
Jenderal Mesir tewas ditembak

Kairo (Antara/Xinhua-OANA) - Seorang jenderal polisi tembak hingga tewas oleh gerilyawan tak dikenal pada Rabu (16/9), saat ia memeriksa pos pemeriksaan polisi di satu bundaran di Kota Kecil Arish di Provinsi Sinai Utara, yang bergolak.
"Para penyerang mengendarai kendaraan putih dan menembak ke satu tempat keamanan di Bundaran An-Nasr di dekat kantor polisi Arish dan melukai Jenderal Khaled Othman hingga ia meninggal," kata juru bicara Kementerian Dalam negeri Mesir. Ia menyatakan pasukan keamanan terlibat baku-tembak dengan gerilyawan, yang melarikan diri.
Sementara itu, enam gerilyawan tewas dan 22 tersangka ditangkap saat mereka memasang peledak yang ditujukan kepada personel keamanan di Kota Kecil Arish, Rafah dan Sheikh Zuweid di Sinai Utara di sebelah timur-laut Ibu Kota Mesir, Kairo, kata juru bicara Mesir tersebut.
"Akibat bentrokan dengan anasir teror itu, seorang prajurit telah gugur," kata Brigadir Jenderal Mohamed Samir, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis siang. Ia menyatakan serangan tersebut memadamkan 81 peledak yang dipasang, membakar 31 gubuk dan sarang pelaku teror serta menghancurkan 14 kendaraan dan 15 sepeda motor milik mereka.
Serangan itu menandai hari ke-10 operasi-besar keamanan di Sinai Utara sehingga menewaskan ratusan gerilyawan dan sejumlah tersangka lagi ditangkap.
Pasukan keamanan Mesir belumlama ini telah menewaskan 12 orang termasuk delapan wisatawan Meksiko akibat kekeliruan saat pasukan keamanan memburu gerilyawan dengan menggunakan kendaraan 4x4 di dekat Oasis Bahariya di Gurun Barat negeri itu.
Mesir telah mengalami serangan-bersenjata anti-pemerintah yang menewaskan ratusan personel keamanan sejak militer menggulingkan presiden Mohamed Moursi dari kubu Islam pada Juli 2013, sebagai reaksi atas protes massa. Penindasan yang belakangan dilakukan terhadap pendukung Moursi menewaskan lebih dari 1.000 orang serta membuat ribuan orang lagi ditangkap.
Penerjemah : Chaidar
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
