Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia mengenang peran dokter pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Republik Indonesia yang tahun ini jatuh pada hari Kamis, salah satunya Letnan Kolonel Dr RM Soebandhi.

Letnan Kolonel Dr RM Soebandhi dikenal sebagai dokter tentara dan namanya diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit di Kota Jember, Jawa Timur.

"Peran Letkol Dr RM Soebandhi tidak hanya di medan perang, tetapi juga tidak melupakan tugas dasar seorang dokter yaitu merawat pasien dan prajurit yang terluka dan sakit," kata DR Dr Moh. Isman Jusuf, SpN dari Bidang Kajian Sejarah dan Kepahlawanan Dokter PB IDI melalui keterangan tertulisnya, Rabu.

Kemudian, untuk mengenang 70 tahun gugurnya Letkol Dr RM Soebandi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember pada 9 Pebruari 2019 meluncurkan buku biografi berjudul “Letkol dr. RM. Soebandi: Jejak Kapahlawanan Dokter Pejuang” yang ditulis oleh Gandhi Wasono M dan Priyo Suwarno.

Biografi ini berisi kisah perjuangan dokter yang gugur di usia 32 tahun yang oleh pihak TVRI Jatim diangkat menjadi film dokumenter dengan judul “Jalan Sunyi dr. Soebandi” dan disiarkan TVRI Nasional pada 13 Mei 2022.

Film dokumenter tersebut sekaligus terpilih sebagai film dokumenter terbaik TVRI Nasional dan mendapat penghargaan piala “Gatra Kencana”.

Pada bulan Juni lalu, Universitas dr. Soebandi (UDS) Jember mendirikan “Museum Letkol. dr. RM, Soebandi” termasuk patung logam setengah badan. Museum berisi barang-barang peninggalan Letkol Dr RM Soebandhi agar perjuangan dia terus lestari dan menjadi inspirasi generasi mendatang.

Kiprah Letkol Dr RM Soebandhi

Letkol Dr R.M. Soebandi lahir pada 17 Agustus 1917 di Klakah, Lumajang. Dia sulung dari pasangan R. Soeradi Wignjosoekarto, kepala masinis stasiun Klakah, dengan RA. Siti Mariam.

Soebandi menamatkan sekolah Hollandsche Indlandsche School (HIS) di Lumajang. Kemudian, karena dia berasal dari keluarga ningrat maka oleh pemerintah kolonial diperbolehkan melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Probolinggo dan lulus tahun 1935.

Selanjutnya Soebandi melanjutkan ke Aglemeene Middlebare School (AMS) di Surabaya lulus tahun 1938.

Untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter, Soebandi melanjutkan sekolah di Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Indonesia kuliah Soebandi yang hampir lulus sempat terhenti. Jepang yang berhasil mengalahkan Hindia Belanda setelah memenangi perang Asia Timur Raya membubarkan semua lembaga pendidikan bentukan kolonial Belanda termasuk NIAS.

Soebandi sempat frustasi karena khawatir mimpinya menjadi dokter pupus. Harapannya kembali muncul ketika awal tahun 1943 Jepang membuka sekolah tinggi kedokteran Ika Daigaku di Jakarta, menggantikan STOVIA yang dibubarkan.

Soebandi bergegas ke Jakarta melanjutkan kuliahnya hingga akhirnya pada 12 November 1943 dinyatakan lulus sebagai dokter.

Pada saat kuliah di NIAS inilah Soebandi menemukan pujaan hatinya bernama Rr. Soekesi yang kemudian menikah pada tahun 1944.

Soebandi dikatakan memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan mendapatkan dukungan dari orang tuanya untuk menjadi dokter. Pada masa itu, dokter menjadi sebuah profesi langka karena semata-mata ingin membantu agar masyarakat mendapat layanan kesehatan yang layak.

Selama berada di Jakarta, jiwa nasionalisme Soebandi bangkit. Dia tinggal di asrama mahasiswa Ika Daigaku di Jl. Prapatan 10, yang menjadi tempat para aktivis kemerdekaan berkumpul.

Mahasiswa yang menamakan dirinya Masyarakat Prapatan 10 menganut ideologi “Reine Jurgend Ideologie,” atau ideologi tanpa pamrih yang anti kedholiman, perongrongan, dan anti menginjak-injak hak asasi rakyat.

Mahasiswa Prapatan 10 ini salah satu kelompok yang aktif mendorong Soekarno-Hatta segera membacakan teks proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Selepas lulus dokter, Soebandi, kembali ke Jawa Timur dan langsung terjun di dunia militer dengan mengikuti pendidikan tentara PETA dan lulus sebagai Eise Shodanco atau Perwira Kesehatan Batalyon dan ditempatkan di Lumajang, setahun kemudian pangkatnya naik menjadi Eise Chudanco, menjabat sebagai Kepala kesehatan seluruh Batalyon PETA di Karesidenan Malang.

