Jonan mengaku tidak mampu beli mobil listrik benarkah?
Kamis, 29 November 2018 15:17 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan (Foto: HO/ist)
Jakarta(Antaranews Lampung) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku tidak mampu membeli mobil listrik pribadi, karena mahal dan gajinya tidak cukup untuk itu.
"Saya disuruh jadi contoh dulu untuk memiliki mobil listrik. Lha bagaimana, harganya masih sekitar Rp5 miliar untuk sejenis Mercy S Class dari Tesla kalau impor. Tidak cukup gaji saya," canda Jonan dalam acara Pertamina Energy Forum 2018 di Jakarta, Kamis.
Namun, Jonan mengakui telah memiliki motor listrik senilai Rp15 juta. Setidaknya, menurut dia, itu menjadi langkah mengawali era kendaraan listrik.
Menurut dia, mahalnya kendaraan listrik di Indonesia juga menjadi kendala untuk memulai era elektrifikasi otomotif.
Ia mengatakan produksi dan pasar kendaraan listrik akan mungkin menjadi masif apabila ada dukungan pemerintah berupa pemberian insentif dalam pengembang mobil listrik di Indonesia.
Selain itu, kata dia, tentu saja juga perlu didukung infrastruktur SPBU listrik yang sudah banyak tersedia di beberapa daerah.
Sedangkan, jika era kendaraan listrik tidak dimulai, maka pada tahun 2025 diperkirakan impor minyak dan gas bumi bisa dua kali lipat.
"Gini saja, tidak perlu beli kendaraan listrik sekarang. Pakai saja kompor listrik, kan sudah murah, juga sekarang banyak dijual, itu sudah mengurangi gas," katanya.
Pengembangan kendaraan listrik adalah salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi beban impor migas, selain untuk mengurangi emisi gas buang.
"Saya disuruh jadi contoh dulu untuk memiliki mobil listrik. Lha bagaimana, harganya masih sekitar Rp5 miliar untuk sejenis Mercy S Class dari Tesla kalau impor. Tidak cukup gaji saya," canda Jonan dalam acara Pertamina Energy Forum 2018 di Jakarta, Kamis.
Namun, Jonan mengakui telah memiliki motor listrik senilai Rp15 juta. Setidaknya, menurut dia, itu menjadi langkah mengawali era kendaraan listrik.
Menurut dia, mahalnya kendaraan listrik di Indonesia juga menjadi kendala untuk memulai era elektrifikasi otomotif.
Ia mengatakan produksi dan pasar kendaraan listrik akan mungkin menjadi masif apabila ada dukungan pemerintah berupa pemberian insentif dalam pengembang mobil listrik di Indonesia.
Selain itu, kata dia, tentu saja juga perlu didukung infrastruktur SPBU listrik yang sudah banyak tersedia di beberapa daerah.
Sedangkan, jika era kendaraan listrik tidak dimulai, maka pada tahun 2025 diperkirakan impor minyak dan gas bumi bisa dua kali lipat.
"Gini saja, tidak perlu beli kendaraan listrik sekarang. Pakai saja kompor listrik, kan sudah murah, juga sekarang banyak dijual, itu sudah mengurangi gas," katanya.
Pengembangan kendaraan listrik adalah salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi beban impor migas, selain untuk mengurangi emisi gas buang.
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden utus Jokowi, Jonan, Pigai, Thomas Djiwandono ke pemakaman Paus di Vatikan
23 April 2025 14:07 WIB
Pakar tegaskan CEO kunci keberhasilan transformasi kultur digital era disrupsi
21 August 2021 6:07 WIB, 2021
Penurunan permukaan tanah di kawasan nonpipanisasi Jakarta, ini kata Anies
16 October 2019 6:05 WIB, 2019
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Mulai Februari, penerbangan internasiol melalui Bandara Radin Inten Lampung
14 January 2019 10:31 WIB, 2019
KAI sediakan tiket angkutan terusan rute kertapati-tanjungkarang-gambir
14 December 2018 13:39 WIB, 2018