Objek wisata di Jayawijaya Papua tak terdampak kerusuhan

id kerusuhan wamena

Objek wisata di Jayawijaya Papua tak terdampak kerusuhan

Gua Kontilola di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. (ANTARA News Papua /HO-Hari Suroto)

Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Jayawijaya tidak terdampak kerusuhan yang terjadi pada dua pekan lalu hingga menyebabkan terjadi pengungsian besar-besaran.
Jayapura (ANTARA) - Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Jayawijaya, Papua tidak terdampak kerusuhan yang terjadi pada dua pekan lalu hingga menyebabkan terjadi pengungsian besar-besaran.

Arkeolog senior dari Balai Arkeologi Papua Haris Suroto di Kota Jayapura, Rabu, membenarkan hal itu.

"Pascakerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, obyek wisata budaya atau obyek wisata alam masih bisa dikunjungi oleh para traveler," ujarnya pula.
Baca juga: Pulau Waigeo, kawasan wisata yang kaya keanekaragaman hayati

Hal ini, menurutnya karena sejumlah destinasi wisata tersebut dalam kondisi aman, tidak terkena dampak kerusuhan, letak obyek-obyek wisata tersebut berada di pinggir Kota Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya.

"Kerusuhan hanya terjadi di pusat perekonomian Wamena. Selain itu, dalam budayanya, Suku Dani sebagai pemilik obyek wisata budaya seperti mumi, selalu menjaga peninggalan leluhur mereka," ungkapnya.

Rumah-rumah tradisional Suku Dani di sekitar Wamena dan Lembah Baliem juga masih utuh, sehingga bagi penyuka tracking masih dapat menyaksikan kehidupan tradisional dan pemukiman tradisional Suku Dani.

"Situs Gua Kontilola dengan gambar alien di dalamnya juga aman dari kerusuhan. Mama-mama Suku Dani yang kreatif juga masih tampak terlihat bersemangat merajut noken, baik untuk dipergunakan sendiri atau untuk dijual pada wisatawan," jelasnya mencontohkan salah satu obyek wisata yang tidak terdampak kerusuhan.
Baca juga: Teluk Tomini Destinasi Wisata Bahari Dunia

Labu air sebagai bahan baku pembuat koteka, lanjut dia juga masih banyak dijumpai di pekarangan honai rumah warga. Rotan dan rumput sebagai bahan untuk membuat gelang dan cincin khas Wamena juga masih banyak dan mudah didapatkan.


"Kebun-kebun di pinggiran Wamena juga masih menghasilkan ubi jalar serta keladi, sebagai kuliner tradisional Lembah Baliem. Udang selingkuh juga masih didapatkan di Sungai Baliem.

Koteka, noken, gelang, dan cincin khas Wamena merupakan oleh-oleh bagi traveler," katanya.
Baca juga: Raja Ampat Dikukuhkan Sebagai Destinasi Wisata Bahari Unggulan

Lalu, ubi jalar dan keladi yang diolah dengan bakar batu, serta udang selingkuh merupakan kuliner unik yang banyak dicari bagi para traveler yang berkunjung ke Wamena.

"Lembah Baliem sendiri merupakan daerah eksotis dengan keindahan alam dan budayanya. Dengan modal obyek wisata budaya, alam dan produk kreatif khas Wamena maka pariwisata akan membangkitkan perekonomian Wamena yang terpuruk akibat kerusuhan," katanya pula.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar