Sisindiran ala Udo Z Karzi

id iwan

Iwan Nurdaya-Djafar, sastrawan Lampung. (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)

Sebagai sindiran, Udo tidak menggunakan perumpamaan, melainkan langsung menembak ke pokok masalahnya."
(Buku: Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh, karya Udo Z Karzi-Zulkarnain Zubairi, telah diluncurkan dan dibahas oleh Iwan Nurdaya-Djafar/sastrawan Lampung, dan Iswadi Pratama/seniman teater, di Bandarlampung, Sabtu, 14 Juli 2012 lalu. Berikut adalah bahasan Iwan Nurdaya-Djafar mengupas buku tersebut)

Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (Indepth Publishing, 2012) adalah nonbook (nirbuku), alih-alih buku. Karena dia berisi kumpulan karangan berupa kolom (column) sebanyak 101 tulisan, yang ditulis wartawan (jurnalis) Udo Z. Karzi selama kurun waktu tiga tahun (2002-2004), dengan rincian 34 judul (2002), 33 judul (2003), 34 judul (2004), yang semula muncul di rubrik “Nuansa” harian Lampung Post. Dia tak bisa disebut buku, karena buku mengharuskan adanya benang merah antarbagian (bab) mulai dari pendahuluan sampai dengan penutup yang terjalin secara sistematis dan isinya menguraikan secara mendalam masalah tertentu di dalam suatu ranah ilmu.

Menurut thefree.dictionary.com, book (buku) adalah “the total amount of experience, knowledge, understanding, and skill that can be used in solving a problem or performing a task” (jumlah total dari pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan kecakapan yang bisa dipergunakan dalam memecahkan suatu masalah atau melaksanakan suatu tugas).

Adapun nonbook (nirbuku) adalah katabenda (noun) yang didefinisikan oleh www.yourdictionary.com sebagai “a book produced quickly and cheaply, tipically a scissors-and-paste compilation of facts, photographs, etc., often published merely to take advantage of some current vogue, fad, etc.” (sebuah buku yang diproduksi secara cepat dan murah, secara tipikal suatu kompilasi guntingan-dan-tempelan dari fakta-fakta, foto-foto, dll., sering diterbitkan hanya untuk keuntungan dari suatu mode mutakhir, dll.). Di sini, saya ingin menggarisbawahi sifat khas dari nonbook yaitu berupa kompilasi, dalam hal ini bisa juga berupa kompilasi kolom.

Demikianlah, sejatinya Udo menulis kolom (column), yaitu bagian khusus yang utama di surat kabar atau majalah.[KBBI: 581]. Oleh karena itu, Udo adalah seorang kolomnis (kolumnis), yaitu orang yang secara tetap menulis artikel di surat kabar atau majalah.[KBBI: 581]. Sebagai bandingan, The Concise Oxford Dictionary of Current English halaman 234 mengartikan kolom (column), “in newspaper (also part  of newspaper, sometimes more or less than column, devoted to special subject; di surat kabar (juga bagian dari surat kabar, kadangkala lebih atau kurang daripada kolom, yang difokuskan kepada pokok-soal tertentu).

Kamus yang sama pada halaman yang sama mengartikan columnist (kolomnis, kolumnis), sebagai “journalist who regularly contributes  to a newspaper a column of miscellany comment on people and events (wartawan yang menyumbangkan kepada sebuah surat kabar sebuah kolom berisi aneka komentar mengenai orang atau peristiwa).

Kolom agaknya sama dengan esei nonformal, yaitu karangan prosa dengan bahasa dan cara menarik. Karangan ini biasanya membahas sebuah masalah secara sepintas lalu dari sudut pribadi penulisnya. Di dalam perkembangannya kemudian, orang membedakan antara esei formal dan esei nonformal. Esei formal, yaitu karangan yang membahas suatu tema atau topik secara panjang lebar dan mendalam, dengan tinjauan yang cukup obyektif. (Panuti Sudjiman (ed), Kamus Istilah Sastra, hlm 27). Berdasarkan uraian ini, Udo Z. Karzi boleh disebut kolumnis atau eseis. Udo sendiri dengan enteng dalam ragam bahasa lisan menyebut dirinya “tukang tulis.”

Pada bagian persembahan Udo menyebut kolom-kolomnya sebagai warahan, yang dalam bahasa Lampung secara leksikal berarti cerita atau kisah; dan sebagai istilah sastra Lampung berarti prosa berirama yang galibnya mengisahkan suatu kejadian sejarah secara kronologis. Terhadap hal ini, saya justru ingin menyebutnya sebagai sisindiran, karena bertolak dari semangat menyindir itulah Udo menulis kolom-kolomnya. Sebagai sindiran, Udo tidak menggunakan perumpamaan, melainkan langsung menembak ke pokok masalah seperti tampak pada kolom bertajuk “Politisi Olahraga” (hlm 6-8) -- lebih tepat: Politisasi Olahraga -- yang menyoal ihwal salah urus olahraga di ‘Negeribatin’ Lampung.

