Kurangi Risiko Stroke Dengan Magnesium
Rabu, 18 Januari 2012 5:50 WIB
Orang yang mengkonsumsi banyak makanan yang kaya akan magnesium seperti sayuran berdaun hijau, kacang dan buncis memiliki risiko lebih rendah untuk terserang stroke, demikian hasil satu studi internasional atas sebanyak 250.000 orang.
Meskipun demikian, para penulis studi itu, yang disiarkan di American Journal of Clinical Nutrition, tak sampai menyarankan orang agar setiap hari mengkonsumsi asupan magnesium sebab analisis mereka dipusatkan pada magnesium pada makanan.
Mereka juga menduga ada aspek lain makanan yang mempengaruhi temuan mereka.
"Konsumsi makanan yang kaya akan magnesium berbanding terbalik dengan kaitan risiko stroke, terutama stroke iskemik," tulis pemimpin penulis studi tersebut Susanna Larsson, profesor di Karolinska Institute di Stockholm, Swedia. Stroke iskemik adalah jenis stroke paling umum yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, seperti akibat penyumbatan pada pembuluh darah.
Hasil itu menyarankan orang mengonsumsi makanan sehat yang mengandung "magnesium seperti sayuran berdaun hijau, kacang, buncis dan padi-padian", ia menambahkan.
Larsson dan rekannya melakukan penelitian melalui penelusuran bank data selama 45 tahun belakangan guna menemukan studi yang melacak berapa jumlah magnesium yang dikonsumsi orang dan berapa banyak di antara mereka yang menderita stroke selama masa itu.
Dalam tujuh studi yang disiarkan selama 14 tahun belakangan, perkembangan sebanyak 250.000 orang di Amerika Serikat, Eropa dan Asia diikuti selama rata-rata 11,5 tahun.
Sebanyak 6,500 di antara mereka, atau tiga persen, terserang stroke saat mereka mengikuti penelitian, demikian laporan Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin (16/1).
Untuk setiap tambahan 100 miligram magnesium yang dikonsumsi seseorang setiap hari, risiko mereka terserang stroke iskemik --jenis yang paling umum, yang terutama disebabkan oleh pembekuan darah-- turun sebesar sembilan persen.
Asupan magnesium dalam jumlah sedang bagi warga negara AS yang tercakup dalam analisis itu ialah 242 miligram per hari. Amerika Serikat menyarankan lelaki dan perempuan yang berusia di atas 31 tahun masing-masing mengonsumsi 420 dan 320 miligram magnesium setiap hari.
Sebagian besar studi itu memungkinkan para peneliti untuk mengesampingkan faktor lain, seperti sejarah keluarga.
Namun Larsson mengatakan kepada Reuters Health di dalam "surel" (surat elektronik) bahwa ia tak bisa mengatakan apakah aspek lain mengenai apa yang dikonsumsi orang dijelaskan secara sebagian atau keseluruhan di dalam temuan tersebut.
Studi yang lebih mendalam diperlukan sebelum para peneliti dapat mengatakan bahwa magnesium benar-benar mengurangi risiko stroke, ia menambahkan.
Banyak ahli lain mengatakan hasil itu sejalan dengan saran mengenai makanan.
"Itu adalah makanan yang kaya akan buah, sayuran dan padi-padian. Semua itu adalah makanan yang memiliki sodium rendah, potasium tinggi dan magnesium tinggi," kata Larry Goldstein, Direktur Pusat Stroke di Duke University Medical Center di Durham, North Carolina.
"Sekali lagi, itu adalah makanan, bukan satu unsur terpisah makanan," ia menambahkan.
Meskipun demikian, para penulis studi itu, yang disiarkan di American Journal of Clinical Nutrition, tak sampai menyarankan orang agar setiap hari mengkonsumsi asupan magnesium sebab analisis mereka dipusatkan pada magnesium pada makanan.
Mereka juga menduga ada aspek lain makanan yang mempengaruhi temuan mereka.
