebut.
"Selama ini kucing-kucingan, kalau dilakukan operasi warga turun, tapi setelah tidak ada yang melakukan pemantauan maka warga justru 'naik' (menggarap hutan lindung) kembali," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Balai TNBBS Jhon Kenedy mengatakan, biaya operasi penurunan perambah itu membutuhkan biaya miliaran rupiah sebagai bentuk upaya pemerintah untuk menyelamatkan hutan.
"Solusi-solusi yang ditawarkan oleh pemerintah seperti tidak mendapat sambutan yang positif oleh warga kawasan hutan lindung itu," katanya.
Padahal, solusi tersebut cukup menjanjikan bagi warga yang serius ingin mengubah nasibnya.
Pemerintah menawarkan solusi berupa transmigrasi ke Kalimantan Barat, yang mana warga nantinya mengelola perkebunan sawit dengan penghasilan yang dijanjikan dalam waktu enam bulan dapat membeli sebidang tanah dan rumah.
Solusi lainnya, pemerintah menawarkan adanya program HTR seluas 16 ribu hektare bagi warga eks perambah dan warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Sementara itu, tim gabungan penurunan perambah yang dilakukan kali ini melibatkan sekitar 300 personel dari unsur Polri, TNI, Polhut dan TNBBS.
Operasi tersebut dilakukan di empat titik di Kabupaten Kaur, Bengkulu dan satu titik di Simpang Kandis, Lemong, Lampung Barat.
Tim operasi memutus jembatan penghubung satu desa ke desa lain, untuk mengantisipasi agar perambah tidak lagi naik ke atas kawasan
Pewarta : Eni Muslihah
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Eks Dirut Inhutani V dituntut 4 tahun 10 bulan penjara dalam kasus suap hutan
12 March 2026 17:35 WIB
Kejati Lampung periksa 59 saksi terkait korupsi pengelolaan kawasan hutan
25 February 2026 17:04 WIB
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
BMKG prakirakan kota-kota besar di Indonesia, termasuk Lampung diguyur hujan
26 January 2025 7:40 WIB, 2025
DMC Dompet Dhuafa membuka pos bagi penyintas erupsi Gunung Ibu Halmahera
24 January 2025 10:21 WIB, 2025
BMKG prakirakan hujan guyur mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Bandarlampung
22 January 2025 5:35 WIB, 2025
BNPB lakukan operasi modifikasi cuaca untuk kurangi banjir di Bandarlampung
20 January 2025 12:11 WIB, 2025
Jihan Nurlela sebut perlu revitalisasi mangrove untuk maksimalkan ekowisata
12 January 2025 5:06 WIB, 2025