Bandarlampung (ANTARA) - PT Hakaaston ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Tol Bakter) sepanjang tahun 2025 mengimplementasikan program Environmental, Social, and Governance (ESG) secara terintegrasi salah satunya dengan pendekatan hilirisasi limbah.
Hal itu sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan pemberdayaan perempuan di sekitar wilayah operasional jalan tol.
Implementasi ESG ini menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang selama ini muncul di sepanjang ruas Tol Bakter, mulai dari penumpukan sampah, rendahnya pengelolaan limbah, minimnya partisipasi masyarakat, hingga potensi vandalisme yang berdampak pada aset jalan tol.
Melalui pendekatan ESG, persoalan tersebut tidak hanya ditangani secara teknis, tetapi juga dikonversi menjadi peluang ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Manager Public Affairs Hakaaston, M. Alkautsar, dalam keterangannya di Bandarlampung, Sabtu, menjelaskan bahwa ESG dirancang sebagai ekosistem solusi jangka panjang yang menghubungkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam satu kesatuan program.
"Penerapan ESG di Tol Bakter tidak berhenti pada kegiatan kebersihan semata, tetapi kami dorong hingga ke tahap hilirisasi limbah, di mana sampah diolah, dimanfaatkan, dan memberikan nilai tambah ekonomi. Dengan pendekatan ini, ESG mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari aspek sosial dan pemberdayaan masyarakat, Hakaaston menginisiasi pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Panca Tunggal, Kecamatan Merbau Mataram. KWT menjadi motor utama pelaksanaan program ESG berbasis masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah dan penguatan ketahanan pangan.
“Perempuan kami tempatkan sebagai aktor utama perubahan. Melalui KWT, ibu-ibu tidak hanya dilibatkan dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh peran strategis dalam pengelolaan limbah, pertanian mandiri, hingga pengembangan produk bernilai ekonomi,” jelas Alkautsar.
Pengelolaan limbah dimulai dari pengumpulan sampah botol plastik di sepanjang ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar. Sampah tersebut dipilah oleh KWT binaan dan selanjutnya dijual kepada pengepul. Hasil penjualan tidak berhenti sebagai pendapatan semata, tetapi dihilirisasi untuk mendukung program produktif masyarakat.
"Dana dari pengelolaan sampah kami arahkan untuk pengembangan sektor pertanian KWT sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan lokal. Ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun ketahanan pangan nasional berbasis pemberdayaan masyarakat dan ekonomi lokal," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, hilirisasi limbah berkembang lebih jauh. Limbah botol plastik tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk inovatif bernilai tambah seperti ecobrick, kursi ecobrick, tas, dan topi hasil olahan limbah plastik.
"Produk-produk ini telah dipasarkan dan mendapat respons positif. Hingga saat ini, penjualan telah mencapai puluhan produk. Ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah berbasis ESG mampu mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif sekaligus memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai ekonomi,” kata Alkautsar.
Selain hilirisasi limbah, program ESG 2025 juga mencakup kegiatan penghijauan melalui penanaman bibit pohon buah dan tanaman produktif, pengembangan pertanian KWT, serta budidaya hidroponik.
Program ini bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan, mendukung pengurangan emisi karbon, sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat di sekitar ruas tol.
