Logo Header Antaranews Lampung

Stadion Pahoman Menjadi Taman?

Jumat, 8 April 2016 22:53 WIB
Image Print
Tembok stadion tentu saja menjadikan ruang dalam menjadi eksklusif. Paling tidak secara psikologis sosial hal itu menjadikan Stadion Pahoman tidak dianggap sebagai milik publik.

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Rencana Pemerintah Provinsi Lampung menjadikan Stadion Pahoman di Kota Bandarlampung sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan taman bermain menjadi isu publik.

Pemprov Lampung menilai bahwa RTH di Bandarlampung harus ditambah. Apalagi ketersediaannya pada saat ini masih sangat terbatas.

Selain Stadion Pahoman, sebenarnya ada beberapa lahan yang potensial dijadikan taman, tapi masih belum mampu dikelola oleh Pemprov Lampung dan juga Pemkot Bandarlampung seperti PKOR Way Halim, dan Enggal/Saburai. Pemprov Lampung dengan berbagai pertimbangan akhirnya memilih Stadion Pahoman yang dianggap perlu dan layak segera untuk diubah menjadi ruang publik yang benar-benar terbuka.

Perubahannya tentu saja secara sederhana berupa menghilangkan dinding stadion. Tidak seperti yang terjadi sekarang dimana lahan ini hanya dapat diakses oleh pihak tertentu pada saat tertentu saja dan melalui pintu masuk tertentu. Bahkan melongok ke dalamnya pun tak bisa, sehingga ada pemandangan apa di dalam sana, kegiatan apa di dalamnya, tak ada yang tahu. Masyarakat yang tidak masuk ke dalam, hanya ada di luar, hanya bisa melihat dinding beton tinggi kokoh yang menjulang. Selebihnya tidak ada.

Tembok stadion tentu saja menjadikan ruang dalam menjadi eksklusif. Paling tidak secara psikologis sosial hal itu menjadikan Stadion Pahoman tidak dianggap sebagai milik publik. Semua stadion tentu tipikalnya begitu.

Keberadaan stadion ini yang langsung berhadapan dengan flyover Gajahmada memang menjadi sangat menarik jika diubah menjadi ruang terbuka yang dilengkapi dengan berbagai ikon yang menjadikan Taman Pahoman sebagai kawasan baru yang mampu menarik masyarakat untuk datang dan berinteraksi di sana. Pengendara, pejalan kaki, atau pengunjung, bisa dengan bebas menikmati taman dengan berbagai cara.

Menurut saya, niatan Pemprov Lampung ini patut untuk diapresiasi. Bagaimanapun Stadion Pahoman pada saat ini memiliki aktivitas dan kegiatan yang rendah dan skalanya sangat kecil. Bahwa kemudian stadion ini memiliki sejarah panjang, tentu saja tetap perlu diapresiasi. Namun tidak berarti bahwa kawasan stadion tidak bisa diubah.

Karenanya desain Taman Pahoman ini harus dikonsultasikan oleh Pemprov Lampung kepada pihak Pemkot Bandarlampung. Beberapa ahli sejarah stadion dan kawasan sosial harus dilibatkan. Artinya, perencana taman jangan terpaku dengan bayangannya sendiri. Namun perencana taman harus mampu menangkap kebutuhan sosial masyarakat. Bukan soal lengkapnya fasilitas untuk berbagai pihak pengguna, namun soal skala dan ruh taman itu sendiri.

Selintas saya melihat desain yang dibuat tidak begitu kuat makna dan daya tarik desainnya. Karenanya, saya mengusulkan agar perencana memasang lembaran masukan desain di Stadion Pahoman, sehingga siapa pun bisa memberikan masukan. Juga mengadakan workshop dengan para arsitek, ahli landscape, dan semacamnya. Bagaimanapun yang hendak dibuat ini adalah ruang publik yang dibangun dengan biaya publik, dan nanti akan dirawat oleh publik pula.

Kita sudah terlalu banyak memiliki bangunan publik yang tidak disayangi oleh publiknya sendiri. Hal ini terjadi karena adanya eksklusivitas desain. Seolah desain yang dibangun sudah sesuai dengan keinginan masyarakat. Namun pada kenyataannya yang didesain dan dibangun tanpa melibatkan masyarakat, menjadi tidak terawat dengan baik.

Taman yang dibutuhkan tentu saja bukan berarti sebuah taman yang hijau full dengan rerumputan atau bunga-bunga dan pepohonan yang indah serta rindang, atau yang dilengkapi dengan air mancur skala besar atau kecil dan berjumlah banyak atau seadanya, atau yang dilengkapi dengan patung-patung dan kolam, atau yang dilengkapi dengan fasilitas internet wifi dan sebagainya.

Apa pun wujud fisik taman ini, selama ia tertata rapi dan indah, taman itu juga harus sesuai dengan keinginan dan bayangan masyarakat kota.

Kita baru disuguhi oleh Taman Bungkul dan Alun-alun Bandung, yang dianggap sebagai revolusi taman kota karena disambut hangat oleh seluruh lapisan masyarakat. Bandar Lampung harus memiliki taman serupa yang disambut warga. Meskipun pembongkaran Stadion Pahoman menimbulkan polemic, desain taman yang akan dibangun oleh Pemprov harus menjadi icon kota yang kuat. Jika tidak, pemrov dan perencananya bertanggung jawab secara moril. Sebab membongkar Stadion Pahoman yang sudah penuh dengan sejarah harus seimbang dengan peruntukan baru yaitu taman yang hendak dibangun oleh pemprov Lampung.

*) Penulis adalah dosen Teknik Sipil Universitas Bandarlampung (UBL), peneliti di Pusat Studi Kota dan Daerah UBL.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026