Logo Header Antaranews Lampung

Unila-Mongabay sepakati kerja sama pendidikan

Kamis, 27 September 2018 10:07 WIB
Image Print
MoU Unila dengan Mongabay di kampus Unila Kamis, (27/9) (Foto: Antaralampung.com/HO)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Universitas Lampung (Unila) menyepakati kerja sama terkait pendidikan dengan Mongabay Indonesia di bawah koordinasi Program Kerja Sama dan Layanan Internasional Unila.

Penandatanganan kerja sama itu, kata Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unila, Dr Hartoyo MSi, di Bandarlampung, Rabu, dilakukan bersamaan dengan Lokakarya Peranan Media Sosial dan Jurnalistik Lingkungan untuk Penyelamatan Badak Sumatera pada Kamis (27/9).

Sebagai tindak lanjut kerja sama itu, Unila dan Mongabay Indonesia akan melakukan pendampingan penulisan jurnalistik lanjutan untuk mahasiswa Unila, khususnya mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Unila satu bulan sekali.

Selain itu memanfaatkan web badak.id (akan diluncurkan pula website badak.id yang berisi infografis serba-serbi badak di dunia beserta fakta unik badak sumatra dan badak jawa) untuk kegiatan kampanye bersama Unila dan Mongabay Indonesia melalui tulisan atau hasil kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Melalui kerja sama itu, juga mendukung magang, penelitian tugas akhir civitas akademika Unila berkaitan dengan badak sumatra sekaligus mendukung publikasi penyelamatan badak sumatra bersama media lokal, nasional, maupun internasional.

Unila melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (Puslitbang LH) LPPM bersama Mongabay Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Peranan Media Sosial dan Jurnalistik Lingkungan untuk Penyelamatan Badak Sumatera. Kegiatan itu, rangkaian peringatan Hari Badak Internasional setiap 22 September.

Badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) jumlahnya saat ini diperkirakan tidak lebih dari 100 individu. Berdasarkan data Ditjen PHPA dan Yayasan Mitra Rhino (1993), persebaran badak sumatra awalnya ada di 17 lokasi di Sumatra, mulai dari bagian utara Taman Nasional Gunung Leuser hingga bagian selatan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung.

Namun, saat ini populasi badak sumatra hanya ada di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), TNWK, dan di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di Taman Nasional Kerinci Seblat yang dahulu disebut kantong populasi badak, sejak 2008 diperkirakan sudah tidak ada lagi.

Lampung, sebagai provinsi yang dipastikan memiliki badak sumatra, khususnya dengan keberhasilan kelahiran dua individu badak sumatra, Andatu dan Delilah, di Suaka Rhino Sumatera TNWK, harus terus mewujudkan penyelamatan habitat, penyadartahuan masyarakat, penegakan hukum, dan penelitian. Sinergi berbagai pihak diperlukan demi penyelamatan badak bercula dua itu.

Rektor Unila Prof Dr Ir Hasriadi Mat Akin MP akan membuka lokakarya yang diikuti 100 peserta dari berbagai disiplin ilmu, seperti Biologi, Kehutanan, Ilmu Komputer, Teknik Informatika dan Ekonomi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Magister Ilmu Lingkungan serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Natural dan UKM Pers Mahasiswa Teknokra Unila.

Peserta dari luar Unila merupakan perwakilan perguruan tinggi, sekolah, institusi bidang konservasi, masyarakat desa binaan, dan lembaga swadaya masyarakat.

Hadir sebagai pembicara lokakarya dari Mongabay Indonesia adalah Dr Ridzki Rinanto Sigit MM (Direktur Mongabay Indonesia), Akhyari Hananto (Koordinator Sosial Media), dan Rahmadi (Editor) yang akan memberikan gambaran penting penyelamatan badak sumatra melalui media sosial, fotografi, dan tulisan.

Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Sidang Lantai 2, Gedung Rektorat Unila itu mengundang segenap jajaran pimpinan Unila, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Kepala Balai Besar TNBBS, Kepala Balai TNWK, serta perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung.



Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026