Logo Header Antaranews Lampung

Selamatkah Suami Saya ?

Rabu, 26 September 2012 18:19 WIB
Image Print
"Kami tidak berhasil mengangkat korban mengingat beratnya barang yang menggenjetnya, serta saat itu air sudah mulai memenuhi seluruh ruangan dek,"

Maisah (29), sambil menggendong bayinya berumur enam bulan, menatap nanar satu persatu penumpang yang selamat dari musibah tenggelammnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Bahuga Jaya, yang dikumpulkan di ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni.

Kapal feri itu tenggelam pada Rabu dini hari, sekitar pukul 04.30 WIB di perairan Pulau Rimau Balak atau empat mil dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Namun, dari ratusan penumpang yang berhasil dievakusi di Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan, tidak terlihat sosok Yuliantoni (30) yang tidak lain suami Maisah yang diketahui berada di dalam kapal nahas tersebut.

Maisah sambil menggendong anak keduanya itu terus berusaha mencari informasi tentang keberadaan suaminya tersebut kepada sejumlah penumpang yang selamat, namun tidak ditemukan jawaban yang pasti.

Warga Desa Sukajaya Tanjungan Lampung Selatan itu langsung lemas dan menangis sejadinya saat salah seorang penumpang selamat mengabarkan bahwa Yuliantoni terjebak di dalam kapal karena tergencet barang bawaan truk yang ditumpanginya.

"Belum tau mas, gimana nasib suami saya apa masih hidup atau meninggal," kata dia sambil mengusap air matanya.

Ia mengatakan, menurut penuturan sejumlah penumpang, Yulianto terjepit muatan truk berupa semen dan ia sempat meminta tolong kepada penumpang lain, namun tidak berhasil mengingat beratnya tumpukan barang bawaan truk tersebut; sementara air telah menggenangi dek kapal itu.

"Saya berharap ada keajaiban. Semoga suami saya selamat dan kembali berkumpul dengan keluarga," ujarnya.

Ia menuturkan, Yulianto baru bekerja dua hari sebagai kernet truk muatan semen dan pekerjaan itu dilakukan untuk memenuhi biaya hidup bersama dua anak umur enam tahun dan enam bulan.

Sebelumnya, ia tidak memiliki firasat aneh suaminya bakal terkena musibah seperti itu dan berharap selamat dan berkumpul kembali bersama keluarga.

Muen, salah seorang penumpang selamat mengatakan, peristiwa tenggelamnya KMP Bahuga Jaya yangh ditabrak kapal tanker berbendera Singapura terjadi begitu cepat.

"Kapal terguncang hebat setelah dihantam kapal tanker dan penumpang kaget," kata dia.

KMP Bahuga Jaya lanjut dia, langsung miring dan kepanikan penumpang berjumlah ratusan tersebut langsung pecah. Mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mencari pelampung.

"Saya dari dek penumpang turun ke dek kendaraan untuk mengambil berkas di mobil box, tapi terlambat mengingat air semakin tinggi," jelasnya.

Ia juga sempat mendengar orang meminta tolong dari seseorang yang terjepit di barang bawaan truk.

Korban yang meminta tolong itu lanjut dia, sebelumnya berada di kap atas truk tengah tertidur dan tersadar setelah kapal oleng dan truk beserta barang bawaannya menimpanya.

"Kami tidak berhasil mengangkat korban mengingat beratnya barang yang menggenjetnya, serta saat itu air sudah mulai memenuhi seluruh ruangan dek," jelas dia.

Muen sopir mobil box pengangkut minuman ringan itu menuturkan, dirinya tidak mengetahui nasib korban tergenjet truk beserta barang muatannya itu, apakah selamat atau tidak.

Namun ia mengakui berhasil menolong nenek-nenek yang baru ke luar dari WC yang tidak dapat berjalan karena shok akibat musibah tersebut.

"Nenek itu terpaksa saya geret menuju atas dan kemudian diberikan baju pelampung," katanya.

Siapkan Tim Penyelam

Diperkirakan masih ada korban yang belum berhasil dievakuasi hingga Rabu sore.

Terkait itu, Basarnas menyiapkan tim penyelam untuk mengevakuasi korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Bahuga Jaya itu.

"Selain dari Basarnas, Dinas Perhubungan Provinsi Lampung juga menyiapkan delapan orang penyelam," kata Deputi Operasional Basarnas Mayor Jenderal Hadi Lukmono, di Bakuheni Lampung Selatan, Rabu.

Ia menyebutkan, teknis pencarian korban, yakni dengan mencari tempat tenggelamnya kapal feri tersebut, kemudian memasang tali menuju ke bawah tempat lokasi KMP Bahuga tenggelam.

Terkait belum dilakukan evakuasi hari ini, Hadi menjelaskan kondisi cuaca buruk di perairan Selat Sunda yang menyebabkan evakuasi korban tidak dilalukan.

"Mudah-mudahan besok pagi cuaca bagus dan arusnya tenang sehingga tim evakuasi dapat melaksanakan tugasnya," kata dia pula.

Hadi Lukmono mengatakan, kedalaman air laut tenggelamnya kapal tersebut sekitar 50 meter dan diperkirakan ada korban lain di KMP Bahuga Jaya.

Ia menambahkan, pihaknya juga telah membuat posko laporan kehilangan korban kapal tenggelam tersebut sehingga juga dapat diketahui jumlah korban baik yang mengalami luka-luka, selamat dan meninggal dunia.

"Korban yang telah dievakuasi sebanyak 215 orang dan delapan orang meninggal dunia," kata dia menambahkan.

Sementara itu, Komandan Brigif-III Marinir Piabung Kolonel Hardimono mengatakan, pihaknya juga akan menerjunkan satu grup penyelam dengan membawa perlengkapan lengkap untuk mengevakuasi korban yang diperkirakan masih berada di dalam KMP Bahuga Jaya.

"Kami telah menyurvei lokasi tenggelamnya kapal Bahuga Jaya dan siap diterjunkan ke lokasi tersebut, untuk teknis evakuasi mengikuti operasional dari Basarnas," jelas dia.

Selain menyiapkan tim penyelam, lanjut dia, Korps Marinir juga telah menyiapkan tim rescue termasuk tim kesehatan lapangan dan beberapa tim lain untuk mendukung operasional Basarnas.

"Di Merak, kami juga telah menyiapkan personel sekitar 20 orang, sedang di Bakauheni sendiri sekitar 30-40 personel untuk `standby`," ujarnya.

Korps Marinir, lanjut dia, siap melaksanakan tugas evakuasi korban tenggelamnya KMP Bahuga Jaya hingga selesai.

"Kami menunggu perintah, jika besok harus balik kanan ya pulang, tapi bila diperintah sebulan lagi Korps Marinir siap sesuai dengan arahan pimpinan yang merintahkan kita hingga purna kegiatan," kata dia menambahkan.***3***

(ANTARA)



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026