
Pola Letusan Gunung Api Berubah

Banyak riset membuktikan perubahan pola itu."
Jakarta (ANTARA) - Sejak gempa Aceh 26 Desember 2004 pola letusan gunung api di seluruh dunia berubah, kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Dr Surono.
"Banyak riset membuktikan perubahan pola itu," kata Surono seusai Pemaparan Hasil-hasil Penelitian Gempa dan Gunung Api di Indonesia hasil kerja sama riset antara para peneliti Indonesia dan Jepang yang digelar di Jakarta, Selasa.
Surono mencontohkan, perubahan paling menonjol misalnya terjadi pada Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang sejak tahun 1.600 letusannya tidak dikenali, namun pada Agustus 2010 tiba-tiba memuntahkan lava, debu dan pasir dan mengagetkan penduduk setempat.
"Bagaimanapun deformasi tektonik memang berpengaruh pada aktivitas vulkanik," katanya.
Saat itu gunung yang memiliki ketinggian 2.460 meter dan tidak pernah dipantau itu harus diubah dari gunung api tipe B menjadi tipe A dengan status awas yang harus diamati selama 24 jam.
Dikatakannya, Indonesia memiliki gunung api terbanyak di dunia yakni 127 gunung api, namun hanya 69 gunung yang dipantau dengan alat ala kadarnya, yakni beberapa peralatan seismik yang merupakan standar minimal.
"Sebuah gunung tipe A hanya dipantau oleh 1-4 alat seismik, sedangkan GPS hanya untuk gunung tertentu. Padahal ada lima juta jiwa yang rentan menjadi korban letusan gunung api di Indonesia," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengungkapkan, sejak meletus 2010 Gunung Merapi di Jawa Tengah telah mengalami deformasi yang begitu cepat.
"Pada akhir 2011 terdeteksi magma mulai mengisi kantung-kantung di gunung itu. Manakala telah terisi magma sebuah gunung menggelembung dan sudah siap meletus kembali, entah berapa bulan atau tahun tapi Merapi sudah mengokang," katanya.
Hasil riset mengenai gempa, tsunami dan gunung api itu atas hasil kerja sama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Japan Science and Technology (JST) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). (ANTARA).
Pewarta :
Editor:
M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
