Uji coba kedua dinilai gagal, terapi kanker Roche diragukan
Rabu, 11 Mei 2022 14:43 WIB
Arsip - Logo produsen obat Roche terlihat di kantor pusatnya di Basel, Swiss, 1 Februari 2018. (ANTARA/Reuters/Arnd Wiegmann/as)
Frankfurt (ANTARA) - Terapi baru pengobatan kanker yang digagas oleh Roche menghadapi keraguan pada Rabu ketika uji coba kedua menunjukkan obat tiragolumab yang dikembangkannya gagal memperlambat pertumbuhan kanker paru.
Dalam penelitian, kombinasi tiragolumab dan Tecentriq buatannya tidak mengurangi tingkat pertumbuhan penyakit dalam kasus kanker paru non-small-cell stadium lanjut jika dibandingkan dengan kelompok pasien pembanding yang hanya menerima Tecentriq.
Hasil penelitian itu dipublikasikan setelah perusahaan farmasi Swiss itu mengatakan pada Maret bahwa tiragolumab gagal memperlambat kanker paru yang jenisnya berbeda dan lebih agresif.
Kemunduran itu kemungkinan akan memberi jeda bagi para pesaing Roche yang mengembangkan senyawa serupa dalam kelompok obat yang dikenal sebagai anti-TIGIT.
Merck & Co dianggap sebagai pesaing terdekat Roche dalam perlombaan itu.
Gilead Sciences pada November lalu berkolaborasi dengan Arcus Biosciences dalam pengembangan obat anti-TIGIT domvanalimab.
GlaxoSmithKline pada Juni 2021 mencapai kesepakatan lisensi bernilai 2 miliar dolar (Rp29,09 triliun) dengan iTeos Therapeutics Inc untuk pengembangan kandidat obat anti-TIGIT.
Bristol-Myers Squibb dan Agenus Inc menjalin kerja sama pada Mei 2021 untuk membuat obat serupa.
Coherus BioSciences pada Januari menyepakati opsi untuk melisensi kandidat obat dari Shanghai Junshi Biosciences untuk pasar AS dan Kanada.
Sumber: Reuters
Dalam penelitian, kombinasi tiragolumab dan Tecentriq buatannya tidak mengurangi tingkat pertumbuhan penyakit dalam kasus kanker paru non-small-cell stadium lanjut jika dibandingkan dengan kelompok pasien pembanding yang hanya menerima Tecentriq.
Hasil penelitian itu dipublikasikan setelah perusahaan farmasi Swiss itu mengatakan pada Maret bahwa tiragolumab gagal memperlambat kanker paru yang jenisnya berbeda dan lebih agresif.
Kemunduran itu kemungkinan akan memberi jeda bagi para pesaing Roche yang mengembangkan senyawa serupa dalam kelompok obat yang dikenal sebagai anti-TIGIT.
Merck & Co dianggap sebagai pesaing terdekat Roche dalam perlombaan itu.
Gilead Sciences pada November lalu berkolaborasi dengan Arcus Biosciences dalam pengembangan obat anti-TIGIT domvanalimab.
GlaxoSmithKline pada Juni 2021 mencapai kesepakatan lisensi bernilai 2 miliar dolar (Rp29,09 triliun) dengan iTeos Therapeutics Inc untuk pengembangan kandidat obat anti-TIGIT.
Bristol-Myers Squibb dan Agenus Inc menjalin kerja sama pada Mei 2021 untuk membuat obat serupa.
Coherus BioSciences pada Januari menyepakati opsi untuk melisensi kandidat obat dari Shanghai Junshi Biosciences untuk pasar AS dan Kanada.
Sumber: Reuters
Pewarta : Anton Santoso
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan Kapolda Lampung Irjen Pol Helmy Santika serahkan bantuan mobil ambulans
12 November 2025 13:37 WIB
Relawan di Lampung bantu pasien kanker dan donor darah, bergerak tanpa dana tetap
10 November 2025 9:47 WIB
Dompet Dhuafa bersama IHGMA rangkul penyintas kanker melalui Box Of Happiness
18 February 2025 9:08 WIB
Tingkatkan kesadaran pencegahan dan deteksi dini, PLN gandeng Prodia edukasi kanker
17 February 2025 8:35 WIB, 2025
Dokter: Perokok aktif di atas 40 tahun perlu jalani skrining kanker paru
04 December 2024 10:30 WIB, 2024
Kata Prabowo di hadapan pengusaha AS: Korupsi ibaratkan seperti kanker
12 November 2024 12:17 WIB, 2024
Dokter sebut kanker serviks jadi penyebab utama kematian pada wanita
06 October 2024 10:12 WIB, 2024