Logo Header Antaranews Lampung

Kampung kerupuk di pesisir Bandarlampung

Kamis, 4 Agustus 2016 16:15 WIB
Image Print
Ilustrasi Kerupuk kempalng (FOTO:ANTARA Lampung/Ist)
...Setidaknya 3.000 kemplang dan belasan ribu kerupuk dihasilkan warga di kampung ini setiap minggunya, ujar Sajeansyah...

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Kampung Rawa Baru Kecamatan Bumi Waras di kawasan pesisir Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, dikenal sebagai sentra penghasil kerupuk dan kemplang selama delapan tahun terakhir sehingga sebagian warga menjuluki kawasan ini sebagai kampung kerupuk.

Menurut informasi dari para perajin kerupuk setempat, Rabu (3/8), setidaknya ada 30 usaha kecil menengah (UKM) pembuat kerupuk dan kemplang beraktivitas di kampung ini dengan omzet dapat mencapai Rp14 juta per bulan.

Pada kampung yang padat penduduk tersebut, aktivitas pembuatan kerupuk dalam jumlah besar berlangsung sepanjang hari.

Masyarakat Bandarlampung mengenal kampung itu sebagai sentra industri rumah tangga penghasil kerupuk dan kerupuk khas dari Sumatera Selatan atau kemplang selama delapan tahun terakhir.

Aktivitas pembuatan kemplang di kampung itu sudah berlangsung sejak tahun 2008. Di kampung ini ada sekitar 30 pembuat kemplang atau kerupuk ikan khas Sumsel dan kerupuk yang biasa kita kenal.

Pembuatan kerupuk dan kemplang itu berlangsung setiap hari dan biasanya dimulai pada pagi hari.

Tahapan pembuatannya dimulai dari pengadonan, pengukusan, penjemuran hingga pembakaran untuk mendapatkan kerupuk dan kemplang yang gurih dan enak dan dibutuhkan penjemuran selama hampir 18 jam.

Sebanyak 30 UKM pembuat kerupuk dan kemplang di kampung itu, 8 di antaranya sudah memperoleh pembinaan serta bantuan dana dan pendampingan dari lembaga pembiayaan independen Rumah Zakat Indonesia.

Satu industri rumah tangga pembuatan kerupuk kemplang itu mampu menyerap tenaga kerja hingga 8 orang.

Menurut Muhammad Sajeansyah, Ketua tim pendampingan UKM kerupuk kemplang di Bandarlampung, untuk program pemberdayaan ekonomi usaha rumaha tangga itu program pendampingannya berlangsung selama setahun.

Setidaknya 3.000 kemplang dan belasan ribu kerupuk dihasilkan warga di kampung ini setiap minggunya.

Omzet para pembuat kerupuk kemplang di kampung ini bervariasi, ada yang hanya sebesar Rp4 juta, namun ada perajin yang mencapai omzet sebesar Rp14 juta per bulan.

Sajeansyah mengharapkan, ke depan kampung ini diharapkan bisa menjadi kampung wisata untuk wisatawan yang ingin melihat langsung proses pembuatan kerupuk dan kemplang.

Menurut Siti Ainazahra, salah satu pelaku industri rumah tangga pembuatan kerupuk kemplang itu, pendampingan dan pembinaan yang diterima meliputi pelatihan manajemen keuangan dan bantuan pemasaran.

Pembinaan itu berlangsung secara reguler, setidaknya dalam seminggu itu bisa tiga kali kami mendapatkan pembinaan yang diperlukan, katanya lagi.(Ant)



Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026