Logo Header Antaranews Lampung

Pimpin Jakarta, Jokowi "Blusukan"

Sabtu, 20 Oktober 2012 08:17 WIB
Image Print

Jakarta (ANTARA LAMPUNG) - Akhirnya, ibu kota Indonesia, DKI Jakarta telah memiliki gubernur baru yang dilantik pada Senin (15/10), di Balai Kota Jakarta bernama Joko Widodo yang merupakan mantan Wali Kota Surakarta.

Saat berorasi di atas tenda yang disulap menjadi panggung berwarna merah-putih di depan Kantor DPRD DKI Jakarta, Gubernur yang memiliki sapaan akrab Jokowi bersama Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama melambaikan tangannya, sembari melempar senyum khas kepada warga yang bersorak menyambut pemimpin baru mereka.

Ketika berada di atas panggung, Jokowi berulangkali menundukkan kepalanya kepada warga yang hadir sebagai simbol terima kasih kepada warga yang telah mempercayakan dirinya untuk memegang jabatan DKI-1 itu.

"Tidak ada kata yang lebih baik yang ingin kami sampaikan kecuali terima kasih yang sebesar-besarnya," kata Jokowi saat orasi.

Dia meminta masyarakat untuk terus mengawal kepemimpinannya sehingga program yang dibutuhkan oleh warga DKI Jakarta dapat terpenuhi dengan baik.

Selain meminta "pengawalan" dari warga, Jokowi juga menegaskan akan berjalan dari kampung ke kampung ("blusukan") setiap hari untuk mengamati permasalahan di RT dan RW sebagai lembaga musyawarah masyarakat.

"Untuk bidang kesehatan dan pendidikan seperti yang saya sampaikan, saya mohon doa restu ibu bapak sekalian semoga nanti segera cepat kami sampaikan kepada seluruh masyarakat DKI Jakarta," ujar Jokowi menegaskan.

Hari pertama (16/10) setelah pelantikan, Jokowi langsung menunaikan janjinya mengunjungi sejumlah wilayah kumuh di DKI Jakarta seperti di Pademangan, Jakarta Utara dan Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Kedua wilayah itu rawan banjir karena berada di pinggiran Sungai Ciliwung yang memang kerap meluap baik disaat musim hujan maupun kemarau jika terjadi hujan di wilayah selatan Jakarta.

Dengan mengenakan kemeja putih saat keluar dari balai kota, dia mengatakan, "agenda jalan-jalan hari ini adalah mau menyelesaikan sejumlah kampung kumuh dan akan dilihat seperti apa dan akan disegerakan kapan perbaikannya".

Bukan Sekadar Membangun
Menurut Jokowi, dengan melihat secara langsung keadaan kampung di Jakarta, maka pengambilan keputusan untuk program pembenahan Jakarta tepat sasaran, bukan hanya sekedar membangun.

"Ini yang mau kami benahi, kalau semua dikerjakan ya tidak rampung semua," tambah Gubernur.

Berbeda dengan sejumlah pemimpin sebelumnya, Jokowi saat melaju di jalanan kota Jakarta tidak mau menggunakan kawalan "voorijder", dengan alasan turut merasakan penderitaan warga Jakarta yang kerap mengalami kemacetan.

Hal itu membuat sejumlah petugas pengawalan alias voorijder asal Dinas Perhubungan tidak bisa bergerak cepat menerobos kemacetan di sekitaran Tebet Jakarta Timur.

"Ya tidak apa-apa (terkena macet), wong gak gimana-gimana kok," tukas Jokowi.

Saat masuk ke wilayah kumuh di Pademangan Jokowi melintasi gang sempit dan menemukan ada saluran air (got) yang dangkal.

Jokowi langsung memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo, untuk menangani pembersihan saluran air tersebut.

"Masyarakat siap nggak disuruh kerja bakti?" tanya Jokowi yang langsung serempak dijawab oleh warga dengan teriakan "siap".

Angkat Gong
"Keunikan" Gubernur baru DKI bukan cuma sampai disitu.

Pada hari kedua (17/10) seusai pelantikan, Jokowi tidak segan mengangkat gong peresmian Trade Expo Indonesia di Arena Pekan Raya Jakarta bersama Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

Tanpa menunggu bantuan dari staf protokoler Kepresidenan maupun penyelenggara acara, dia segera mengangkat penopang kiri gong, sehingga sontak membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersenyum.

Usai dari PRJ, Jokowi meluncur ke Terminal Kampung Melayu untuk memantau kualitas transportasi di ibu kota.

Dia menemukan sejumlah bus Kopaja yang telah usang dan menurut dia tidak laik jalan namun masih dioperasikan.

"Itu kan ada yang remnya tidak jelas, spedometer juga tidak ada, tempat duduknya juga sama dan lain sebagainya," ujar Jokowi.

Dia menginginkan, unit transportasi di Jakarta untuk diremajakan agar penumpang angkutan umum lebih nyaman dan pengguna kendaraan pribadi tertarik menggunakan moda tersebut.

"Saya sudah perintahkan pada Kepala Dinas Perhubungan untuk dirumuskan. Tidak tahu itu pakai pola subsidi atau pola hibah. Jangan suruh para supir membeli, sampai kapan pun tidak mungkin," tambah Gubernur.

