Logo Header Antaranews Lampung

Kegetiran dari Kampung Nyalindung

Senin, 11 Februari 2013 21:34 WIB
Image Print

Puluhan ibu menggendong bayinya di dekat tenda penimbangan anak dan tak jauh dari kerumunan itu, anak-anak usia 3--7 tahun berbaris untuk mendapatkan makanan tambahan yang dibagikan beberapa orang, akhir pekan lalu.

Mereka adalah warga Kampung Nyalindung, Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Jonggol, Kabupaten Bogor, yang sedang mengikuti kegiatan Posyandu. Meski gerimis dan lapangan agak becek, mereka tetap bertahan menunggu giliran penimbangan bayi.

Di pojok tenda, anak-anak secara berurutan mendapatkan susu, nutrisi tambahan, dan bingkisan. "Jarang sekali ada kegiatan seperti ini," kata Ibu Siti usai menimbang anaknya.

Dia mengemukakan, Posyandu di kampung itu tidak aktif. Tenaga kesehatan, seperti dokter, mantri, dan bidan juga tidak ada di kampung ini. Begitu pula, penyuluhan mengenai kesehatan dan gizi jarang sekali dilakukan di sini.

Beberapa ibu mengemukakan, jangankan dokter dan mantri, bidan pun tak ada di kampung ini. Jangankan puskesmas dan puskesmas pembantu atau pos kesehatan dan klinik, posyandu yang ada saja tidak aktif.

Warga amat membutuhkan penyuluhan kesehatan dan tersedianya sarana kesehatan yang memadai.

"Posyandu tidak aktif lagi dalam beberapa bulan terakhir," kata seorang ibu sambil menggendong balita berusia enam bulan.

Karena itu, ketika di kampung ini diselenggarakan bakti sosial dalam rangka Peringatan Hari Gizi Nasional pada tanggal 25 Januari 2013, warga serentak gembira menyambutnya.

Di Nyalindung ada 103 kepala keluarga (KK) atau 416 jiwa yang waktu itu berkumpul dalam kegembiraan.

Agak sulit memahami kehidupan masyarakat bisa "survive" di kampung ini tanpa dukungan sarana dan prasarana atau infrastruktur kesehatan memadai. Akan tetapi, masyarakat memiliki caranya sendiri untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.

"Kampung ini ada dan kami hidup secara turun-termurun di sini, tetapi kehidupan tidak mengalami kemajuan dari waktu ke waktu," kata Ketua RW 04 Kampung Nyalindung Cecep Putra.

Tidak adanya sentuhan kebijakan kesehatan yang memadai mengakibatkan warga kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan. Apalagi sarana dan tenaga medis (dokter atau mantri) dan bidan tak ada di kampung ini.

Halimah, misalnya, hanya memberi makan kepada anak-anaknya nasi dengan lauk seadanya. Salah satu lauk yag sering diberikan adalah ikan asin. "Karena hanya itu yang kami mampu dan kami punya," katanya.

Ibu yang sedang mengandung atau hamil juga tidak memperoleh pemeriksaan kesehatan secara rutin.

"Dari anak pertama sampai anak ketiga, saya tak pernah periksa ke bidan atau mantri, apalagi dokter. Karena tak ada di sini," katanya.

Kalau ada masalah dengan kandungannya, penduduk di kampung ini semata-mata mengandalkan "paraji" (dukun beranak). Begitu juga kalau melahirkan, hanya dengan bantuan "paraji".

Kalau ada yang sakit, mereka harus berobat di tempat yang jauh dan sulit. Akibat jauh dan sulitnya jarak yang harus ditempuh, warga pun malas berobat.

Untuk berobat ke Puskesmas Sukamakmur saja, warga harus menempuh jarak sekitar tujuh kilometer dengan jalan yang sangat sulit ditempuh dengan sepeda motor.

Akibat minimnya pengetahuan mengenai kesehatan dan sanitasi, umumnya warga setempat tidak memperhatikan pentingnya jamban dan WC yang dilengkpi "septictank".

Sebagian besar warga kalau mau kencing atau buang air besar (BAB) di kebun. Kalaupun ada warga yang punya tempat khusus semacam WC, maka masih sebatas "WC cemplung" (WC yang ada lubang pembuangan tinja tetapi tidak dilengkapi penutup lubang).

"Hanya sekitar 15 persen warga yang memiliki WC memadai, lainnya masih melakukannya di kebun," kata Cecep Putra.

Di tengah gencar perkembangan berbagai bidang, kata dia, masyarakat Kampung Nyalindung harus menahan kesabaran dan terus ikhlas untuk menerima kenyataan.

Mereka tampaknya juga harus memendam perasaan betapa timpangnya deru traktor-traktor pembangunan dan melesatnya teknologi serba guna.

Sulit diakses
Tokoh masyarakat Kampung Nyalindung, Nurdin, mengemukakan bahwa kampung ini berada ujung timur dan utara Desa Pabuaran.

"Jalannya mantaplah. Terima kasih kalau ada yang peduli kepada kampung kami ini," katanya.

Bagi Nurdin, sedikit pihak yang peduli dengan kehidupan masyarakat kampung ini. Bahkan, kenyataan yang dihadapi warga sehari-hari, peran pererintah seolah tidak ada dan deru pembangunan belum terasa di sini.

Akses jalan ke kampung ini yang menyebabkan kehidupan masyarakat terisolasi. Hal itu mengakibatkan kemiskinan di tengah masyarakat. Di Pabuaran, kata dia, ada yang kena gizi buruk. "Kami harus bergerak cepat," katanya.

Dia berharap keadaan Nyalindung disampaikan kepada bupati setempat dan para pejabat pemerintah bahwa tak jauh dari Ibu Kota Negara dan pusat-pusat pertumbuhan di sekitarnya, masih ada kampung seperti ini. "Tolong sampaikan, wilayah kami seperti ini," katanya.

Meski demikian, warga masih bersyukur kampung ini belum lama mendapat jaringan listrik. "Kampung kami baru 'merdeka' dengan adanya lsitrik, setahun yang lalu. Dari 'off road' beberapa tahun lalu ada bantuan, jadilah masjid ini," katanya.

Menurut dia, kalau pun ada pihak yang mencoba peduli dengan masyarakat kampung ini, belum tentu niat itu terwujud. Hal itu karena sulitnya medan yang harus dilalui untuk sampai ke kampung ini. "Banyak bantuan tidak sampai ke sini," katanya.

Bukan korupsi yang menyebabkan bantuan tidak sampai masyarakat, melainkan sulitnya membawa bantuan sosial mengingat sulitnya menembus medan jalan yang ada.

Hal itu yang menyebabkan tenaga kesehatan tidak ada yang mau ke kampung ini akibat sulitnya menempuh perjalanan yang harus berliku, terjal, bebatuan, berlumpur tajaman-tajam, dan licin pada musim hujan.

Jika musim hujan, kehidupan seolah terhenti di kampung ini karena aktivitas ke kebun tak bisa dilaksanakan. Pada saat musim hujan pula, sedikit sekali kendaraan dari luar yang bisa masuk ke kampung ini, bahkan motor sekalipun.

Menuju Kampung Nyalindung tak ubahnya menyusuri sebuah ironi karena letak wilayahnya yang tak terlalu jauh dari Jakarta. Dari Tugu Monas di Jakarta Pusat ke Nyalindung sekitar 50 kilometer.

Bahkan, di mesin pencari data di internet sekalipun, sebelumnya tak ditemukan informasi atau data mengenai Kampung Nyalindung yang lokasi tak jauh dari Jonggol.

Yang ada adalah Kampung Nyalindung di daerah Gunung Geulis Bogor dan Nyalindung yang ada di Sukabumi, Jawa Barat.

Padahal untuk ke Nyalindung di Sukamakmur, bisa ditempuh dari Jakarta sampai tol Jagorawi keluar pintu keluar Cibubur. Begitu juga dari Cibubur sampai Jonggol, jalanan membuat mata terlelap.

Akan tetapi, dari Jonggol--yang pernah direncanakan sebagai calon Ibu Kota RI--perjuangan sebenarnya baru dimulai untuk menembus medan berat ke Nyalindung.

Hanya kendaraan gardan ganda (4x4) yang bisa menembus medan berat dan memecah isolasi wilayah. Puluhan anggota Komunitas Trooper Indonesia membuktikan kepiawaiannya menembus medan berat.

Mereka bisa menembus jalan terjal, jalan berlumpur, dan berbatu yang curam dalam waktu sekitar lima jam hanya untuk jarak sekitar 8 kilometer dari Jonggol

Bagi anggota Komunitas Trooper Indonesia, kapan pun bisa menembus kesulitan untuk masuk dan keluar dari kampung ini. Akan tetapi, bagi yang lain, masyarakat setempat atau pihak lain yang tidak memiliki sarana memadai untuk bisa menaklukkan medan berat di perbukitan ini, hanya bisa pasrah dan tak jarang menyerah begitu saja.

Bagi yang bisa menembus, setiba atau keluar dari kampung ini kendaraan seperti kerbau yang baru beranjak dari kubangan lumpur merupakan hal biasa. Mereka biasa "jungkir-balik" di arena yang sangat sulit.

Sepanjang perjalanan berlangsung hujan rintik dan kendaraan "off road" merayap di jalan di tengah perkebunan dan belukar.

Di tanjakan Karang Saat, Desa Cibodas, "off roader" harus berjuang keras. Beberapa kendaraan harus ditarik karena kesulitan naik di tanjakan terjal, berlumpur, dan licin. Kendaraan gardan ganda saja sulit melalui, apalagi kendaraan dengan standar biasa.

"Butuh nyali untuk bisa menembus Nyalindung ini Om," kata seorang "off roader" setelah bisa "menyelesaikan" tanjangan Karang Saat. Di kalangan "off roader" ini, sebutan "om" sangat umum digunakan dalam komunikasi antaranggota.

