Saat ini, PLTU Berau berkapasitas 2 x 7 megawatt menjadi salah satu pembangkit listrik di Kalimantan yang menerapkan teknologi substitusi biomassa dengan batu bara.
Menurutnya, program co-firing tersebut mampu mengurangi penggunaan batu bara pada pembangkit listrik. Dalam skala besar dan jangka panjang akan menurunkan emisi yang dihasilkan dari pengoperasian PLTU.
“Cangkang sawit memiliki nilai kalori yang lebih tinggi dibandingkan nilai kalori batu bara yang digunakan di PLTU Berau, sehingga secara teknis program co-firing juga mendukung dalam peningkatan efisiensi PLTU PLN," jelas Daniel.
Kemudian dalam menjaga kontinuitas pasokan cangkang sawit, Daniel mengungkapkan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan koperasi dan masyarakat setempat.
Harapannya program co-firing juga membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat Berau terutama dalam pemanfaatan limbah hasil perkebunan rakyat.
Selain turut meningkatkan kontribusi energi terbarukan pada bauran energi nasional, co-firing juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan dalam bentuk creating shared value (CSV) di mana tercipta peluang lapangan kerja dan bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah sebagai pengganti bahan bakar fosil pada PLTU.
Sebelumnya, program yang sama telah berhasil diimplementasikan pada lima PLTU lain di Kalimantan, yaitu PLTU Asam-asam di Kalimantan Selatan; PLTU Pulang Pisau di Kalimantan Tengah; lalu PLTU Sintang, PLTU Ketapang, dan PLTU Sanggau ketiganya di Kalimantan Barat.
“Program co-firing merupakan upaya percepatan target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 tanpa harus membangun pembangkit baru melainkan dengan melakukan substitusi sebagian batu bara dengan biomassa,” kata General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran (UIKL) Kalimantan Daniel Eliawardhana dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Minggu.
Daniel menjelaskan pelaksanaan co-firing cangkang sawit dan batu bara di PLTU Berau telah berlangsung sejak Mei 2021 dengan memanfaatkan limbah cangkang sawit lebih dari 500 ton.
PLTU Berau memanfaatkan bahan bakar cangkang sawit
Minggu, 3 April 2022 12:43 WIB
PLTU Berau yang berlokasi di Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (ANTARA/HO-PLN)
Jakarta (ANTARA) - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Berau di Kalimantan Timur telah memanfaatkan limbah cangkang sawit untuk menekan emisi karbon dari proses pembakaran batu bara dengan komposisi perbandingan 5:95 melalui program co-firing biomassa.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PLN EPI-RAE kerja sama pengadaan biomassa batang singkong-karet di Lampung
18 May 2024 8:05 WIB, 2024
PLN Indonesia Power turunkan 555 ribu ton emisi karbon dari cofiring pada PLTU
07 March 2024 10:43 WIB, 2024
Lebih dari 40 warga Bengkulu terkena penyakit akibat stockpile batu bara
16 November 2023 15:29 WIB, 2023
PLTU Suralaya dan 5 pembangkit milik PLN Grup raih 7 penghargaan tingkat ASEAN
26 August 2023 14:01 WIB, 2023
PLN terus dorong pemanfaatan FABA PLTU, bahan baku industri murah dan mampu reduksi emisi hingga 44 persen
23 June 2023 20:30 WIB, 2023
Terpopuler - Info Usaha
Lihat Juga
Mentan copot 192 pejabat dan 2.300 distributor pupuk yang ganggu produksi pertanian
07 January 2026 21:47 WIB