Pada 1945 setelah Jepang kalah perang, PETA dibubarkan, Soebandi beralih menjadi dokter tentara di Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bertugas di berbagai rumah sakit, mulai Probolinggo, Lumajang dan Malang.

Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Jember yang sekarang bernama RS. Baladhika Husada yang didirikan tahun 1946 menunjuk dr. Soebandi, sebagai kepala rumah sakit pertama kalinya.

Pada masa itu seorang tentara yang sekaligus dokter amat langka sehingga tenaga dr. Soebandi sangat dibutuhkan tidak hanya di kawasan Jawa Timur tetapi juga dilibatkan sampai ke Jawa Barat untuk bergabung dengan kesatuan lain ketika melakukan peperangan dengan pasukan sekutu.

Setelah bertugas di berbagai kesatuan pada Desember 1948 Letkol dr. RM, Soebandi, ditugaskan sebagai wakil komandan Brigade III Damarwulan mendampingi komandan Letkol. Mochamad Sroedji. Selain sebagai wakil komandan Soebandi merangkap sebagai Residen Militer Besuki dan dokter militer.

Sesuai hasil perjanjian renville semua pasukan Brigade III Damarwulan serta kesatuan lain di wilayah Besuki hijrah ke Blitar. Namun, Belanda mengingkari isi perjanjian Renville bahkan melakukan Agresi Militernya ke dua dengan melakukan serangan besar-besaran.

Tanggal 29 Desember 1948 atas perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman, pasukan yang ada di Blitar diminta untuk kembali ke daerah asal dengan melakukan aksi wingate dan bergerilya melawan Belanda.

Brigade III Damarwulan kembali ke wilayah Besuki menuju Socopangepok di lereng Argopuro untuk membangun kekuatan baru. Sepanjang perjalanan sering terjadi kontak senjata, karena minimnya amunisi dan persenjataan maka pasukan Damarwulan kewalahan dan banyak menjadi korban.

Pada 8 Pebruari 1949 dini hari, pasukan Damarwulan yang berjumlah kurang dari 100 orang kelelahan dan kelaparan. Mereka lalu beristirahat di Desa Karang Kedawung, Mumbulsari, Jember yang berada di tepi hutan.

Namun, keberadaan rombongan ini diketahui oleh mata-mata dan dilaporkan kepada induk militer Belanda di Jember.

Ketika istirahat dan tengah menikmati sarapan pagi suguhan penduduk desa, pasukan Belanda dari Kompi IV Batalyon XXIII KNIL di bawah komando Lettu F.G Schelten melakukan penyergapan dengan sistematis.

Pasukan Damarwulan yang kala itu mendapatkan serangan mendadak berusaha mempertahankan diri dan mundur ke arah hutan.

Soebandi berhasil lolos tetapi begitu melihat Sroedji tertembak jatuh dia keluar dari tempat berlindung lalu bangkit dan berlari menuju tubuh sahabat sekaligus komandannya.

Dia bersama Sroedji yang terkapar bermandikan darah diberondong senapan oleh Pratu Josep Kesek dari KNIL hingga jatuh tersungkur dan gugur berdampingan. Selain keduannya, belasan pasukan serta warga desa ikut jadi korban.

Jasad Soebandi dimakamkan oleh masyarakat desa di lokasi kejadian. Tetapi, karena banyaknya korban, jasad baru ditemukan dan teridentifikasi pada 23 Maret 1950.

Kemudian, atas prakarsa Masyarakat Desa Karang Kedawung sekitar tahun 1980-an di lokasi pertempuran didirikan monumen untuk mengenang para pahlawan yang gugur di sana.

Soebandi dikatakan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Indonesia. Dia meninggalkan kemapanan demi kemerdekaan dari tangan penjajah dan rela meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk berjuang di medan tempur.

Istri Soebandi, Rr. Soekesi dalam buku hariannya menuliskan bawa sebelum gugur dari tempat bergerilya, suaminya sempat mengirim surat terakhir yang dikirim melalui kurir rahasia. Dalam surat itu, tertulis “Jaga anak-anak dengan baik. Bila Tuhan menghendaki kita akan bersatu lagi.”

Letkol Dr RM Soebandhi meninggalkan seorang istri, Rr. Soekesi, dan tiga orang putri, Widyasmani, Widyastuti dan Widorini.




Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IDI kenang perjuangan Letnan Kolonel Dr RM Soebandhi pada HUT ke-78 RI

Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024