KPU disarankan gandeng praktisi TI "underground"
Minggu, 21 April 2019 0:28 WIB
Ketua KPU RI Arief Budiman (kanan) saat melakukan konferensi pers tentang proses penghitungan suara Pemilu 2019 di Ruang Pusat Informasi KPU RI di Jakarta, Sabtu (20/4/2019). (Foto: ANTARA/Sugiharto Purnama).
Semarang (ANTARA) - Pakar teknologi informasi (TI) Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Solichul Huda menyarankan Komisi Pemilihan Umum menggandeng praktisi TI "underground" untuk membantu mendukung pengamanan server yang digunakan dalam penghitungan suara pemilu.
"KPU harus percaya terhadap kemampuan sumber daya manusia dari dalam negeri untuk membantu mengamankan hasil perhitungan pemilu," katanya di Semarang, Minggu.
Dari analisa yang dilakukan usai pelaksanaan pemungutan suara 17 April 2019, ia mengungkapkan adanya belasan "hacker" yang berusaha meretas laman KPU.
Para "hacker" tersebut, kata dia, terdeteksi berasal dari luar negeri jika dilihat dari alamat IP yang digunakan.
"Bisa ditelusuri lebih lanjut dari mana sebenarnya asal para peretas ini, namun membutuhkan waktu," katanya.
Alamat IP yang digunakan para "hacker" tersebut antara lain berasal dari India, Tiongkok, dan Singapura.
Menurut dia, dengan melibatkan para praktisi TI "underground" ini tentunya akan memudahkan KPU dalam menyajikan hasil penghitungan suara.
Ia menjelaskan SDM dari dalam negeri ini mampu dipercaya dan bertanggung jawab jika diberi amanah untuk membantu.
"Praktisi 'underground' ini kan memahami cara-cara bekerja pada 'hacker' yang berusaha meretas serve KPU," katanya.
Hingga saat ini, kata dia, server KPU masih mampu mengatasi berbagai upaya peretasan yang dilakukan.
Menurut dia, kunci kesuksesan itu ada pada administrator yang ada di balik layar TI KPU.
"KPU harus percaya terhadap kemampuan sumber daya manusia dari dalam negeri untuk membantu mengamankan hasil perhitungan pemilu," katanya di Semarang, Minggu.
Dari analisa yang dilakukan usai pelaksanaan pemungutan suara 17 April 2019, ia mengungkapkan adanya belasan "hacker" yang berusaha meretas laman KPU.
Para "hacker" tersebut, kata dia, terdeteksi berasal dari luar negeri jika dilihat dari alamat IP yang digunakan.
"Bisa ditelusuri lebih lanjut dari mana sebenarnya asal para peretas ini, namun membutuhkan waktu," katanya.
Alamat IP yang digunakan para "hacker" tersebut antara lain berasal dari India, Tiongkok, dan Singapura.
Menurut dia, dengan melibatkan para praktisi TI "underground" ini tentunya akan memudahkan KPU dalam menyajikan hasil penghitungan suara.
Ia menjelaskan SDM dari dalam negeri ini mampu dipercaya dan bertanggung jawab jika diberi amanah untuk membantu.
"Praktisi 'underground' ini kan memahami cara-cara bekerja pada 'hacker' yang berusaha meretas serve KPU," katanya.
Hingga saat ini, kata dia, server KPU masih mampu mengatasi berbagai upaya peretasan yang dilakukan.
Menurut dia, kunci kesuksesan itu ada pada administrator yang ada di balik layar TI KPU.
Pewarta : Immanuel Citra Senjaya
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ganjar Pranowo ziarah ke makam KH Khoer Affandi pendiri Ponpes Miftahul Huda
10 October 2023 10:23 WIB, 2023
Anies dan Cak Imin pilih Surabaya jadi langkah awal menangi Pilpres 2024
02 September 2023 13:32 WIB, 2023
Kejati Lampung minta santri tak takut laporkan pengasuh yang melakukan pelanggaran
06 April 2023 17:23 WIB, 2023
Penjabat Bupati Pringsewu resmikan Pondok Pesantren Nurul Huda II Asshohibby
09 March 2023 15:58 WIB, 2023
Wabup Pringsewu hadiri pengajian tabligh akbar pembangunan musholla Al-Huda
04 October 2021 8:28 WIB, 2021
Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Barat kunjungi Pondok Pesantren Nurul Huda
04 May 2021 15:16 WIB, 2021
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Seratusan ikan keramat di Cigugur mati, Pemkab Kuningan selidiki penyebabnya
02 February 2026 16:07 WIB
Pewarta foto ANTARA rilis buku "Orang -Orang Bermata biru dari Minangkabau"
01 February 2026 11:46 WIB