AEKI Harapkan Perajin Kopi Luwak Tingkatkan Produksi
Selasa, 12 April 2016 8:14 WIB
Ilustrasi. Petani meratakan biji kopi di Negeri Ujan Emas, Gununglabuhan, Waykanan, Lampung. (FOTO ANTARA/Gatot Arifianto)
Bandarlampung, (ANTARA Lampung) - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Lampung mengharapkan para perajin kopi luwak di daerah itu meningkatkan produksi dan mutunya karena hingga saat ini permintaan kopi kategori premium tersebut tetap tinggi.
"Perajin kopi luwak Lampung dapat meningkatkan produksi maupun mutu, termasuk mencari pangsa ekspor sehingga permintaan atas kopi premium itu tinggi," kata Ketua Kompartemen Renlitbang AEKI Lampung Muchtar Lutfie di Bandarlampung, Selasa.
Selain itu, katanya, peran pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk mempromosikan kopi bernilai jual tinggi tersebut ke sejumlah negara, antara lain melalui pameran dan penyebaran pamflet.
Dia mengakui hingga saat ini ekspor kopi luwak dari Provinsi Lampung masih rendah mengingat produksi dan mutunya yang terus menurun.
Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, katanya, ekspor kopi luwak pada Maret 2016 hanya senilai 225 dolar Amerika Serikat dengan volume 0,005 ton.
Berdasarkan data itu, perajin kopi luwak Lampung masih kalah dengan produksi sejenis dari daerah lain, seperti di Jawa Timur.
Sejumlah perajin kopi luwak di Kabupaten Lampung Barat mengaku permintaan atas kopi kategori premium tersebut masih tinggi, meskipun kopi luwak juga diproduksi di daerah lainnya di Indonesia.
"Permintaan atas kopi luwak Lampung masih tinggi, namun saingannya makin berat karena kopi luwak tak hanya diproduksi di wilayah Lampung," kata salah satu pengusaha kopi luwak, Gunawan, di Liwa Kabupaten Lampung Barat, sekitar 246 km barat Bandarlampung, beberapa waktu lalu.
Ia menyebutkan harga kopi luwak di Liwa mencapai Rp600.000/kg, namun harganya bisa turun jadi Rp500.000/kg jika pembelian dalam partai besar. Harga kopi premium itu di Bandarlampung mencapai Rp700.000/kg dan di Jakarta mencapai Rp1,2 juta/kg.
Menurut dia, mereka sejauh ini masih sulit mengekspor kopi luwak, dan sebagian dari mereka belum berhasil didapatkan sertifikasi mutu untuk ekspor kopi luwak.
"Kami tak tahu cara mengekspor, semestinya pemerintah membantu kami. Dalam hal mutu, pemerintah semestinya membantu menentukan standar melalui sertifikasi," katanya.
Ia menyebutkan produksi kopi luwak di Liwa dilaksanakan di rumah-rumah warga sehingga mereka perlu diberikan penyuluhan yang kontinyu tentang cara tepat memproduksi kopi luwak yang berkualitas ekspor.
"Pemerintah daerah seharusnya giat terus membantu kami dalam memproduksi dan memasarkan kopi luwak, karena kopi sejenis ini juga diproduksi di daerah lainnya. Kalau perajin tak dibantu, dikhawatirkan Lampung bukan lagi sebagai penghasil utama kopi luwak. Padahal kopi luwak adalah ikon Lampung," katanya. ***3***
"Perajin kopi luwak Lampung dapat meningkatkan produksi maupun mutu, termasuk mencari pangsa ekspor sehingga permintaan atas kopi premium itu tinggi," kata Ketua Kompartemen Renlitbang AEKI Lampung Muchtar Lutfie di Bandarlampung, Selasa.
Selain itu, katanya, peran pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk mempromosikan kopi bernilai jual tinggi tersebut ke sejumlah negara, antara lain melalui pameran dan penyebaran pamflet.
Dia mengakui hingga saat ini ekspor kopi luwak dari Provinsi Lampung masih rendah mengingat produksi dan mutunya yang terus menurun.
Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, katanya, ekspor kopi luwak pada Maret 2016 hanya senilai 225 dolar Amerika Serikat dengan volume 0,005 ton.
Berdasarkan data itu, perajin kopi luwak Lampung masih kalah dengan produksi sejenis dari daerah lain, seperti di Jawa Timur.
Sejumlah perajin kopi luwak di Kabupaten Lampung Barat mengaku permintaan atas kopi kategori premium tersebut masih tinggi, meskipun kopi luwak juga diproduksi di daerah lainnya di Indonesia.
"Permintaan atas kopi luwak Lampung masih tinggi, namun saingannya makin berat karena kopi luwak tak hanya diproduksi di wilayah Lampung," kata salah satu pengusaha kopi luwak, Gunawan, di Liwa Kabupaten Lampung Barat, sekitar 246 km barat Bandarlampung, beberapa waktu lalu.
Ia menyebutkan harga kopi luwak di Liwa mencapai Rp600.000/kg, namun harganya bisa turun jadi Rp500.000/kg jika pembelian dalam partai besar. Harga kopi premium itu di Bandarlampung mencapai Rp700.000/kg dan di Jakarta mencapai Rp1,2 juta/kg.
Menurut dia, mereka sejauh ini masih sulit mengekspor kopi luwak, dan sebagian dari mereka belum berhasil didapatkan sertifikasi mutu untuk ekspor kopi luwak.
"Kami tak tahu cara mengekspor, semestinya pemerintah membantu kami. Dalam hal mutu, pemerintah semestinya membantu menentukan standar melalui sertifikasi," katanya.
Ia menyebutkan produksi kopi luwak di Liwa dilaksanakan di rumah-rumah warga sehingga mereka perlu diberikan penyuluhan yang kontinyu tentang cara tepat memproduksi kopi luwak yang berkualitas ekspor.
"Pemerintah daerah seharusnya giat terus membantu kami dalam memproduksi dan memasarkan kopi luwak, karena kopi sejenis ini juga diproduksi di daerah lainnya. Kalau perajin tak dibantu, dikhawatirkan Lampung bukan lagi sebagai penghasil utama kopi luwak. Padahal kopi luwak adalah ikon Lampung," katanya. ***3***
Pewarta : Agus WS
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa KKN Tematik 23 Itera olah limbah kulit kopi jadi kerupuk cascara
12 February 2026 17:35 WIB
Pemkab Tanggamus dan Rainforest Alliance bagikan bibit kopi untuk pemulihan lingkungan
28 January 2026 15:16 WIB
Mentan sebut Rp9,9 triliun disiapkan untuk hilirisasi kelapa hingga kakao
20 September 2025 22:47 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Mulai Februari, penerbangan internasiol melalui Bandara Radin Inten Lampung
14 January 2019 10:31 WIB, 2019
KAI sediakan tiket angkutan terusan rute kertapati-tanjungkarang-gambir
14 December 2018 13:39 WIB, 2018