Dokter: Pasien COVID-19 gejala ringan perlu alat pengukur oksigen di rumah
Senin, 7 September 2020 18:12 WIB
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay menunjukkan oximeter (Dokumen pribadi dr. Vito A. Damay)
Jakarta (ANTARA) - Alat pengukur kadar oksigen yakni oximeter menjadi salah satu bahan perbincangan di dunia maya saat ini, salah satunya terkait gejala happy hypoxia atau menurunnya kadar oksigen yang bisa berujung kematian pada pasien COVID-19.
Mengenai hal ini, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay mengatakan, happy hypoxia bisa dialami pasien COVID-19 bergejala ringan yang dirawat mandiri, sehingga mereka perlu menyediakan oximeter di rumah.
"Seseorang yang happy hypoxia mungkin ada gejala yang ringan yang tidak disadari bukan sama sekali tidak bergejala. Mungkin perlu sediakan di rumah untuk mereka yang menderita COVID-19 ringan yang isolasi mandiri," kata dia kepada ANTARA, Senin.
Pada pasien COVID-19, oximeter bisa membantu memeriksa kadar oksigen sehingga saat level oksigen pasien rendah bisa dideteksi dini.
Alat ini biasanya berukuran kecil dan mudah dibawa. Alat ini dipasang di ujung jari lalu seberapa baik oksigen mengikat sel darah merah Anda akan diukur. Orang sehat angka pada oximeter menunjukkan angka antara 95-100 persen.
Menurut Vito yang kerap menjadi narasumber dalam diskusi mengenai COVID-19 di kantor BNPB itu, pada kasus COVID-19, sebenarnya happy hypoxia jarang terjadi.
Gejala utama penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu hingga sekarang ini masih demam, batuk, sesak napas dan anosmia atau kehilangan indera penciuman.
"Happy hypoxia ini manifestasi jarang sehingga lebih baik kita memfokuskan diri pada pencegahan penyakitnya," tutur Vito.
Lalu apakah orang sehat bisa terkena happy hypoxia? Tidak, Happy hipoxia tak akan terjadi pada orang yang benar benar sehat, kata Vito.
Tetapi orang sehat boleh memiliki oximeter di rumah? Vito membolehkannya. Dia sendiri memiliki alat ini untuk membuktikan pemakaian masker seharian tidak menganggu kadar saturasi oksigen.
Namun dia mengingatkan, oximeter tidak akan berguna jika seseorang lalai menerapkan protokol kesehatan yakni menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker.
"Sama seperti saya masih sering menemukan orang pakai masker tapi menggunakannya di bawah dagu atau berkerumun tanpa menjaga jarak. Jadi pesan saya jaga diri anda tetap sehat," demikian pesan Vito.
Mengenai hal ini, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay mengatakan, happy hypoxia bisa dialami pasien COVID-19 bergejala ringan yang dirawat mandiri, sehingga mereka perlu menyediakan oximeter di rumah.
"Seseorang yang happy hypoxia mungkin ada gejala yang ringan yang tidak disadari bukan sama sekali tidak bergejala. Mungkin perlu sediakan di rumah untuk mereka yang menderita COVID-19 ringan yang isolasi mandiri," kata dia kepada ANTARA, Senin.
Pada pasien COVID-19, oximeter bisa membantu memeriksa kadar oksigen sehingga saat level oksigen pasien rendah bisa dideteksi dini.
Alat ini biasanya berukuran kecil dan mudah dibawa. Alat ini dipasang di ujung jari lalu seberapa baik oksigen mengikat sel darah merah Anda akan diukur. Orang sehat angka pada oximeter menunjukkan angka antara 95-100 persen.
Menurut Vito yang kerap menjadi narasumber dalam diskusi mengenai COVID-19 di kantor BNPB itu, pada kasus COVID-19, sebenarnya happy hypoxia jarang terjadi.
Gejala utama penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu hingga sekarang ini masih demam, batuk, sesak napas dan anosmia atau kehilangan indera penciuman.
"Happy hypoxia ini manifestasi jarang sehingga lebih baik kita memfokuskan diri pada pencegahan penyakitnya," tutur Vito.
Lalu apakah orang sehat bisa terkena happy hypoxia? Tidak, Happy hipoxia tak akan terjadi pada orang yang benar benar sehat, kata Vito.
Tetapi orang sehat boleh memiliki oximeter di rumah? Vito membolehkannya. Dia sendiri memiliki alat ini untuk membuktikan pemakaian masker seharian tidak menganggu kadar saturasi oksigen.
Namun dia mengingatkan, oximeter tidak akan berguna jika seseorang lalai menerapkan protokol kesehatan yakni menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker.
"Sama seperti saya masih sering menemukan orang pakai masker tapi menggunakannya di bawah dagu atau berkerumun tanpa menjaga jarak. Jadi pesan saya jaga diri anda tetap sehat," demikian pesan Vito.
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
JPU tuntut dua peracik narkoba "happy water" di Semarang hukuman mati
29 October 2024 19:16 WIB, 2024
Tri ajak Gen Z manfaatkan dunia digital dan bergerak jaga lingkungan
23 September 2023 15:35 WIB, 2023
Pit building fot the 2021 Mandalika World Superbike built using Indonesian products: MGPA
04 November 2021 6:01 WIB, 2021
April nanti, Monolog Happy Salma dalam musikal "Inggit Garnasih" digelar
12 March 2020 7:59 WIB, 2020