Kata pengamat penusukan Wiranto bukan "playing victim"
Jumat, 11 Oktober 2019 16:36 WIB
Pengamat Komuniskasi Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menepis kasus penusukan Wiranto sebagai playing victim. (ANTARA/Istimewa)
Jakarta (ANTARA) - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai insiden penusukan terhadap Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto bukan playing victim atau menempatkan diri sebagai korban dalam suatu permasalahan.
"Kalau ada sementara orang yang berpendapat itu playing victim, itu sama sekali tidak benar," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Baca juga: Kapolda Banten: Penusukan terhadap Wiranto di luar dugaan
Emrus mengaku sudah melihat langsung gambar dan video yang tersebar di berbagai media sosial maupun layar televisi. Namun, tidak ditemukan adanya unsur playing victim.
Artinya, kata dia, tidak benar jika mantan Panglima TNI tersebut seolah-olah dibuat sebagai korban untuk mencari simpatik, sehingga masyarakat diminta untuk lebih cerdas dan dewasa dalam memahami masalah.
"Jadi jika ada anggapan seperti itu, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar," ujar dia.
Baca juga: Menhan ingatkan bahaya ISIS itu nyata
Ia mengatakan, dilihat dari sudut lambang verbal maupun nonverbal sama sekali tidak mengarah adanya unsur playing victim atau seolah-olah sebagai korban.
Pandangan tersebut ia sampaikan karena mengkhawatirkan akan ada pro dan kontra di tengah masyarakat atas insiden yang menimpa Menko Polhukam tersebut.
"Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong aparat kepolisian mengusut tuntas terkait motif pelaku yang dengan terang-terangan menyerang Wiranto menggunakan benda tajam.
Baca juga: BIN: Penusuk Wiranto terkait lima orang ditangkap di Bekasi
Adanya sejumlah kalangan yang mencurigai kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto sebagai kejadian rekayasa, menurut pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini.
Oleh karena itu, lanjut Simon, sapaan akrabnya, perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.
"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon.
"Kalau ada sementara orang yang berpendapat itu playing victim, itu sama sekali tidak benar," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Baca juga: Kapolda Banten: Penusukan terhadap Wiranto di luar dugaan
Emrus mengaku sudah melihat langsung gambar dan video yang tersebar di berbagai media sosial maupun layar televisi. Namun, tidak ditemukan adanya unsur playing victim.
Artinya, kata dia, tidak benar jika mantan Panglima TNI tersebut seolah-olah dibuat sebagai korban untuk mencari simpatik, sehingga masyarakat diminta untuk lebih cerdas dan dewasa dalam memahami masalah.
"Jadi jika ada anggapan seperti itu, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar," ujar dia.
Baca juga: Menhan ingatkan bahaya ISIS itu nyata
Ia mengatakan, dilihat dari sudut lambang verbal maupun nonverbal sama sekali tidak mengarah adanya unsur playing victim atau seolah-olah sebagai korban.
Pandangan tersebut ia sampaikan karena mengkhawatirkan akan ada pro dan kontra di tengah masyarakat atas insiden yang menimpa Menko Polhukam tersebut.
"Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong aparat kepolisian mengusut tuntas terkait motif pelaku yang dengan terang-terangan menyerang Wiranto menggunakan benda tajam.
Baca juga: BIN: Penusuk Wiranto terkait lima orang ditangkap di Bekasi
Adanya sejumlah kalangan yang mencurigai kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto sebagai kejadian rekayasa, menurut pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini.
Oleh karena itu, lanjut Simon, sapaan akrabnya, perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.
"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Five known dead in Pasaman West Sumatra earthquake: Search And Rescue team
27 February 2022 5:59 WIB, 2022
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Gubernur DKI Jakarta sampaikan duka cita pada pengendara mobil yang tewas saat macet
23 January 2026 11:36 WIB