Pola subsidi, menurut Jokowi adalah dengan menukar bus angkutan umum lama yang tidak laik beroperasi dengan satu bus baru atau sama dengan hibah.

Mengenai "Mass Rapid Transportation" (MRT) dan kereta topang "monorail", Jokowi belum bisa menjawab banyak karena masih harus menunggu presentasi dari para perusahaan pembangun seperti PT Adhi Karya maupun PT Hutama Karya.

"Pokoknya saya minta ada presentasi dulu. Kemudian yang paling penting menurut saya satu, kalkulasi biaya itu harus benar karena akan menyangkut harga tiket berapa," kata Jokowi.

Masih di Terminal Kampung Melayu dengan tanpa sambutan resmi atau panggung meriah, "keunikan" lain yang dilakukan orang nomor satu di DKI Jakarta itu adalah naik melompati "shelter" bus Trans Jakarta yang tidak biasa dilakukan pejabat ibu kota lainnya.

Pada hari ketiga (18/10), kali ini Jokowi kembali beraksi ke kampung di wilayah Jakarta Utara tepatnya Kelurahan Marunda.

Kaget Melihat Kekumuhan
Jokowi kaget melihat kondisi kampung yang kumuh di wilayah Marunda.

"Saya terkejut di Jakarta masih ada daerah (kumuh, Red) seperti ini. Rasanya seperti bukan berada di Jakarta. Kalau dibandingkan dengan pusat kota, bedanya seperti bumi dan langit," jelas Jokowi.

Jokowi berencana merancang ulang wilayah kumuh tersebut agar memiliki lingkungan yang lebih baik, namun dia juga mengaku hal itu membutuhkan waktu.

Dia menambahkan, masa perencanaan dan perancangan wilayah membutuhkan waktu kira-kira satu hingga dua bulan.

Seusai itu, Jokowi juga mengunjungi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda, dan mengatakan keprihatinannya atas kondisi gedung yang rusak.

"Pintunya lepas, jendelanya lepas dan catnya juga sudah mengelupas semua. Dari 26 blok, masih ada 19 blok yang belum terisi. Ini sayang sekali," kata Jokowi, saat berkunjung ke rusunawa tersebut.

Tidak hanya gedung dan transportasi, Kanal Banjir Timur juga tidak luput dari pengawasan Jokowi saat ke Marunda.

Dia mengatakan fungsi kanal tersebut belum sepenuhnya maksimal karena terdapat beberapa sumbatan air akibat tumbuhan eceng gondok yang menutupinya.

"Enceng gondoknya banyak sekali, jadi menyumbat aliran air, makanya terjadi banjir. Persoalan inilah yang ingin saya tunjukkan kepada kepala dinas DKI," kata Jokowi.

Gubernur juga berniat membuat bantaran kanal sebagai tempat rekreasi bagi warga setempat dengan menempatkan bangku taman.

Tanggapan Staf dan Warga
Namun, "blusukan" ala Jokowi tersebut sepertinya bukan hal yang biasa bagi sejumlah staf di Balai Kota maupun petugas Dinas Perhubungan yang memberi pengawalan.

"Kami tadi tidak kawal beliau, hanya saja di dalam kendaraan Gubernur juga ada Kepala Dishub, sehingga kami berjaga-jaga saja," kata petugas Dishub yang tidak mau disebut namanya di Terminal Pulo Gadung pada Rabu (17/10).

Dia mengeluhkan bukan hanya kemacetan yang menghambat, namun juga waktu kedatangan Gubernur yang menjadi tidak menentu sehingga petugas kebingungan menyesuaikan penjagaan.

"Kami 'kan penjagaan tidak hanya ini saja, sehingga ada acara yang terlewatkan," ujar petugas itu pula.

Lain staf, lain juga dengan pendapat masyarakat.

Kisah "blusukan" Jokowi ini dikatakan Jumadi (47) warga Cipinang Muara, Jakarta Timur pada Kamis (18/10), justru merupakan kegiatan yang dinantikan masyarakat.

"Saya inginnya beliau terus seperti itu, dekat dengan masyarakat, kalau sampai berubah atau tidak lagi kunjungi kampung, warga nanti kecewa pasti," ujar Jumadi.

Dia mengaku "kelakuan" Gubernur yang satu ini dengan tidak mengindahkan protokoler dan penjagaan, malah membuat dirinya dekat dengan warga.

"Tapi juga jangan hanya jalan-jalan saja, harus ada hasil kerjanya dan sepertinya warga sangat berharap kepada dia kalau melihat dari televisi, jadi jangan kecewakan harapan kami," kata dia lagi.

Kendati belum pernah didatangi Jokowi, Jumadi menyampaikan keluhan yang terjadi di wilayahnya, yakni Kali Cipinang Muara yang pada dahulu ada aliran air, namun saat ini kering karena musim kemarau dan aliran air yang tersendat di kanal banjir timur.

"Itu (kanal, Red) membuat sungai di sini surut dan akhirnya sungai diisi berbagai sampah dari warga sehingga kalau ada air yang datang maka nyamuk akan tambah banyak dan menempati sampah di sungai itu," ujar Jumadi pula.

Jokowi bersama Ahok sudah jadi pemimpin Jakarta.

Mereka berdua harus membuktikan harapan besar warga ibu kota, untuk mewujudkan impian Jakarta Baru seperti didengungkan sebelumnya.



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026