Anggota DPD: Data BPS jadi acuan kebijakan
Jumat, 5 Agustus 2016 6:44 WIB
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Lampung Andi Surya. (Foto ANTARA Lampung/ist)
Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Data Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung menjadi acuan kebijakan pemerintah dan institusi terkait lainnya, termasuk data tentang kemiskinan, kata anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Lampung Andi Surya.
Menurut Andi yang juga doktor di bidang ilmu ekonomi, dalam kunjungan dan pertemuan dengan pimpinan dan pejabat struktural di BPS Lampung, Bandarlampung, Kamis (4/8), berdasarkan acuan data BPS tersebut, semua pihak dapat menggunakannya agar bisa berbuat lebih baik lagi ke depan.
"Data BPS signifikan dan menjadi acuan di Provinsi Lampung," ujar dia lagi.
Menurut dia, Lampung setiap tahun mengalami peningkatan dana transfer ke daerah. Namun, tingkat kemiskinan tidak lebih baik.
Informasi yang didapatkan dari BPS, survei yang berkenaan dengan angka kemiskinan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Dari data yang didapatkan, angka kemiskinan selalu mengalami penurunan. Akan tetapi, turunnya landai.
Salah satu poin yang dapat diambil, menurut Andi, adalah memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini harus memacu sektor industri.
"Secara parsial, infrastruktur sangat bagus, puskesmas dan SD ada di setiap desa. Akan tetapi, tidak ada korelasi dengan penurunan tingkat kemiskinan individu yang ada di Lampung secara umum," ujarnya lagi.
Angka kemiskinan Lampung dari penghitungan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016 mencapai 14,29 persen. Dibandingkan kondisi semester sebelumnya (September 2015), angka kemiskinan Lampung mengalami penaikan 0,76 poin dari 13,53 persen.
Menurut Kepala BPS Provinsi Lampung Yeane Irmaningrum S. kepada Andi Surya, jajarannya memiliki 70 pegawai dengan lima kepala bidang dan seorang kepala bagian.
Yeane menyampaikan ada tiga sensus yang dilakukan oleh BPS setiap 10 tahun sekali, yaitu sensus ekonomi, sensus pertanian, dan sensus penduduk.
Terkait dengan survei, kata dia, ada beberapa survei yang dilakukan oleh lembaganya, di antaranya survei sosial ekonomi nasional (Maret dan September). Survei ini dapat menghitung angka kemiskinan.
Berikutnya, survei tenaga kerja (Februari dan Agustus), survei industri besar dan sedang (baik bulanan, triwulan, dan tahunan).
Terkait dengan data yang diperoleh, beberapa hal yang dilakukan BPS, menurut Yeane, sosialisasi yang terjadwal dan merilis data yang telah diperoleh.
"Setiap bulan ada dua kali rilis yang menghadirkan juga instansi terkait pengguna data. Setelah dirilis, data yang ada dapat digunakan untuk ditindaklanjuti oleh berbagai pihak," ujar dia pula. (Ant)
Menurut Andi yang juga doktor di bidang ilmu ekonomi, dalam kunjungan dan pertemuan dengan pimpinan dan pejabat struktural di BPS Lampung, Bandarlampung, Kamis (4/8), berdasarkan acuan data BPS tersebut, semua pihak dapat menggunakannya agar bisa berbuat lebih baik lagi ke depan.
"Data BPS signifikan dan menjadi acuan di Provinsi Lampung," ujar dia lagi.
Menurut dia, Lampung setiap tahun mengalami peningkatan dana transfer ke daerah. Namun, tingkat kemiskinan tidak lebih baik.
Informasi yang didapatkan dari BPS, survei yang berkenaan dengan angka kemiskinan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Dari data yang didapatkan, angka kemiskinan selalu mengalami penurunan. Akan tetapi, turunnya landai.
Salah satu poin yang dapat diambil, menurut Andi, adalah memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini harus memacu sektor industri.
"Secara parsial, infrastruktur sangat bagus, puskesmas dan SD ada di setiap desa. Akan tetapi, tidak ada korelasi dengan penurunan tingkat kemiskinan individu yang ada di Lampung secara umum," ujarnya lagi.
Angka kemiskinan Lampung dari penghitungan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016 mencapai 14,29 persen. Dibandingkan kondisi semester sebelumnya (September 2015), angka kemiskinan Lampung mengalami penaikan 0,76 poin dari 13,53 persen.
Menurut Kepala BPS Provinsi Lampung Yeane Irmaningrum S. kepada Andi Surya, jajarannya memiliki 70 pegawai dengan lima kepala bidang dan seorang kepala bagian.
Yeane menyampaikan ada tiga sensus yang dilakukan oleh BPS setiap 10 tahun sekali, yaitu sensus ekonomi, sensus pertanian, dan sensus penduduk.
Terkait dengan survei, kata dia, ada beberapa survei yang dilakukan oleh lembaganya, di antaranya survei sosial ekonomi nasional (Maret dan September). Survei ini dapat menghitung angka kemiskinan.
Berikutnya, survei tenaga kerja (Februari dan Agustus), survei industri besar dan sedang (baik bulanan, triwulan, dan tahunan).
Terkait dengan data yang diperoleh, beberapa hal yang dilakukan BPS, menurut Yeane, sosialisasi yang terjadwal dan merilis data yang telah diperoleh.
"Setiap bulan ada dua kali rilis yang menghadirkan juga instansi terkait pengguna data. Setelah dirilis, data yang ada dapat digunakan untuk ditindaklanjuti oleh berbagai pihak," ujar dia pula. (Ant)
Pewarta : Budisantoso Budiman
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Anggota Komisi IV DPR Rycko serahkan bantuan hewan kurban ke DPD Golkar Pesawaran
26 May 2026 21:52 WIB
Senator asal Lampung serahkan bantuan traktor ke petani di Lampung Tengah
18 March 2025 15:52 WIB, 2025
Anggota DPD Bustami Zainudin apresiasi percepatan pengangkatan CASN dan P3K
17 March 2025 15:12 WIB, 2025
Anggota DPD Bustami Zainudin: Pemerintah perlu beri edukasi petani hilirisasi komoditas
13 February 2025 20:18 WIB, 2025
Anggota DPD minta pabrik pengolahan singkong harus berpihak ke petani
04 February 2025 10:34 WIB, 2025
Anggota DPD RI sebut ada 28 desa di Lampung yang belum teraliri listrik
25 November 2024 16:29 WIB, 2024