
Harga Daging Sapi Berpeluang Naik Lagi

Bandarlampung (Antara Lampung) - Harga daging sapi di Provinsi Lampung sepanjang Maret 2013 ini diprediksi akan sulit turun dari harga sekarang ini meskipun Lampung termasuk sentra penggemukan sapi impor dan daerah penghasil daging nasional.
Menurut beberapa pedagang sapi di Bandarlampung, Rabu, harga daging sapi akan tetap bertahan tinggi, dan sekarang harganya mencapai Rp90.000/kg.
"Harga daging diperkirakan bukan akan turun, tetapi justru berpeluang semakin naik," kata Korip, salah satu penjual daging sapi di kawasan Wayhalim Bandarlampung.
Sehubungan harga daging sapi yang tinggi itu, menurut pedagang tersebut, banyak konsumen langganannya yang beralih membeli daging ayam atau ikan, karena harganya lebih murah dibandingkan dengan harga daging sapi.
"Dulu saya bisa memotong tiga ekor sapi dalam sehari, sekarang paling satu ekor atau dua ekor jika sedang ada warga yang hajatan," kata dia lagi.
Ia menyebutkan, harga daging sapi sekarang mencapai Rp36.000/kg.
Tahun 2011 lalu, harga daging sapi berkisar Rp27.000-Rp30.000/kg, dan tahun lalu berkisar Rp30.000-Rp33.000/kg.
"Sekarang harga daging sapi kalau kami beli dari peternak sudah mencapai Rp36.000/kg. Akibatnya, harga jual ke konsumen tetap tinggi seperti sekarang," kata dia pula.
Ia juga menyebutkan para pedagang lebih suka membeli sapi impor daripada sapi lokal, karena harganya lebih murah dan konsumen lebih menyukai dagingnya.
"Saya pernah beli sapi lokal karena sulit mendapatkan sapi impor. Setelah dipotong dan dagingnya dijual, saya bukannya untung justru rugi sekitar Rp1,5 juta," ujar dia.
Daging sapi untuk kebutuhan rendang yang tertinggi harganya mencapai Rp90.000/kg.
Sedangkan harga daging yang biasa dipakai untuk bakso dan rawon sekitar Rp75.000/kg.
Harga daging ini termasuk tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan harga daging sapi tahun lalu Rp75.000/kg, kata dia lagi.
Sementara harga daging sapi di pasar tradisional di Bandarlampung lainnya juga tetap tinggi, berkisar Rp90.000-Rp95.000/kg.
Para pedagang itu menyebutkan harga daging diperkirakan masih akan sulit turun, namun warga sudah mulai terbiasa dengan kondisi seperti itu.
Harga daging sapi di sejumlah pasar di Kabupaten Lampung Selatan juga bertahan tinggi, yakni Rp90.000/kg.
"Penjual daging saat ini hanya mengandalkan dari peternakan warga di sejumlah kecamatan untuk mencukupi kebutuhan konsumen," kata Cecep, salah satu penjual daging di Pasar Inpres Kalianda.
Ia mengatakan, dengan membeli kepada peternak secara langsung pedagang bisa mendapatkan harga lebih murah yang kemudian dipotong dan dijual dalam bentuk daging untuk para konsumen.
"Setiap hari pedagang paling banyak menghabiskan antara satu sampai dua kuintal atau satu ekor sapi yang telah dipotong," kata dia.
Lampung memiliki potensi pengembangan penggemukan sapi potong karena tersedia lahan dan pakan untuk ternak ruminansia itu, dan sekarang ini terdapat enam lokasi industri penggemukan sapi potong (feedlotter) belum termasuk usaha penggemukan oleh koperasi dan perorangan terutama di Kabupaten Lampung Tengah.
Enam lokasi itu terdapat di Lampung Tengah tiga perusahaan penggemukan sapi, Lampung Selatan dua, dan Lampung Timur satu tempat penggemukan sapi.
Pakan ternak di daerah itu juga cukup melimpah karena Lampung memiliki bahan baku yang berasal dari komoditas pertanian dan perkebunan sebagai penghasil jagung, ubikayu, nenas, kelapa sawit dan lain-lain.
Selain itu, Lampung juga terdapat industri penggilingan beras yang hasil sampingannya berupa dedak halus sebagai bahan baku pembuatan konsentrat yang sangat dibutuhkan oleh ternak.
Hasil sensus BPS dan Ditjen Peternakan Kementerian Pertanian menunjukkan jumlah sapi potong per Juni 2011 di Lampung mencapai 742.776 ekor, sedangkan persediaan sapi di sejumlah lokasi penggemukan sapi di Provinsi Lampung pada November 2012 tercatat 40 ribu ekor
Pewarta :
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