Di sepanjang jalan keluar atau menuju ke kampung ini tak jarang ada petani di ladang atau kebunnya. Di tengah musim hujan seperti ini, sering terlihat pisang dan buah-buahan matang di pohon. Tanaman padi gogo tumbuh subur dan petaninya sibuk menyiangi rumput di sela-sela batang padi lahan kering itu.

Selain buah-buahan dan padi gogo, warga juga menanam kayu sengon, jabon, dan albasia. Semua itu akan memberi hasil bagi warga. "Akan tetapi, banyak lahan di sini yang dimiliki orang Jakarta dan para pejabat penting. Seperti sengon atau jabon ini," kata seorang penduduk.

Subur
Beberapa penduduk mengemukakan, kalau musim hujan, mereka sangat mengalami kesulitan untuk memasarkan hasil perkebunan karena sepeda motor tak bisa melintasi medan yang sulit. Akibatnya, tak jarang ada buah yang matang kemudian busuk di pohon. Lokasi pasar yang jauh dan topografi yang sulit menyebabkan hasil kebun dan ladang sulit dipasarkan.

Hal itu menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan di kampung ini. Kemiskinan di sini sangat ironi karena kebun dan ladang bisa menghasilkan buah atau kayu yang nantinya bisa dijual. Akan tetapi, letak geografis yang terisolasi mengakibatkan warga kesulitan memasarkan hasil.

Menurut pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr. Ahmad Sulaeman, kurangnya penyuluhan kesehatan menyebabkan pengetahuan dan pemahaman mengenai gizi masyarakat setempat sangat memprihatinkan.

Penduduk di Kampung Nyalindung juga sering mengonsumsi pangan yang tidak bergizi dan tidak memiliki pengetahuan terkait dengan gizi.

"Masyarakat di sana tergolong miskin, tetapi hidup di atas lahan yang subur. Padahal bila mendapat perhatian melalui edukasi dan pelatihan, potensi desa ini bisa dikembangkan dan masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang sangat besar," katanya.

IPB akan menugaskan mahasiswa di Kampung Nyalindung melalui program kuliah kerja profesi (KKP).

"Kampung ini benar-benar terisolasi sehingga harus mendapat perhatian serius," katanya.

Dalam analisisnya, Kampung Nyalindung sebenarnya memiliki sumber pangan lokal yang sangat banyak. Namun, masyarakat harus diberdayakan dan diberi pengetahuan mengenai cara pengolahannya. Masyarakat juga harus diberi pengetahuan mengenai kandungan gizi dan khasiat berbagai tanaman bagi kesehatan.

Di sini banyak sumber pangan lokal yang bergizi, namun masyarakat tak memahaminya. Sumber obat-obatan juga banyak di kampung ini.

"Masyarakat tak tahu kalau daun 'babadotan' berkhasiat untuk sakit maag dengan hanya diremas-remas lalu airnya diminum," katanya.

Tanaman "babadotan" umumnya dianggap rumput dan dibuat (dicabut) begitu saja.

Di kampung ini juga banyak warga mananam ubi jalar. Daun ubi jalar sering dibiarkan dan dibuang begitu saja, padahal kalau direbus bisa untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit, termasuk meningkatkan trobosit bagi penderita demam berdarah dengue (DBD).

Kampung Nyalindung juga kaya buah-buahan. "Pokoknya di sini banyak sekali bahan pangan lokal yang menyehatkan. Oleh karena itu, sangat menyedihkan kalau ada gizi buruk," katanya.

Satu hal yang juga menyedih dari fakta kehidupan masyarakat Kampung Nyalindung adalah minimnya pengetahuan dan pemahaman mengenai perkawinan. Banyak terjadi kawin muda di sini. "Anak-anak perempuan yang baru beranjak ABG, seumuran 11--12 tahun asalkan sudah menstruasi, dikawinkan," katanya.

Hal itu, kata dia, mencerminkan warga tak punya pandangan atau pilihan lain akibat keadaan kampungnya yang terisolasi. Yang terjadi kemudian adalah banyaknya ibu-ibu muda menggendong anak saat penimbangan bayi, padahal sebenarnya mereka masih umur belasan tahun.

Ahli penyuluhan dan pembangunan dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Dr. Ninuk Purnaningsih juga menekankan pentingnya edukasi gizi bagi warga setempat.

Menurut dia, ironis warga kampung ini menghadapi gizi buruk. Hal itu terjadi akibat kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan, ketidaktahuan mengenai pengelolaan sumber pangan lokal, dan perilaku keseharian mereka.

"Kita harus mendorong mereka supaya sadar mengenai gizi," kata Ninuk.

FEMA IPB telah bekerja sama dengan PT Sarihusada dalam program edukasi gizi bagi penggiat gizi masyarakat melalui program "Ayo Melek Gizi Community and Nutrition Education Center" (AMG Connect).

Program itu telah diikuti hampir 400 kader posyandu dan pegiat gizi masyarakat. Program ini akan semakin ditingkatkan dan diperluas sehingga bisa menjangkau semua daerah terisolasi, termasuk Kampung Nyalindung.

Semua itu untuk mengakhiri ironi yang telah berkepanjangan di kampung yang tak jauh dengan Jakarta ini.




Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026