Contoh lain, kita pergoki pada kolom “Kok Bisa?” (hlm 204-206) yang menyindir pembangunan Menara Siger. Yang disindir di sini bukan hanya pembangunan Menara Siger itu sendiri seperti ditulis Udo pada penutup kolom, “Tugu Siger, dalam pikiran Mamak Kenut dkk., bukan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak di tengah berbagai kesulitan yang tengah melanda daerah ini”; tapi juga pemberitaan di harian tempatnya bekerja seperti ditulis Udo pada pembuka kolom, “Mat Puhit tertegun membaca koran. “SBY tak Dukung Pembangunan Tugu Siger” (Lampung Post, 26 Oktober 2004 halaman 3),” begitu judul berita yang membuatnya tertawa. Soalnya, sebelumnya (Lampung Post, 20 Oktober 2004) di koran yang sama di halaman yang sama terdapat judul yang mirip “SBY Dukung Pembangunan Tugu Siger.”     

Gaya ‘tembak langsung’ model begini agaknya khas Sumatra, seperti dicermati peneliti senior LIPI Dr. Taufik Abdullah yang berujar “Dari sejumlah etnik yang humornya canggih ada pada masyarakat Jawa. Pada masyarakat Minang umpamanya, baru terlahir sindiran langsung. Di Jawa, sudah menjadi humor dalam pengertian menyatakan realitas tanpa mengatakannya.”

Jika kolom yang ditulis Udo boleh diibaratkan sebagai permainan, maka saya ingin berpesan melalui renungan filsuf Driyarkara berikut ini:
 
Bermainlah dalam permainan
Tetapi jangan main-main
Sungguh-sungguhlah dalam permainan
Tetapi jangan dipersungguh

Pesan ini sejatinya sudah dilakoni Udo melalui 101 esainya dalam nirbuku ini, namun kiranya boleh juga Udo lebih memperdalamnya sehingga bisa tiba pada sikap ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tapi jangan begitu).

Esei pengantar yang ditulis Djadjat Sudradjat bertajuk “101 Celoteh, Potret Masyarakat Tradisi Lisan” kiranya telah mendedahkan karakter esei-esei Udo dan karenanya amat bermanfaat buat menyelami segabung esei yang terhimpun dalam nirbuku ini. Sebegitu mendalam dan meluasnya esei Kang Djadjat ini, nyaris membuat saya kehilangan celah untuk menyelisik kolom-kolom Udo.  

Jika Udo piawai berbahasa lisan dengan memperlakukan bahasa lisan sebagai milik om dan tantenya sendiri (kata mendiang kolumnis Mahbub Djunaedi), namun saya memergoki satu-dua kesalahan dalam bahasa tulisan, semisal ‘pewaris’ [orang yang mewariskan] (hlm 3) mestinya ‘ahli waris (orang yang mewarisi); ‘eksak’ (hlm 4) mestinya ‘eksakta’ (bidang ilmu tentang hal-hal yang bersifat konkret yang dapat diketahui dan diselidiki berdasarkan percobaan serta dapat dibuktikan dengan pasti). Lain ungkapan, meskipun Udo menggunakan bahasa lisan, tapi perlu juga sesekali merujuk kepada kamus sehingga dapat terhindar dari kesalahan yang tidak perlu.

Akhirulkalam, saya ingin mengapresiasi terbitnya nirbuku ini yang kian memperkaya warna-warni Udo sebagai penulis. Sebagai wartawan tentu Udo memiliki ‘anak rohani’ berujud berita; sebagai penyair, Udo yang petah berbahasa Lampung dialek A telah menghasilkan puisi modern dalam bahasa Lampung melalui antologi Manifesto (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) yang memenangi Hadiah Sastra Rancage pada 2008. Dan kini sebagai kolumnis atau eseis, Udo telah pula menggenapi dirinya dengan menerbitkan Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh yang berusaha bersikap kritis dan analitis terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang terjadi di sekeliling tokoh Mamak Kenut, Minan Tunja, Pithagiras, Radin Mak Iwoh, Paman Takur, Udien, dan nama-nama lain dari negeri ini yang sering menghiasi pemberitaan media massa atau orang biasa yang melintas dalam kehidupan senyatanya.  

Alhasil, Udo adalah wartawan, penyair, sekaligus kolumnis. Kapasitas begini tentu saja patut diacungi jempol sebagaimana dikatakan kolumnis kesohor mendiang Mahbub Djunaedi, “Seorang wartawan yang menghayati sastra akan lebih baik ketimbang wartawan yang tidak. Seorang sastrawan yang mengikuti perkembangan sosial politik, dan menuangkannya ke dalam hasil sastranya, akan lebih baik ketimbang sastrawan yang melulu memperhatikan angin atau daun-daun yang berguguran. Menghayati politik tidak kudu berarti masuk partai politik, atau menghamba kepadanya, walaupun mendiang Pablo Neruda bisa tetap dianggap penyair dan Marxis serta Dubes sekaligus.” (H. Mahbub Djunaidi, “Dunia Sastra bagi Saya,” dalam Ridwan Saidi & Hussein Badjerei [ed], Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi, LSIP, 1996, hlm 142-152).

Akhir-berakhir, supaya Udo tidak iseng sendiri, maka celoteh atau ocehan (obrolan atau percakapan yang tidak keruan) Udo perlu didengarkan dan direnungkan. Meminjam sesanti majalah Tempo, celoteh Udo “enak dibaca dan perlu” (sesanti ini agaknya terjemahan bebas dari dulce et utile; indah dan berguna, dalam bahasa Yunani) tak ubahnya tempe, yang kata Gus Dur, enak dibacem dan perlu.***


 

Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar