Industri perjalanan wisata di Yogyakarta terdampak Virus Corona
Kamis, 30 Januari 2020 6:25 WIB
Pengunjung melihat pemandangan dari puncak Kebun Buah Mangunan, Dlingo, Bantul, D.I. Yogyakarta. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Yogyakarta (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan merebaknya kasus virus Corona (Koronavirus) di sejumlah negara telah berdampak pada pelambatan pemesanan paket perjalanan wisata di Yogyakarta.
"Belum banyak terjadi pembatalan yang signifikan. Akan tetapi, jumlah permintaan pada bulan ini dan ke depan cukup lamban dibanding bulan sebelumnya," kata Ketua Asita DIY Udhi Sudiyanto di Yogyakarta, Selasa.
Baca juga: Pariwisata desa di Bantul Yogyakarta dorong pengembangan ekonomi masyarakat
Menurut dia, hal itu mengindikasikan bahwa wisatawan yang hendak melakukan perjalanan wisata masih menunggu perkembangan mengenai Koronavirus yang kasus utamanya terjadi di Kota Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
"Merebaknya virus Corona sangat mengkhawatirkan kami sebagai industri pariwisata. Kami salah satu industri yang cukup terdampak karena wisatawan untuk melakukan perjalanan pasti mencari keamanan dan kenyamanan, tanpa dihinggapi rasa khawatir," katanya.
Oleh sebab itu, Udhi berharap pemerintah atau pemangku kepentingan terkait dapat melakukan berbagai upaya untuk memastikan kenyamanan wisatawan datang ke Yogyakarta.
"Kami berharap pemerintah melakukan langkah-langkah kesiagaannya terhadap wisman, wisnus, dan masyarakat Yogyakarta sehingga mereka yang berwisata di Yogyakarta merasa nyaman," kata dia.
Meski di bandara Yogyakarta telah terpasang alat pengukur suhu tubuh (thermo scanner), dia berharap wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari negara yang terjangkit agar dicek kesehatannya secara lebih teliti.
"Perlu dicek oleh tim medis juga," kata Udhi.
Baca juga: Pelayanan jip wisata lava tour Merapi makin bagus
Khusus untuk wisman dari Tiongkok, Udhi berharap pemerintah lebih serius untuk menanganinya dengan memberikan pengawasan khusus, mulai kedatangan hingga kepulangan mereka. Tujuannya apabila terjadi kasus, bisa segera tertangani dengan benar dan cepat.
Ia mengakui bahwa pasar Tiongkok merupakan salah satu pasar yang besar bagi pariwisata Yogyakarta.
Meski demikian, kasus Koronavirus telah memengaruhi permintaan paket wisata dari turis asal Negeri Panda tersebut.
"Ini akan menjadi sebuah tantangan sendiri bagi kami karena dengan adanya kasus virus ini, Yogyakarta harus mencari pasar baru sebagai pasar pengganti," katanya.
Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak melarang wisatawan asal RRT berkunjung ke Yogyakarta di tengah merebaknya isu mengenai Koronavirus di negara tersebut.
Sultan berdalih pelarangan turis mancanegara khususnya yang berasal dari RRT masuk ke Indonesia merupakan wewenang pemerintah pusat.
Sementara itu, larangan resmi pemerintah hingga kini sebatas ditujukan untuk warga Indonesia yang hendak berkunjung ke Kota Wuhan, RRT.
"Kan pemerintah (pusat) tidak ada larangan," kata Sultan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan DIY juga memastikan hingga 26 Januari 2020 belum ditemukan penderita pneumonia akibat Koronavirus jenis baru di Yogyakarta.
"Belum banyak terjadi pembatalan yang signifikan. Akan tetapi, jumlah permintaan pada bulan ini dan ke depan cukup lamban dibanding bulan sebelumnya," kata Ketua Asita DIY Udhi Sudiyanto di Yogyakarta, Selasa.
Baca juga: Pariwisata desa di Bantul Yogyakarta dorong pengembangan ekonomi masyarakat
Menurut dia, hal itu mengindikasikan bahwa wisatawan yang hendak melakukan perjalanan wisata masih menunggu perkembangan mengenai Koronavirus yang kasus utamanya terjadi di Kota Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
"Merebaknya virus Corona sangat mengkhawatirkan kami sebagai industri pariwisata. Kami salah satu industri yang cukup terdampak karena wisatawan untuk melakukan perjalanan pasti mencari keamanan dan kenyamanan, tanpa dihinggapi rasa khawatir," katanya.
Oleh sebab itu, Udhi berharap pemerintah atau pemangku kepentingan terkait dapat melakukan berbagai upaya untuk memastikan kenyamanan wisatawan datang ke Yogyakarta.
"Kami berharap pemerintah melakukan langkah-langkah kesiagaannya terhadap wisman, wisnus, dan masyarakat Yogyakarta sehingga mereka yang berwisata di Yogyakarta merasa nyaman," kata dia.
Meski di bandara Yogyakarta telah terpasang alat pengukur suhu tubuh (thermo scanner), dia berharap wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari negara yang terjangkit agar dicek kesehatannya secara lebih teliti.
"Perlu dicek oleh tim medis juga," kata Udhi.
Baca juga: Pelayanan jip wisata lava tour Merapi makin bagus
Khusus untuk wisman dari Tiongkok, Udhi berharap pemerintah lebih serius untuk menanganinya dengan memberikan pengawasan khusus, mulai kedatangan hingga kepulangan mereka. Tujuannya apabila terjadi kasus, bisa segera tertangani dengan benar dan cepat.
Ia mengakui bahwa pasar Tiongkok merupakan salah satu pasar yang besar bagi pariwisata Yogyakarta.
Meski demikian, kasus Koronavirus telah memengaruhi permintaan paket wisata dari turis asal Negeri Panda tersebut.
"Ini akan menjadi sebuah tantangan sendiri bagi kami karena dengan adanya kasus virus ini, Yogyakarta harus mencari pasar baru sebagai pasar pengganti," katanya.
Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak melarang wisatawan asal RRT berkunjung ke Yogyakarta di tengah merebaknya isu mengenai Koronavirus di negara tersebut.
Sultan berdalih pelarangan turis mancanegara khususnya yang berasal dari RRT masuk ke Indonesia merupakan wewenang pemerintah pusat.
Sementara itu, larangan resmi pemerintah hingga kini sebatas ditujukan untuk warga Indonesia yang hendak berkunjung ke Kota Wuhan, RRT.
"Kan pemerintah (pusat) tidak ada larangan," kata Sultan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan DIY juga memastikan hingga 26 Januari 2020 belum ditemukan penderita pneumonia akibat Koronavirus jenis baru di Yogyakarta.
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
ASITA Lampung sebut aksesibilitas ke daerah wisata perlu ditingkatkan
16 January 2024 14:45 WIB, 2024
ASITA Lampung sebut kondisi biro perjalanan wisata daerah mulai pulih
15 January 2024 17:39 WIB, 2024
Asita sebut jumlah wisatawan ke Sumbar saat libur Lebaran naik 200 persen
12 May 2022 6:10 WIB, 2022
ASITA sesalkan penghapusan cuti bersama akhir tahun meski bisa memahaminya
29 October 2021 13:44 WIB, 2021
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022