
Bupati Lampung Barat sebut alat Kekuhan jadi sistem peringatan dini

elain Kekuhan memiliki sejarah atau historis tersendiri, kekuhan pada zaman dulu merupakan alat komunikasi antar masyarakat
Lampung Barat (ANTARA) - Bupati Lampung Barat (Lambar) Parosil Mabsus mengatakan alat Kekuhan (kentongan bambu) dapat menjadi sistem peringatan dini bencana berbasis kearifan lokal.
"Peresmian Kekuhan sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal bukan tanpa alasan. Selain Kekuhan memiliki sejarah atau historis tersendiri, kekuhan pada zaman dulu merupakan alat komunikasi antar masyarakat,” kata Bupati Lambar, Parosil Mabsus saat dihubungi dari Lampung Selatan Kamis.
Menurut dia, sebelum berkembangnya zaman, Kekuhan merupakan alarm masyarakat yang menjadi alat untuk menyampaikan berita penting.
Meskipun zaman terus berkembang, kata dia, Kekuhan diharapkan bisa menjadi alat komunikasi yang efektif digunakan untuk memberi informasi antar masyarakat.
"Meskipun sudah memasuki zaman modern namun kearifan lokal di Lampung Barat harus tetap dipertahankan," ujarnya.
Terlebih, kata dia, Lampung Barat merupakan daerah rawan bencana, sebab sebagian wilayah merupakan perbukitan, juga dilewati langsung oleh Seser Semangko.
Oleh karena itu, ia mengaku pihaknya berkomitmen untuk melestarikan Kekuhan sebagai alarm pemberian kabar berita antarmasyarakat.
"Kentongan merupakan alat tradisional yang dapat digunakan di situasi seperti apapun. Seandainya terjadi bencana Kekuhan dapat digunakan untuk memberi informasi ke masyarakat dengan harapan tidak terjadi korban jiwa," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat Padang Priyo Utomo menjelaskan ditetapkannya Kekuhan sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal merupakan salah satu bentuk komitmen sebagai kabupaten tangguh bencana.
“Ada tujuh pola ketukan tanda komunikasi, peringatan pada Kekuhan, pola yang pertama, tiga ketukan pendek selama tiga kali menandakan ada yang meninggal. Dua ketukan pendek selama tiga kali menandakan adanya kemalingan. Tiga ketukan pendek selama tiga kali menandakan kebakaran rumah,” katanya.
Kemudian, lanjut dia, empat ketukan pendek selama tiga kali menandakan adanya bencana alam, banjir, longsor dan lainnya. Lima ketukan pendek selama tiga kali jika terjadi kemalingan ternak.
Satu ketukan pendek dilanjutkan sepuluh ketukan panjang ditutup satu ketukan pendek untuk memanggil gotong royong. Ketukan panjang yang dilakukan berkali-kali menandakan bahwa sudah terjadi bahaya atau darurat.
Baca juga: Bupati Lambar ingatkan calon haji untuk jaga fisik dan kesehatan
Baca juga: Bupati Lambar pastikan kesiapan jalan ke lokasi Geothermal di Sekincau
Baca juga: Bupati Lambar beri salinan pelepasan hutan 22,51 hektare kepada warga
Pewarta : Riadi Gunawan
Editor:
Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
