
Frasa-Frasa Janggal

"Tentu tidak masuk akal bahwa "kemampuan berpikir bisa atau perlu dikenang".
Dalam pengalaman berbahasa sehari-hari, hampir semua orang sering tidakmenyadari bahwa suatu kata atau frasa (gabungan dua atau lebih kata yang tidakmemiliki kaitan predikat) yang mereka ucapkan berkali-kali mengandung maknayang janggal, unik alias tidak lazim jika dipahami maknanya secara logis.
Kejanggalan itu bisakarena aspek semantik atau maknawinya, maupun aspek sintaksis ataugramatikanya. Tampaknya hal ini merupakan gejala universal dalam duniakebahasaan, begitu juga yang terjadi untuk bahasa Indonesia.
Mari menelusurifrasa-frasa janggal dalam khazanah bahasa Indonesia. Mulai dari masa duduk dibangku sekolah dasar hingga masa dewasa, warga Indonesia pastilah akrab denganfrasa ini: "mengheningkan cipta". Frasa ini dipakai sebagai ungkapanuntuk suatu momentum dalam upacara bendera di sekolah-sekolah, yang di era 70sampai 80 an dilaksanakan setiap hari Senin. Perkembangan berikutnya setiapbulan setiap tanggal 17. Puncaknya terjadi pada bulan Agustus, yang bertepatandengan peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Apa makna frasa"mengheningkan cipta"? Rata-rata pengucap dan pendengar frasa ini takmempersoalkan lagi maknanya. Ya, pokoknya semacam berdoalah. Kalau pembina ataukomandan upacara mengatakan: "Mari kita mengheningkan cipta untukmengenang jasa para pahlawan", peserta upacara segera tahu maksudnya.Mereka merundukkan kepala dalam beberapa menit, mendengar lagu instrumentalia"Hymne Pahlawan" sambil mengucapkan doa-doa sesuai dengan agamamasing-masing. Dengan demikian, "mengheningkan cipta" semakna dengan"berdoa". Arti ini tak jauh berbeda dengan makna yang diberikan KamusBesar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni "bertafakur", "diam merenungarwah", "bersamadi".
Namun, jika dikupasmaknanya kata per kata, frasa itu terasa sekali kejanggalannya. Coba simak:"mengheningkan" bermakna "berdiam","mengenangkan" sedangkan "cipta" bermakna "kemampuanpikiran mengadakan sesuatu yang baru" atau "angan-angan yangkreatif". Jadi, dalam kedua pengertian itu, "mengheningkancipta" bermakna "berdiam atau mengenangkan kemampuan pikiranmengadakan sesuatu yang baru". Tentu tidak masuk akal bahwa"kemampuan berpikir bisa atau perlu dikenang". Jadi secaraharfiah, frasa-frasa janggal tidak bisa dipahami. Pemaknaan frasa-frasa sepertiitu harus dilakukan secara metaforik.
Karakter frasa janggalsewarna dengan idiom atau ungkapan, yang harus dimengerti secara keseluruhantanpa dipecah-pecah makna berdasarkan satuan kata. Terhadap frasa "mengheningkancipta" yang ganjil itu, seseorang bisa melakukan interpretasi. Ya, inisemacam menafsir baris-baris puisi. Ada risiko spekulatif. Berikut ini adalahsalah satu tafsir atas "mengheningkan cipta". Boleh jadi, sangpengubah frasa itu memaksudkan kata "cipta" sebagai"ciptaan Tuhan". Dengan demikian ajakan "mengheningkancipta" adalah ajakan "merenungkan semesta ciptaan Ilahi".
Ketika seseorang dalamsuasana batin "merenungkan ciptaan Ilahi", yang muncul tak lainadalah rasa syukur, rasa haru. Munculnya perasaan yang mendekati dimensireligius itu secara otomatis mendorong seseorang untuk berdialog dengan SangIlahi. Dialog paling lazim adalah mengucapkan doa-doa atau puji syukur. Karenakonteks upacara bendera adalah lahirnya fakta negara bangsa, yang diperjuangkandengan berdarah-darah oleh para pejuang kemerdekaan, logislah jika"mengheningkan cipta" itu diorientasikan bagi usaha mengenang kembali jasa danpengorbanan para perintis dan pejuang kemerdekaan.
Di kalangan penggunabahasa substandar, frasa janggal juga bertebaran. Salah satunya, yang cukupmutakhir adalah frasa yang terbentuk atas nomina dan ajektiva"banget". Anda bisa menyusun frasa janggal dengan konstruksi demikianseperti: "Indonesia banget", "Pancasila banget", "LSMbanget" dan seterusnya. Frasa semacam itu dimaksudkan menciptakan suatukata sifat dengan merujuk karakter atau watak paling kental dari nomina yangdipakai.
Ada juga yangmempersoalkan frasa-frasa berikut ini: "menanak nasi", "menggalilubang". Kata orang yang usil: "mestinya menanak beras, menggalitanah. Masak nasi ditanak. Masak lubang digali". Jika frasa demikiandianggap ganjil, frasa "memasak rawon" pastilah janggal juga sebab"bukan rawon yang dimasak tapi daging beserta bumbu-bumbunya. Frasa"menjahit baju" juga jadi janggal sebab "yang dijahit adalahpotongan-potongan kain untuk dijadikan baju".
Semua kejanggalan frasadi alinea atas itu bisa dinormalkan dengan mengganti verba spesifik tersebutdengan verba yang umum "membuat". Jadi membuat nasi, membuat lobang,membuat rawon, membuat baju. Jika ini dilakukan, ungkapan jadi kehilangantenaga khususnya, ketajamannya. Memang ada paradok dalam pembentukanfrasa-frasa janggal itu. Ketika verba yang khusus dipilih, munculnya pemaknaanyang terasa menyimpang dari yang dituju.
Frasa "menanaknasi" bisa juga dipahami begini: frasa itu sebetulnya bentuk ringkas,alias frasa eliptik dari serangkaian ungkapan "menanak beras untuk membuatnasi". Begitu juga dengan "menggali lubang" adalah bentuk ringkasdari "menggali tanah untuk membuat lubang". Dengan landasan "the least effort principle", alias prinsip ikhtiar terminim,ungkapan lima kata itu diringkus menjadi dua kata saja.
Bagi sejumlah penggunabahasa yang berhasrat meluruskan segaja sesuatu yang terasa janggal, pilihanuntuk membetulkan yang salah kaprah terasa dominan. Mereka bersikeras untukmengatakan "menanak beras" dan "menggali tanah". Pilihansikap seperti ini tentu tak kalah janggalnya. Sebab, mereka juga akan mengubahkhazanah peribahasa yang menjadi harta kultural bangsa. Mereka akan meralatsejumlah ungkapan atau pepatah jadi "beras sudah menjadi bubur" dan"membuat lubang, menimbun lubang" alih-alih "nasi sudah menjadibubur" dan "gali lubang, tutup lubang".
Ternyata, usahameluruskan yang janggal bisa melahirkan kejanggalan yang lebih parah. Jadi,biarlah frasa-frasa janggal itu tetap tampil dengan keunikannya, karena itulahyang memperkaya warna dan watak sebuah bahasa!
Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor:
Gatot Arifianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
