Logo Header Antaranews Lampung

Membangkitkan Pendidikan Di Waykanan

Selasa, 20 Desember 2011 05:31 WIB
Image Print
Kepala Dinas Pendidikan Waykanan Gino Vanollie (kiri) dan Redaktur LKBN ANTARA Biro Lampung Triono Subagyo (kanan) menjadi nara sumber kegiatan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Kelompok Kerja Media dan Informasi Ruang Belajar Masyarakat Way

Waykanan (ANTARA LAMPUNG) - Banyak guru di Kabupaten Waykanan ternyata belum memenuhi kualifikasi kesarjanaan dan mengajar tidak sesuai dengan bidangnya, dan hal itu tentu menjadi persoalan krusial dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah tersebut.

Sekitar 72 persen guru di Kabupaten Waykanan belum memenuhi kualifikasi pendidikan sarjana dan masih banyak menumpuk di kota kendati secara rasio satu guru di daerah itu melayani 10 murid.

Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Waykanan Hamdani mengatakan, di salah satu sekolah daerah itu ada lima guru bahasa Indonesia karena banyak guru ingin mengajar di tempat-tempat yang ramai dan dekat dengan tempat tinggalnya.

Akibatnya, kata Hamdani, mereka menggunakan relasi, bahkan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk mendapatkan tempat mengajar yang diinginkan.

"Dalam kondisi seperti itu akan sangat sulit meningkatkan mutu pendidikan, sehingga penting bagaimana mengurai problem tersebut," kata Kepala Dinas Pendidikan Waykanan, Gino Vanollie.

Persoalan dan kenyataan tersebut barangkali yang membuat sebagian masyarakat dan pejabat Waykanan enggan menyekolahkan anak mereka di daerah itu sebagaimana disampaikan anggota Dewan Pendidikan Waykanan yang juga Kepala Sekolah SMPN 1 Baradatu, Baroto.

"Pejabat-pejabat di sini pun banyak tidak mau menyekolahkan anaknya di sini,"ujarnya.

Di Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Provinsi Sumatera Selatan, para siswa berangkat ke sekolah pukul 06.00 WIB dan masuk kelas pukul 07.00 WIB sampai dengan 14.00 WIB, baik guru maupun siswa itu harus tepat waktu, kata Anas Fanani, warga Tanjungagung, Kecamatan Blambanganumpu, Waykanan yang bersekolah di SMAN 1 Belitang.

Junaidi dan Sunarti, orang tua Anas, menghendaki anaknya bersekolah ke luar Kabupaten Waykanan dengan alasan kualitas pendidikan di Belitang jauh lebih baik daripada di Waykanan, meski biaya pendidikan juga lebih tinggi.

Menurut Junaidi, sekolah anaknya itu sudah berstandar nasional berkategori A sehingga ia memutuskan menyekolahkannya ke daerah itu.

Persoalan lain pendidikan Waykanan, menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Waykanan Yozi Rizal, ialah sebagian pengajar yang belum mengikuti seleksi calon kepala sekolah (cakep) telah ditempatkan sebagai kepala sekolah.


Membangkitkan pendidikan


Membangun pendidikan agar masyarakat setempat menyekolahkan anaknya di daerah sendiri, tentu terus diupayakan Pemerintah Kabupaten Waykanan dengan berbagai upaya.

Antara lain, menyelenggarakan pendidikan wajib 12 tahun dalam upaya meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah atas dan kejuruan dengan memberikan bantuan operasional sekolah yang bersumber dari APBD setempat.

Kemudian, memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi serta mengadakan program "Satu Kampung Satu Sarjana" dengan fokus bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan sebagai upaya meningkatkan APK pendidikan tinggi.

"Pendidikan sangat penting perannya dalam membentuk watak, mental, kemampuan manusia serta mengaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu jangan ada anak Waykanan yang putus sekolah lagi," ujar Bupati Waykanan Bustami Zainudin yang menetapkan Rabu sebagai "Hari Pendidikan Waykanan Bangkit" dalam rangka mempercepat pelaksanaan pembangunan pendidikan di daerah itu.

Karena itu, ujar Gino, dilakukan berbagai upaya seperti bekerja sama dengan Indonesian Corruption Watch (ICW) menggelar "Seminar dan Networking Meeting" dengan beberapa guru setempat guna memajukan pendidikan daerah itu.

Dinas Pendidikan Waykanan, lanjut Gino, juga mencanangkan diri sebagai dinas yang bebas dari rente atau pungli dan menempatkan guru sebagai tuan.

"Selama ini sekolah memang menjadi bulan-bulanan oknum dinas maupun pasukan siluman yang membawa nama wartawan atau LSM yang meminta dana ke sekolah. Akibatnya dana yang seharusnya untuk kualitas pelayanan siswa digerogoti." kata dia.

Gebrakan itu masih perlu diuji, tetapi bila berhasil tentu akan sangat signifikan sebagai upaya awal membangkitkan pendidikan di Waykanan yang cukup lama setengah tidur.

Berkaitan itu, ada sejumlah kemajuan di bidang pendidikan di Kabupaten Waykanan tahun 2010 sampai dengan 2011 yang patut disosialisasikan, antara lain guru yang memenuhi kualifikasi S1 dan D4 di daerah itu mengalami peningkatan sekitar 29 persen, dari 24,54 persen menjadi 31,56 persen.

"Pemerintah Kabupaten Waykanan berupaya supaya kemajuan edukasi secara bertahap bisa tercapai," kata Gino menjelaskan.

Menurut dia, jika sekolah yang baik sudah ada di depan mata, orang tua pasti akan tetap menyekolahkan anak di Waykanan.

"Karena menyekolahkan anak di daerah sendiri akan jauh mengurangi biaya," ujar dia.

Sejumlah pihak juga menyampaikan saran kepada Pemkab Waykanan tentang upaya memajukan pedidikan di daerah tersebut, seperti peningkatan aksesibilitas dan mutu pendidikan, perbaikan sarana dan prasarana, serta kualitas pendidik dan pembelajaran.

Sehubungan itu, Dinas Pendidikan Waykanan perlu memprioritaskan munculnya sekolah-sekolah ideal yang berkualitas.

Selain itu, jaminan kesejahteraan bagi para guru, terutama bagi mereka yang mengabdi di tempat-tempat terpencil juga jangan dikesampingkan.



Pewarta :
Editor: Gatot Arifianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026