
Bangladesh bunuh 5 militan

Dhaka (Antara/Reuters) - Polisi Bangladesh menembak mati lima anggota kelompok terlarang dalam tiga hari, termasuk satu orang pada Rabu (8/6) setelah pasukan keamanan meningkatkan perburuan terhadap kelompok garis keras yang berada di belakang serangkaian serangan di negara berpenduduk mayoritas muslim itu.
Lima orang yang diduga anggota organisasi terlarang Jama'atul Mujahidin tewas dalam baku tembak sejak istri pejabat terkemuka kepolisian antiterorisme ditembak mati oleh tersangka kelompok garis keras, Minggu (5/6), demikian kata polisi.
Seorang pendeta Hindu dan seorang veteran Kristen juga dibantai sampai mati dalam serangan yang diakui sebagai tanggung jawab kelompok garis keras ISIS.
Sejak Februari tahun lalu, kelompok garis keras Bangladesh telah menewaskan sedikitnya 30 orang, termasuk sejumlah pemilik blogger liberal, akademisi, dan pemeluk agama minoritas.
ISIS dan Al Qaeda menyatakan bertanggung jawab atas sebagian besar pembunuhan tersebut, namun pemerintah Bangladesh menyangkal apakah kelompok tersebut benar-benar ada di negara berpenduduk 160 juta jiwa itu.
Menurut polisi, dua kelompok terlarang, Tim Ansharullah Bangladesh dan Jama'atul Mujahidin berada di belakang kekerasan tersebut.
Sebelumnya pendeta tua Hindu dibantai hingga tewas, Selasa (7/6). Polisi Bangladesh menduga sebagai rangkaian serangan oleh kelompok garis keras terhadap anggota kelompok minoritas.
Tiga pelaku penyerangan mengendarai motor membunuh Ananta Gopal Ganguly (70) saat korban sedang dalam perjalanan menuju kuil tempat dia mengadi di Distrik Jhenaidah, sekitar 100 mil (161 kilometer) di sebelah barat Dhaka, Ibu Kota Bangladesh, kata polisi.
Serangan tersebut menandai peristiwa-peristiwa pembunuhan sebelumnya yang diduga dilakukan oleh kelompok garis keras, kata petugas kepolisian Hasan Hafizur Rahman saat dihubungi per telepon oleh Kantor Berita Reuters dari lokasi serangan.
"Mereka menggorok leher korban hingga dia mati seketika," ungkap Rahman. (Uu.M038)
Penerjemah : MI Ilmie/S Muryono
Pewarta :
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
