Seberapa efektifkah bekerja secara hibrida?
Jumat, 17 September 2021 6:01 WIB
Ilustrasi. (ANTARA/Entrust)
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan teknologi Entrust melalui penelitian "Securing the New Hybrid Workplace" mengulik tantangan, peluang dan efektivitas bekerja secara hibrida / hybrid (penggabungan antara bekerja di kantor dengan bekerja di rumah atau lokasi lainnya) terutama di masa pandemi COVID-19.
"Ketika para pemimpin bisnis merencanakan model kerja di masa depan, kami ingin mengetahui bagaimana mereka mengadaptasikan keamanan dan identitas untuk model kerja hybrid," kata Director of Digital Security, Asia Pacific and Japan, Entrust, James Cook, pada keterangannya, Kamis.
Mayoritas pemimpin bisnis (64 persen) dan karyawan (54 persen) secara global mengatakan bahwa perusahaan mereka saat ini menggunakan model kerja berbasis hibrida.
Riset menunjukkan bahwa cara bekerja hibrida ini akan terus hadir, namun, ada kekhawatiran besar akan sistem keamanan. Mayoritas pemimpin bisnis (82 persen) di Indonesia mengatakan perusahaan mereka menggunakan model hybrid dan 65 persen karyawan setuju.
Keamanan data kantor saat karyawan bekerja di rumah pun menjadi tantangan baru. Perusahaan-perusahaan harus mengubah pendekatan keamanan data mereka karena karyawan lebih terdesentralisasi dibandingkan sebelumnya.
Meskipun keamanan data jadi prioritas bagi pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 88 persen dari mereka mengatakan bahwa perusahaan yang mereka pimpin menawarkan pelatihan keamanan data kepada karyawan, hanya 69 persen karyawan yang mengatakan bahwa perusahaan mereka menawarkan pelatihan tersebut. Ini mengindikasikan ada kesenjangan komunikasi.
Lebih lanjut, manajemen pengunjung adalah sebuah prioritas di kantor. Semua pemimpin bisnis dan 99 persen karyawan di Indonesia setuju bahwa perusahaan perlu memasang sistem yang bisa mencatat dan melacak pengunjung yang masuk dan keluar gedung ketika para karyawan bekerja di kantor.
Perusahaan-perusahaan pun mempertimbangkan untuk menyempurnakan model kerja hibrida. Sebanyak 64 persen perusahaan di Indonesia mengatakan mereka mempertimbangkan untuk mempekerjakan karyawan-karyawan yang secara geografis tinggal di lokasi yang beragam.
Para pemimpin bisnis juga setuju bahwa saling keterkaitan antara keamanan data dan standar kerja dari rumah sangat penting untuk dipertimbangkan. Diperkenalkannya model kerja hybrid nampaknya memberikan hasil yaitu langkah menuju arah yang benar untuk perlindungan data di tempat kerja.
Bahkan, 88 persen pemimpin bisnis di Indonesia mengatakan bahwa perusahaan mereka sudah menawarkan pelatihan keamanan data bagi karyawan, dengan mayoritas pemimpin bisnis di Indonesia (98 persen) mengatakan pelatihan tersebut akibat dari pandemi COVID-19 dan ini mengindikasikan tren menuju keamanan data yang canggih.
"Ketika para pemimpin bisnis merencanakan model kerja di masa depan, kami ingin mengetahui bagaimana mereka mengadaptasikan keamanan dan identitas untuk model kerja hybrid," kata Director of Digital Security, Asia Pacific and Japan, Entrust, James Cook, pada keterangannya, Kamis.
Mayoritas pemimpin bisnis (64 persen) dan karyawan (54 persen) secara global mengatakan bahwa perusahaan mereka saat ini menggunakan model kerja berbasis hibrida.
Riset menunjukkan bahwa cara bekerja hibrida ini akan terus hadir, namun, ada kekhawatiran besar akan sistem keamanan. Mayoritas pemimpin bisnis (82 persen) di Indonesia mengatakan perusahaan mereka menggunakan model hybrid dan 65 persen karyawan setuju.
Keamanan data kantor saat karyawan bekerja di rumah pun menjadi tantangan baru. Perusahaan-perusahaan harus mengubah pendekatan keamanan data mereka karena karyawan lebih terdesentralisasi dibandingkan sebelumnya.
Meskipun keamanan data jadi prioritas bagi pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 88 persen dari mereka mengatakan bahwa perusahaan yang mereka pimpin menawarkan pelatihan keamanan data kepada karyawan, hanya 69 persen karyawan yang mengatakan bahwa perusahaan mereka menawarkan pelatihan tersebut. Ini mengindikasikan ada kesenjangan komunikasi.
Lebih lanjut, manajemen pengunjung adalah sebuah prioritas di kantor. Semua pemimpin bisnis dan 99 persen karyawan di Indonesia setuju bahwa perusahaan perlu memasang sistem yang bisa mencatat dan melacak pengunjung yang masuk dan keluar gedung ketika para karyawan bekerja di kantor.
Perusahaan-perusahaan pun mempertimbangkan untuk menyempurnakan model kerja hibrida. Sebanyak 64 persen perusahaan di Indonesia mengatakan mereka mempertimbangkan untuk mempekerjakan karyawan-karyawan yang secara geografis tinggal di lokasi yang beragam.
Para pemimpin bisnis juga setuju bahwa saling keterkaitan antara keamanan data dan standar kerja dari rumah sangat penting untuk dipertimbangkan. Diperkenalkannya model kerja hybrid nampaknya memberikan hasil yaitu langkah menuju arah yang benar untuk perlindungan data di tempat kerja.
Bahkan, 88 persen pemimpin bisnis di Indonesia mengatakan bahwa perusahaan mereka sudah menawarkan pelatihan keamanan data bagi karyawan, dengan mayoritas pemimpin bisnis di Indonesia (98 persen) mengatakan pelatihan tersebut akibat dari pandemi COVID-19 dan ini mengindikasikan tren menuju keamanan data yang canggih.
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketika Misa akbar Paus Fransiskus, DKI keluarkan edaran belajar di rumah dan WFH
04 September 2024 5:24 WIB, 2024
Terpopuler - Riset
Lihat Juga
Ternyata ampas kopi pun bisa dikembangkan menjadi material baterai kendaraan listrik
04 November 2021 8:37 WIB, 2021
Ini dia empat manfaat yang bisa didapat dengan memiliki keterampilan digital
20 October 2021 5:21 WIB, 2021
Respons antibodi penerima vaksin J&J lebih kuat jika diberi "booster" mRNA
15 October 2021 10:04 WIB, 2021
Ternyata olahraga dua jam sebelum tidur dapat membantu lebih nyenyak
13 October 2021 10:47 WIB, 2021
Koktail antibodi AstraZeneca sukses pangkas kasus COVID-19 dalam uji akhir
12 October 2021 5:06 WIB, 2021
Ternyata percakapan kesehatan mental di media sosial tidak lagi tabu
10 October 2021 12:39 WIB, 2021