
Impor Sapi Bakalan Dari Australia Turun

LAMPUNG - Impor sapi bakalan Lampung dari Australia mulai Januari hingga April 2011 mencapai 11.184 ton atau turun bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 32.549 ton. "Nilai sapi impor pada periode itu juga otomatis turun dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, Ratna Dewi, di Bandarlampung, Senin. Ia menyebutkan, berdasarkan data realisasi ekspor-impor Koperindag Lampung, tercatat sejak Januari hingga April 2011 nilai sapi impor bakalan sebesar 28,975 juta dolar AS. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, nilai sapi bakalan yang didatangkan ke Lampung itu mencapai 69,844 juta dolar. Rincian volume dan nilai sapi impor bakalan sejak Januari hingga April 2010 yakni Januari sebesar 11.897 ton senilai 24,079 juta dolar, Februari 6.183 ton senilai 13,979 juta dolar, Maret 9.072 ton senilai 20,129 juta dolar, dan April 5.396 ton senilai 12,264 juta dolar. Pada Januari 2011 volume sapi impor sebanyak 1.633,94 ton senilai 4,351 juta dolar, Februari 3.225 ton senilai 8,219 juta dolar, Maret 5.745,58 ton senilai 15,015 juta dolar, dan April 578 ton senilai 1,389 juta dolar. Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Navazo Pian, mengatakan, sapi impor yang didatangkan dari Australia ke Lampung mencapai sekitar 700 ribu ekor per tahunnya. "Sapi bakalan itu sebelum dipasok ke sejumlah daerah di Tanah Air digemukkan terlebih dahulu di tempat penggemukan sapi yang ada di Lampung," kata dia. Ia menyebutkan, setelah dilakukan penggemukan, sapi-sapi tersebut dipasok ke sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Medan, Aceh, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jakarta, dan beberapa wilayah lainnya. Gulung Tikar Sejumlah pedagang daging sapi di Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung terancam gulung tikar jika pengiriman sapi dari Australia dihentikan. "Bila pengiriman sapi impor dihentikan, kami terancam gulung tikar, apalagi masyarakat lebih memilih daging sapi impor dibanding daging lokal," kata Lili pedagang daging sapi impor di Pasar Tugu, Bandarlampung. Ia mengatakan, daging sapi impor harganya lebih murah dan dagingnya pun lebih lembut dibanding daging sapi lokal. Sekarang jarang sekali pedagang yang menjual daging sapi lokal. Daging sapi lokal kurang disukai masyarakat karena harganya lebih mahal dan lebih keras. Untuk daging sapi lokal harganya Rp70.000/kg-Rp75.000/kg, sedangkan daging sapi impor harganya Rp60.000-Rp65.000/kg. Ia menjelaskan, saat ini, stok sapi impor masih bisa mencukupi dua sampai tiga hari ke depan. Setelah itu, para pedagang diperkirakan akan gulung tikar jika tidak ada pasokan lagi. Sementara penjual daging sapi di Pasar SMEP, Ridho mengungkapkan, sebagian pedagang daging sapi impor sudah tidak berjualan, karena mulai sulit mendapat daging. Bila berdagang sapi lokal kerugian yang dialami akan sangat banyak, karena harganya yang mahal menyusul rekaman video pihak Australia di tempat pemotongan hewan di salah satu daerah, banyak pedagang yang dirugikan.(ANTARA/A054)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
