Logo Header Antaranews Lampung

Nikahkan Anak Perempuan Untuk Akhiri Perdagangan Manusia

Senin, 12 Maret 2012 16:34 WIB
Image Print
Gadis India. (babamz.blogspot.com).
Dengan menikahkan anak perempuan itu, maka tradisi itu bisa didobrak. Sebabnya ialah ketika seorang perempuan menikah, maka dia keluar dari pekerjaan seperti itu. Begitu juga ketika dia bertunangan, maka dia keluar dari lingkaran tersebut."

Palanpur, India (ANTARA/Reuters) - Sebuah desa di India bagian barat pada Ahad (11/3) menyelenggarakan upacara pernikahan dan pertunangan massal sebanyak 21 anak perempuan, dengan tujuan mendobrak tradisi prostitusi di wilayah itu.

Kegiatan tersebut sejak berabad-abad silam telah mengeksploitasi perempuan akibat kemiskinan, sementara mereka terpinggirkan di satu komunitas pengembara wilayah itu.

Ratusan tamu dari berbagai daerah sekitar dan pejabat pemerintah menghadiri acara yang penuh warna tersebut. Delapan pasangan menikah dan 13 pasangan lain bertunangan dalam acara yang digelar di sebuah tenda besar di Desa Wadia, yang berjarak 115 kilometer sebelah barat dari Kota Palanpur, ibu kota negara bagian Gujarat.

"Prostitusi adalah tradisi yang sudah diterima oleh anggota masyarakat selama puluhan tahun dan itu lumrah bagi mereka. Mereka pikir mereka tak melakukan hal yang salah. Namun sesungguhnya itu adalah perbuatan yang tidak beradab dan senonoh," ujar petugas pengembangan Kabupaten Banaskantha, tempat Desa Wadia, bagian dari kabupaten itu, Vijay Bhatt.

"Dengan menikahkan anak perempuan itu," kata Bhatt, "maka tradisi itu bisa didobrak. Sebabnya ialah ketika seorang perempuan menikah, maka dia keluar dari pekerjaan seperti itu. Begitu juga ketika dia bertunangan, maka dia keluar dari lingkaran tersebut."

Perempuan-perempuan itu mengenakan perhiasan emas dan pakaian berwarna cerah, rok berpayet merah muda dan blus. Perempuan tersebut duduk sementara cadar menutupi muka mereka di panggung di samping pengantin laki-laki atau tunangan mereka yang mengenakan sorban berwarna keemasan, sementara seorang pendeta Hindu membacakan doa dari kitab Weda.

Sejumlah aktivis mengatakan perempuan itu -- yang berasal dari komunitas Saraniya, tempat secara tradisi perempuan tidak menikah dan bekerja sebagai PSK di kota terdekat -- saat ini mendobrak profesi yang berasal dari nenek moyang mereka dan bisa hidup normal serta menjalani perintah agama.

"Kami berusaha menghilangkan budaya dan pandangan itu. Kami ingin mencabutnya hingga sampai ke akar-akarnya," ujar Ramesh Saraniya, yang saudarinya berusia 25 dan keponakan yang berusia 22 tahun menikah dengan lelaki desa dalam upacara massal itu.

"Peristiwa ini bagus bagi masyarakat kami."

Mudah Mendapatkan Uang
Lelaki yang berasal dari komunitas Saraniya --- kelompok nomaden yang berjumlah 50.000 orang --pernah bekerja di berbagai fraksi perang yang memerintah di wilayah rawan kekeringan sebelum kemerdekaan India dari Inggris pada 1947. Mereka mengasah belati dan pedang mereka.

Perempuan Saraniya merupakan "penghibur" bagi gembong perang yang berseteru di pecahan wilayah Gujarat dengan tetangganya, Rajashtan. Perempuan Saraniya menari, menyanyi, dan juga memberi kepuasan seksual kepada majikan mereka.

Para aktivis dan pejabat mengatakan pasca-kemerdekaan, Saraniya diberi tanah oleh pemerintah dengan tujuan memberikan pendapatan yang lebih baik, namun karena pekerjaan sebagai PSK lebih mudah mendapatkan uang, lelaki di desa itu terus meminta saudari dan putri mereka menjalani profesi tersebut.

Penduduk setempat dari desa Wadia enggan berbicara mengenai isu tersebut, karena takut terjadi perlawanan diskriminasi terhadap mereka di negara konservatif dan patriarkhat terbesar itu.

"Kami miskin dan tidak mempunyai air. Kami telah bekerja di bidang pertanian dan pembenihan sejenis tanaman jarak, dan sekarang sudah mendapatkan uang lebih. Tidak ada lagi pekerjaan seperti yang anda bicarakan itu," ujar Valiben Saraniya. Kemenakannya yang berusia 20 tahun menikah.

Dalam upacara itu, musisi memainkan dhol dan shehnai, gendang tradisional India dan terompet yang dimainkan pada saat pernikahan. Delapan pasangan yang menikah secara bersamaan saling memberi karangan bunga dan berjalan mengelilingi api suci yang ditempatkan di depan mereka, sebagaimana layaknya tradisi Hindu.

Tiga belas pasangan yang berumur 12 tahun bertunangan dan bertukar cincin di dalam tenda yang penuh aroma dupa, sementara seorang pendeta memberi instruksi melalui mikrofon. Orang tua mereka mengatakan pernikahan mereka akan digelar saat mereka berusia 18 tahun.

Pegiat sosial yang menyelenggarakan dan mengumpulkan dana 900.000 rupee, atau 18.000 dolar AS, untuk penyelenggaraan acara itu, mengatakan peran suami pada masa yang akan datang akan mengakhiri perdagangan manusia di Wadia.

Namun mereka menambahkan perlu adanya pengembangan lebih lanjut untuk memastikan agar anak perempuan lain tidak menjadi pekerja seks.

"Dengan menikah atau bertunangan mereka tidak akan terjerumus ke profesi itu. Jika ada suami, maka perempuan itu tidak akan dijual," ujar Mittal Phatel dari Vicharta Samuday Samarthan Manch, yayasan setempat yang bergerak untuk mendukung suku-suku nomaden di India.

"Pekerjaan alternatif lain diperlukan bagi perempuan itu seperti mengajarkan mereka bordir, meningkatkan irigasi untuk lahan mereka dan peternakan. Hal ini bertujuan untuk mengakhiri siklus itu. Perempuan melakukan hal itu karena pilihan.". (ANTARA).



Pewarta :
Editor: M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2026