Flu babi tidak mengarah pandemi, pengamanan Beijing diperlonggar
Minggu, 5 Juli 2020 0:56 WIB
Suasana dalam kereta metro bawah tanah (subway) di Kota Beijing, China, pada saat gelombang kedua COVID-19. (ANTARA/istimewa/mii/TM)
Jakarta (ANTARA) - Virus flu babi yang mengandung genotipe 4 (G4) tidak mengarah pada pandemi, dan Beijing mulai melonggarkan pengamanan terkait kemunculan gelombang kedua COVID-19, seiring dengan makin menurunnya angka kasus baru.
Dari hasil penelitian terbaru Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) yang dipublikasikan pada Jumat (3/7) terungkap bahwa risiko pandemi flu babi, yang disebabkan oleh virus G4, tidak bertambah.
Menurut CCDC, flu Eurasia seperti flu babi tipe H1N1 yang mengandung virus G4 memang dapat menginfeksi manusia, namun belum cukup kuat menular dari manusia ke manusia.
Kemungkinan masyarakat umum terinfeksi flu babi sangat rendah, namun yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga kebersihan individu dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari kontak langsung dengan binatang ternak, unggas, dan binatang liar, kata CCDC.
Ada temuan bahwa virus G4 dapat dikaitkan dengan reseptor virus influenza pada manusia melalui saluran pernapasan atas dan dapat menular melalui titik air dari virus melalui batuk atau bersin (droplet) seperti halnya COVID-19.
Sementara itu, warga yang tinggal di wilayah berisiko rendah di Beijing sudah tidak lagi memerlukan hasil negatif tes asam nukleat jika hendak meninggalkan ibu kota setelah gelombang kedua COVID-19 sudah berhasil dikendalikan. Kebijakan itu berlaku mulai Sabtu.
Beijing hanya mendapati dua kasus baru pada Kamis (2/7), atau tinggal satu digit dibandingkan awal gelombang kedua yang mewabah mulai 11 Juni dengan 36 kasus, sehingga sampai saat ini jumlahnya menjadi 331 kasus positif.
Pada 16 Juni, Pemerintah Kota Beijing menaikkan peringatan kewaspadaan dari level III ke level II, setelah muncul klaster baru dari Pasar Induk Xinfadi, karena terdapat 100 kasus baru hanya dalam jangka waktu lima hari sejak 11 Juni.
Sehari kemudian, warga yang tinggal di kawasan risiko tinggi dan menengah, termasuk yang pernah mengunjungi Pasar Xinfadi, dilarang meninggalkan Beijing.
Pada saat itu, warga yang tinggal di area berisiko rendah juga harus menunjukkan hasil negatif tes asam nukleat yang berlaku tidak lebih dari tujuh hari, demikian rangkuman dari sejumlah media resmi China.
Dari hasil penelitian terbaru Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) yang dipublikasikan pada Jumat (3/7) terungkap bahwa risiko pandemi flu babi, yang disebabkan oleh virus G4, tidak bertambah.
Menurut CCDC, flu Eurasia seperti flu babi tipe H1N1 yang mengandung virus G4 memang dapat menginfeksi manusia, namun belum cukup kuat menular dari manusia ke manusia.
Kemungkinan masyarakat umum terinfeksi flu babi sangat rendah, namun yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga kebersihan individu dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari kontak langsung dengan binatang ternak, unggas, dan binatang liar, kata CCDC.
Ada temuan bahwa virus G4 dapat dikaitkan dengan reseptor virus influenza pada manusia melalui saluran pernapasan atas dan dapat menular melalui titik air dari virus melalui batuk atau bersin (droplet) seperti halnya COVID-19.
Sementara itu, warga yang tinggal di wilayah berisiko rendah di Beijing sudah tidak lagi memerlukan hasil negatif tes asam nukleat jika hendak meninggalkan ibu kota setelah gelombang kedua COVID-19 sudah berhasil dikendalikan. Kebijakan itu berlaku mulai Sabtu.
Beijing hanya mendapati dua kasus baru pada Kamis (2/7), atau tinggal satu digit dibandingkan awal gelombang kedua yang mewabah mulai 11 Juni dengan 36 kasus, sehingga sampai saat ini jumlahnya menjadi 331 kasus positif.
Pada 16 Juni, Pemerintah Kota Beijing menaikkan peringatan kewaspadaan dari level III ke level II, setelah muncul klaster baru dari Pasar Induk Xinfadi, karena terdapat 100 kasus baru hanya dalam jangka waktu lima hari sejak 11 Juni.
Sehari kemudian, warga yang tinggal di kawasan risiko tinggi dan menengah, termasuk yang pernah mengunjungi Pasar Xinfadi, dilarang meninggalkan Beijing.
Pada saat itu, warga yang tinggal di area berisiko rendah juga harus menunjukkan hasil negatif tes asam nukleat yang berlaku tidak lebih dari tujuh hari, demikian rangkuman dari sejumlah media resmi China.
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Babi yang mati mendadak di Maua Hilia Agam positif terpapar flu babi Afrika
24 December 2021 6:23 WIB, 2021
Gubernur NTT usul bangun labkes hewan tangani virus flu babi Afrika
22 September 2021 14:02 WIB, 2021
Kasus flu babi, Jerman meminta China terapkan larangan impor terbatas
12 September 2020 5:46 WIB, 2020
Dispernak Bandarlampung edukasi pedagang tentang bahayanya virus flu babi
18 July 2020 18:02 WIB, 2020
Antisipasi flu babi, Karantina Lampung perketat pengawasan lalu lintas ternak
04 July 2020 9:33 WIB, 2020