Panda Nababan nilai Aristides sosok wartawan berani berintegritas
Minggu, 29 September 2019 20:47 WIB
Politikus senior Panda Nababan bersama Judistira Katoppo, putra mendiang Aristides Katoppo di Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (29/9/2019). ANTARA/Zuhdiar Laeis
Jakarta (ANTARA) - Politikus senior Panda Nababan mengemukakan mendiang Aristides Katoppo, wartawan senior sekaligus pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai sosok yang berani dan berintegritas.
"Dia betul-betul wartawan profesional dan muridnya juga banyak. Wartawan tegas dan saya beruntung menjadi murid dia," katanya saat ditemui di Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Minggu.
Baca juga: Wartawan senior Aristides Katoppo meninggal dunia
Apalagi, kata dia, masa-masa Orde Baru memang sedemikian represif terhadap wartawan dan surat kabar yang bisa sewaktu-waktu dibredel.
"Karena situasi represif. Tidak boleh memuat berita yang mengkritik keluarga Cendana, tidak boleh memuat berita yang mengkritik ABRI, tidak boleh mengkritik anak-anak Soeharto," kata Panda yang juga wartawan senior.
Bahkan, surat kabar Sinar Harapan yang dipimpin Tides pernah dibredel Orde Baru pada 1980-an, namun kembali berdiri setelah Soeharto lengser.
Sebagai wartawan, Panda mengenang Tides sebagai pribadi yang tegas dan keras dan tidak ada istilahnya wartawan sampai tidak dapat berita.
"Waktu itu, banyak penugasan diberikan ke kita, hampir ga masuk di akal, tetapi bisa dikerjakan. Kalau sama wartawan itu tidak ada istilah berita tidak dapat," katanya.
Panda sempat bertemu dengan Tides sekitar dua bulan lalu membincangkan banyak hal, seputar perkembangan politik dan soal pers.
"Dia wartawan yang integritasnya tinggi, kualitasnya diakui. Dia generasi setelah Mochtar Lubis, Rosihan Anwar," katanya.
Jurnalis kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Maret 1938 yang dikenal berani pada era Orde Baru itu memiliki tiga anak dari perkawinan pertamanya.
Istri pertama dan dua anaknya sudah meninggal dunia. Tides kemudian menikah lagi dan memiliki dua anak tiri.
Aristides meninggal pada usia 81 tahun, Minggu, 29 September 2019, pukul 12.05 WIB di RS Abdi Waluyo. Jenazahnya saat ini disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto.
Rencananya, jenazah Tides dikremasi pada Selasa, 1 Oktober 2019, di Oasis Lestari, Tangerang, Banten.
"Dia betul-betul wartawan profesional dan muridnya juga banyak. Wartawan tegas dan saya beruntung menjadi murid dia," katanya saat ditemui di Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Minggu.
Baca juga: Wartawan senior Aristides Katoppo meninggal dunia
Apalagi, kata dia, masa-masa Orde Baru memang sedemikian represif terhadap wartawan dan surat kabar yang bisa sewaktu-waktu dibredel.
"Karena situasi represif. Tidak boleh memuat berita yang mengkritik keluarga Cendana, tidak boleh memuat berita yang mengkritik ABRI, tidak boleh mengkritik anak-anak Soeharto," kata Panda yang juga wartawan senior.
Bahkan, surat kabar Sinar Harapan yang dipimpin Tides pernah dibredel Orde Baru pada 1980-an, namun kembali berdiri setelah Soeharto lengser.
Sebagai wartawan, Panda mengenang Tides sebagai pribadi yang tegas dan keras dan tidak ada istilahnya wartawan sampai tidak dapat berita.
"Waktu itu, banyak penugasan diberikan ke kita, hampir ga masuk di akal, tetapi bisa dikerjakan. Kalau sama wartawan itu tidak ada istilah berita tidak dapat," katanya.
Panda sempat bertemu dengan Tides sekitar dua bulan lalu membincangkan banyak hal, seputar perkembangan politik dan soal pers.
"Dia wartawan yang integritasnya tinggi, kualitasnya diakui. Dia generasi setelah Mochtar Lubis, Rosihan Anwar," katanya.
Jurnalis kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Maret 1938 yang dikenal berani pada era Orde Baru itu memiliki tiga anak dari perkawinan pertamanya.
Istri pertama dan dua anaknya sudah meninggal dunia. Tides kemudian menikah lagi dan memiliki dua anak tiri.
Aristides meninggal pada usia 81 tahun, Minggu, 29 September 2019, pukul 12.05 WIB di RS Abdi Waluyo. Jenazahnya saat ini disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto.
Rencananya, jenazah Tides dikremasi pada Selasa, 1 Oktober 2019, di Oasis Lestari, Tangerang, Banten.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ambroncius Nababan ditetapkan tersangka kasus penyebaran konten rasis
26 January 2021 21:47 WIB, 2021
Putra Nababan nilai ANTARA relevan sebagai media referensi penangkal hoaks
27 August 2019 13:45 WIB, 2019
Terpopuler - Sekolah/Perguruan Tinggi
Lihat Juga
Disdik Lampung tingkatkan kemampuan akademik lalui pembiasaan soal berbasis HOTS
14 January 2026 20:21 WIB
Sekolah desa sebagai pusat peradaban, Dosen UM Kalianda lakukan pengabdian di Lampung Selatan
12 January 2026 14:50 WIB
Program FKUI kampus pertama peraih akreditasi internasional dari IAAHEH-INT
21 December 2025 10:11 WIB