
Anak Diganggu Menderita Saat Dewasa

Hampir 200 anak mengakui mereka mengganggu anak lain; 112 hanya jadi pengganggu, sedangkan 86 menjadi pengganggu dan korban."
Washington (Antara/Xinhua-OANA) - Anak-anak yang diganggu dan mendapat perlakuan kasar akan tumbuh dewasa dengan peningkatan resiko terserang gangguan cemas, depresi dan pikiran untuk bunuh diri, demikian hasil satu studi yang dipimpin oleh peneliti di Duke University.
Dengan menggunakan Great Smoky Mountain Study, tim peneliti tersebut mengambil sampel yang dilandasi masyarakat sebanyak 1.420 anak yang berusia sembilan, 11 dan 13 tahun dari 11 kabupaten di bagian barat North Carolina.
Anak-anak, yang mulanya didaftar pada 1993, dan orang tua mereka atau perawat diwawancarai setiap tahun sampai anak kecil itu berusia 16 tahun, lalu secara berkala setelah itu.
Dalam setiap penilaian sampai mereka berusia 16 tahun, anak tersebut dan perawat mereka ditanya, antara lain, apakah anak itu telah diganggu dan dikasari atau dirayu atau telah mengganggu anak lain dalam tiga bulan menjelang wawancara.
Secara keseluruhan 421 anak atau remaja peserta studi itu --26 persen anak-- melaporkan pernah diganggu satu kali; 887 mengatakan mereka tak mengalami pelecehan semacam itu, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis siang. Anak lelaki dan perempuan melaporkan berbagai peristiwa dengan jumlah yang kurang lebih sama.
Hampir 200 anak mengakui mereka mengganggu anak lain; 112 hanya jadi pengganggu, sedangkan 86 menjadi pengganggu dan korban.
Dari 1.420 anak pada awal studi, lebih dari 1.270 diikuti perkembangan mereka sampai mereka dewasa. Wawancara selanjutnya meliputi pertanyaan tentang kesehatan psikologis peserta,
Saat dewasa, mereka yang mengatakan mereka telah diganggu dan dikasari, ditambah mereka yang menjadi korban dan pelaku, menghadapi resiko lebih besar untuk mengalami gangguan kejiwaan dibandingkan dengan akan yang tak memiliki catatan diganggu.
Anak kecil yang hanya menjadi korban memiliki tingkat lebih besar untuk menghadapi gangguaan depresi, gangguan rasa cemas, kecemasan umum, gangguan panik dan rasa takut terhadap ruang terbuka.
Anak yang menjadi pengganggu dan korban memiliki tingkat lebih tinggi terhadap semua gangguan cemas dan depresi, ditambah tingkat lebih tinggi pikiran untuk bunuh diri, gangguan depresi, rasa cemas umum dan gangguan panik. Pengganggu juga menghadapi peningkatan resiko gangguan kepribadian anti-sosial.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
