
Lampung Defisit Daya Listrik Sebesar 189Mw

Saat ini PLN UID Lampung mengalami kekurangan pasokan gas akibat pemeliharaan disisi hulu suplai gas pada PLTMG yang digunakan di Lampung
Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Provinsi Lampung mengalami defisit daya listrik
sebesar 189 Mega Watt menyusul tiga Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas
(PLTMG) mengalami kekurangan pasokan gas.
"Saat ini PLN UID Lampung mengalami kekurangan pasokan gas akibat pemeliharaan disisi hulu suplai gas pada PLTMG yang digunakan di Lampung," kata Pelaksana Tugas Manager Komunikasi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Lampung, Junarwin, dalam keterangan tertulis diterima di Bandarlampung, Senin.
Ia menyebutkan, pembangkit tersebut adalah PLTMG Sutami, PLTMG New Tarahan dan PLTMG Mobile Power Plan (MPP) Tarahan.
Junarwin mengatakan bahwa PLTMG Sutami, PLTMG New Tarahan dan PLTMG Mobile Power Plan (MPP) Tarahan adalah pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar gas sebagai bahan baku utamanya.
Namun, lanjutnya, saat ini kondisi PLTMG tersebut mengalami kendala kekurangan pasokan gas sesuai dengan kapasitasnya dikarenakan pemeliharaan disisi hulu suplai gas dan PLTA Besai juga masih dalam pemulihan.
"Kondisi yang demikian menyebabkan pasokan listrik Lampung saat ini mengalami defisit daya sebesar 189 MW, " ujarnya.
Sehingga, lanjutnya, dengan sangat terpaksa PLN UID Lampung melakukan pengurangan beban dan hal ini untuk menghindari agar tidak terjadinya pemadaman yang meluas akibat defisit daya tersebut.
Junarwin menjelaskan, adapun upaya yang dilakukan oleh PLN UID Lampung saat ini adalah melakukan percepatan penormalan pasokan gas ke PLTMG tersebut dan mengoptimalkan pembangkit-pembangkit yang lainya untuk mendukung pasokan daya listrik di propinsi lampung.
"Atas ketidaknyaman ini managemen PLN UID Lampung memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan, " tambahnya.
Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor:
Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