"Konsumsi makanan yang kaya akan magnesium berbanding terbalik dengan kaitan risiko stroke, terutama stroke iskemik," tulis pemimpin penulis studi tersebut Susanna Larsson, profesor di Karolinska Institute di Stockholm, Swedia. Stroke iskemik adalah jenis stroke paling umum yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, seperti akibat penyumbatan pada pembuluh darah.
Hasil itu menyarankan orang mengonsumsi makanan sehat yang mengandung "magnesium seperti sayuran berdaun hijau, kacang, buncis dan padi-padian", ia menambahkan.
Larsson dan rekannya melakukan penelitian melalui penelusuran bank data selama 45 tahun belakangan guna menemukan studi yang melacak berapa jumlah magnesium yang dikonsumsi orang dan berapa banyak di antara mereka yang menderita stroke selama masa itu.
Dalam tujuh studi yang disiarkan selama 14 tahun belakangan, perkembangan sebanyak 250.000 orang di Amerika Serikat, Eropa dan Asia diikuti selama rata-rata 11,5 tahun.
Sebanyak 6,500 di antara mereka, atau tiga persen, terserang stroke saat mereka mengikuti penelitian, demikian laporan Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin (16/1).
Untuk setiap tambahan 100 miligram magnesium yang dikonsumsi seseorang setiap hari, risiko mereka terserang stroke iskemik --jenis yang paling umum, yang terutama disebabkan oleh pembekuan darah-- turun sebesar sembilan persen.
Asupan magnesium dalam jumlah sedang bagi warga negara AS yang tercakup dalam analisis itu ialah 242 miligram per hari. Amerika Serikat menyarankan lelaki dan perempuan yang berusia di atas 31 tahun masing-masing mengonsumsi 420 dan 320 miligram magnesium setiap hari.
Sebagian besar studi itu memungkinkan para peneliti untuk mengesampingkan faktor lain, seperti sejarah keluarga.
Namun Larsson mengatakan kepada Reuters Health di dalam "surel" (surat elektronik) bahwa ia tak bisa mengatakan apakah aspek lain mengenai apa yang dikonsumsi orang dijelaskan secara sebagian atau keseluruhan di dalam temuan tersebut.
Studi yang lebih mendalam diperlukan sebelum para peneliti dapat mengatakan bahwa magnesium benar-benar mengurangi risiko stroke, ia menambahkan.
Banyak ahli lain mengatakan hasil itu sejalan dengan saran mengenai makanan.
"Itu adalah makanan yang kaya akan buah, sayuran dan padi-padian. Semua itu adalah makanan yang memiliki sodium rendah, potasium tinggi dan magnesium tinggi," kata Larry Goldstein, Direktur Pusat Stroke di Duke University Medical Center di Durham, North Carolina.
"Sekali lagi, itu adalah makanan, bukan satu unsur terpisah makanan," ia menambahkan.
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim peneliti Unila paparkan studi petani organik dalam konferensi internasional
07 September 2025 18:51 WIB
Guru Besar Unila sebut ada tiga tantangan pengembangan studi geografi politik
02 December 2024 12:10 WIB, 2024
Seminar IIB Darmajaya bongkar kesempatan emas studi dan riset di Polandia
08 October 2024 16:45 WIB, 2024
Fakultas DHP IIB Darmajaya studi banding ke-6 perguruan tinggi di Pulau Jawa
18 November 2023 9:42 WIB, 2023
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Smart farming jadi solusi petani sejahtera di Desa Trimomukti Lampung Selatan
02 December 2025 16:56 WIB
HKA dari produsen material ke penggerak layanan operasi jalan tol nasional
27 November 2025 16:20 WIB
Swasembada pangan hadapi tantangan, banyak petani enggan tanam kedelai di lahan pertanian
17 November 2025 10:39 WIB
Relawan di Lampung bantu pasien kanker dan donor darah, bergerak tanpa dana tetap
10 November 2025 9:47 WIB