Pengamat politik : Data "real count" BPN tidak proporsional
Kamis, 25 April 2019 19:15 WIB
Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo (kanan) dalam diskusi Publik "Mengungkap Fenomena Hoaks dan Upaya Delegitimasi Penghitungan Suara Pasca Pemilu Serentak 2019", di Jakarta, Kamis (25/4/2019). (Antara Foto/Syaiful Hakim)
Jakarta (ANTARA) - Pengamat politik dari Indonesia Public Institute, Karyono Wibowo menilai data "real count" Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang menyebut pasangan calon nomor urut 02 itu mendapat 62 persen suara tidak proporsional.
Karyono dalam diskusi Publik "Mengungkap Fenomena Hoaks dan Upaya Delegitimasi Penghitungan Suara Pasca-Pemilu Serentak 2019", di Jakarta, Kamis, mengaku telah melakukan penelitian terkait data perolehan kubu pasangan Prabowo-Sandi.
Dari hasil penelitiannya, kubu 02 telah mengolah data yang tidak proporsional sehingga menyebabkan adanya perbedaan hasil dengan penghitungan suara sementara KPU dan hasil hitung cepat lembaga survei.
"Ada klaim kemenangan 62 persen. Mereka mencoba untuk menunjukkan sebuah data, datanya adalah menurut mereka C1 yang masuk ke 'data center'. Ternyata setelah kita cek ada perbedaan data. Data yang masuk di 'data center' mereka tidak proporsional," ungkapnya.
Dirinya mencontohkan, dalam pengambilan data di Banten dan cara pengambilan sampel juga ternyata kurang proporsional. Data yang masuk ke kubu 02 pun hanya 0,6 persen.
"Kalau menurut proporsi KPU Banten itu 0,8 persen. Di DKI Jakarta, proporsi data yang masuk data center mereka 13,7 persen. Sementara proporsi data TPS di Jakarta hanya 3,6 persen," ucapnya.
Menurut Karyono, data yang tidak proporsional akan menyebabkan hasil penghitungan yang bias.
Sehingga, tidak heran terjadi perbedaan yang sangat signifikan antara hasil perhitungan suara kubu 02 dengan data dari sejumlah lembaga survei kredibel.
"Kesimpulannya adalah data yang ditampilkan kubu Prabowo- Sandi yang diklaim 62 persen itu datanya tidak proporsional, sehingga datanya pasti bias," tuturnya.
Karyono dalam diskusi Publik "Mengungkap Fenomena Hoaks dan Upaya Delegitimasi Penghitungan Suara Pasca-Pemilu Serentak 2019", di Jakarta, Kamis, mengaku telah melakukan penelitian terkait data perolehan kubu pasangan Prabowo-Sandi.
Dari hasil penelitiannya, kubu 02 telah mengolah data yang tidak proporsional sehingga menyebabkan adanya perbedaan hasil dengan penghitungan suara sementara KPU dan hasil hitung cepat lembaga survei.
"Ada klaim kemenangan 62 persen. Mereka mencoba untuk menunjukkan sebuah data, datanya adalah menurut mereka C1 yang masuk ke 'data center'. Ternyata setelah kita cek ada perbedaan data. Data yang masuk di 'data center' mereka tidak proporsional," ungkapnya.
Dirinya mencontohkan, dalam pengambilan data di Banten dan cara pengambilan sampel juga ternyata kurang proporsional. Data yang masuk ke kubu 02 pun hanya 0,6 persen.
"Kalau menurut proporsi KPU Banten itu 0,8 persen. Di DKI Jakarta, proporsi data yang masuk data center mereka 13,7 persen. Sementara proporsi data TPS di Jakarta hanya 3,6 persen," ucapnya.
Menurut Karyono, data yang tidak proporsional akan menyebabkan hasil penghitungan yang bias.
Sehingga, tidak heran terjadi perbedaan yang sangat signifikan antara hasil perhitungan suara kubu 02 dengan data dari sejumlah lembaga survei kredibel.
"Kesimpulannya adalah data yang ditampilkan kubu Prabowo- Sandi yang diklaim 62 persen itu datanya tidak proporsional, sehingga datanya pasti bias," tuturnya.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub Lampung serukan peningkatan peran perempuan di birokrasi dan politik
05 December 2025 17:27 WIB
Ditjenpas sebut sanksi hak politik Setnov dicabut ketika bebas murni di 2029
17 August 2025 21:36 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Gubernur DKI Jakarta sampaikan duka cita pada pengendara mobil yang tewas saat macet
23 January 2026 11:36 WIB