
Rusia kini "kendalikan" Suriah

Moskow (Antara/AFP) - Rusia mengendalikan Suriah, Rabu, setelah menuanrumahi Presiden Bashar al-Assad dalam lawatan pertamanya ke mancanegara sejak 2011 dan menjadwalkan perundingan, yang melibatkan pemain kunci peperangan di negara itu.
Pada saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Assad mengucapkan terima kasih atas serangan udara terhadap lawan Assad di Suriah, ketika kedua pemimpin juga menyetujui langkah politik setelah operasi militer dalam pembicaraan Selasa malam.
Moskow kemudian mengumumkan bahwa Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS dan Turki serta negara Arab untuk membahas kemelut Suriah pada Jumat.
Pembicaraan Putin dengan Assad berpusat terutama pada perkembangan militer, dengan Presiden Rusia menjanjikan dukungan berkelanjutan, tapi juga mendesak penyelesaian politik untuk mengakhiri pertempuran tersebut, kata juru bicara Kremlin.
Assad, yang terakhir mengunjungi Rusia pada tahun 2008, telah mengatakan kepada Putin bahwa tiga pekan serangan udara Rusia - yang memicu kecaman dari negara-negara Barat - telah membantu menghentikan penyebaran "terorisme" di negaranya.
Serangan udara Rusia sejauh ini dilaporkan telah menewaskan 370 orang, sepertiga dari mereka adalah penduduk sipil.
Serangan Rusia ditujukan kepada kaum ekstrimis kelompok Negara Islam di Iran dan Suriah (ISIS) dan kelompok lain yang dianggap sebagai "teroris".
Namun pemberontak dan negara-negara Barat menuduh Moskow berusaha mendukung Assad dan menyerang kekuatan oposisi moderat serta ISIS.
Peneliti Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Rabu, mengatakan, sedikitnya 12 orang, termasuk staf medis tewas ketika pesawat tempur Rusia menyerang halaman rumah sakit di provinsi barat laut Idlib.
Klinik yang dioperasikan oleh Suriah-American Medical Society, yang stafnya dikonfirmasi berhenti, Selasa, fasilitas telah "rusak parah".
Dmitry Peskov selaku juru bicara Putin mengatakan bahwa "kunjungan kerja" Assad atas undangan dari Kremlin. Presiden Suriah mengatakan, Rabu, bahwa Assad harus kembali ke Damaskus.
Kata Terakhir
Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Rusia juga turut serta dalam pertemuan antarpemimpin kedua negara tersebut.
Putin mengatakan bahwa Rusia siap melindungi perdamaian di Suriah yang telah porak-poranda oleh konflik yang dimulai dari protes antipemerintah pada Maret 2011.
Lebih dari 250 ribu nyawa melayang dan jutaan penduduk lainnya kehilangan tempat tinggal dan memicu terjadinya migrasi massal menjadikan sekitar empat juta orang mengungsi.
"Kami siap berkontribusi tidak hanya saat bertempuran bersenjata melawan teroris, melainkan juga selama proses politik berlangsung," kata Putin.
Assad juga menekankan pentingnya langkah politik yang lebih maju dan memuji Rusia atas tindakan militer dan upaya politik, kata Kremlin.
"Saya ingin berkata bahwa langkah politik, di mana Rusia telah mengawalinya melalui tindakan pencegahan kritis di Rusia dari berkembangnya skenario tragis yang lebih jauh," katanya.
Putin menekankan kepada Suriah untuk menentukan nasib, misi terselubung di Amerika Serikat dan pendukung oposisi lainnya yang bersikeras agar Assad pergi dalam setiap penyelesaian damai.
Suriah Baru
Putin berdiskusi dengan Assad dalam sebuah percakapan telepon dengan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan, Raja Arab Saudi Salman, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, dan Raja Yordania Abdullah.
Arab Saudi, Turki, dan AS merupakan pendukung utama oposisi Suriah dan mereka mengecam keras intervensi militer Rusia yang mendukung rezim Assad.
Mereka juga bersikeras bahwa Assad tidak bisa menjadi bagian dari masa depan Suriah, meskipun beberapa ahli melihat melunaknya dunia internasional tentang apakah memerangi pemimpin bisa diabaikan selama masa transisi politik.
Iran sebagai salah satu sekutu Assad dianggap kurang tegas dalam memberikan dukungan, Deputi Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, Rabu, menyatakan tidak akan bekerja untuk mengamankan kekuasaan Assad selamanya.
Saat berbicara selama dalam perjalanan menuju Inggris, Rabu, Amir-Abdollahian mengatakan, "sangat menyadari peran dalam memerangi terorisme (Assad)", tapi dia menambahkan, "Kami tidak bekerja untuk Assad agar tetap berkuasa selamanya sebagai presiden."
Iran mendukung Assad sejak pemberontak menyerang rezimnya pada 2011, namun memperkecil dukungannya di lapangan.
Presiden Perancis Francois Hollande mengingatkan Rusia atas penguatan posisi Assad, "siapa yang menjadi masalah dan tidak akan menemukan solusi".
Rusia membawa lebih dari 500 pasukan udara di Suriah sejak kampanye penyerangan dimulai akhir bulan lalu.
Menteri Pertahanan Rusia, Rabu, mengatakan bahwa pasukan menyerang 83 target di Suriah dalam 24 jam terakhir.
Pertempuran dimulai oleh serangkaian serangan pemerintah Suriah dan di beberapa tempat dilaporkan didukung oleh masuknya pasukan Iran sebagai gerakan Hizbullah Syiah Lebanon.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan Selasa mengatakan bahwa sekitar 35 ribu orang telah mengungsi akibat salah satu serangan di Aleppo, kota kedua di selatan Suriah.
Penerjemah : M.I. Ilmie/A/B. Soekapdjo)
Pewarta :
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
